Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ingat! Jangan Katakan 5 Hal Ini Pada Korban Kekerasan Seksual

4 min read
Ingat! Jangan Katakan 5 Hal Ini Pada Korban Kekerasan Seksual
ilustrasi curhat ke teman (pexels.com/a-darme)
  • Respons awal saat korban kekerasan seksual bercerita sangat penting; ucapan yang menyalahkan atau mempermalukan dapat membuat mereka semakin enggan terbuka.
  • Jangan mempertanyakan perlawanan korban, lokasi, pakaian, waktu bercerita, atau keakuratan ingatannya karena hal itu mengalihkan tanggung jawab dari pelaku.
  • Dengarkan tanpa memaksa detail atau menyuruh korban melupakan pengalaman; akui perasaannya, hormati keputusannya, dan tawarkan pendampingan mencari dukungan profesional bila diminta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketika seseorang bercerita bahwa dirinya mengalami kekerasan seksual, respons pertama dari orang di sekitarnya bisa sangat berarti. Sayangnya, niat untuk menghibur atau memberikan solusi terkadang justru membuat korban merasa disalahkan, dipermalukan, atau semakin enggan bercerita. Tidak semua orang tahu harus berkata apa dalam situasi seperti ini, apalagi ketika mendengar cerita yang berat dan emosional.

Kekerasan seksual bukan pengalaman yang mudah untuk diceritakan. Bagi sebagian korban, dibutuhkan keberanian besar untuk akhirnya membuka cerita kepada orang lain. Karena itu, respons yang diberikan sebaiknya tidak membuat mereka merasa harus membela diri atas sesuatu yang bukan kesalahan mereka. Meskipun niatmu baik, lima ucapan ini sebaiknya tidak kamu katakan, ya!

  1. 1. Kenapa kamu gak melawan?

    Berbicara, Orang Tua
    ilustrasi berbicara dengan orang tua (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Pertanyaan seperti ini sering muncul karena orang membayangkan bahwa seseorang yang mengalami kekerasan seksual seharusnya melawan secara fisik. Padahal, respons seseorang ketika menghadapi situasi yang mengancam bisa berbeda-beda. Ada orang yang berusaha melawan, berteriak, melarikan diri, meminta pertolongan, atau mencari kesempatan untuk menyelamatkan diri.

    Namun, ada pula yang justru diam, membeku, atau kesulitan melakukan apa pun. Respons tersebut bukan berarti korban menyetujui kejadian yang dialaminya. Ketika seseorang berada dalam situasi yang menakutkan, tubuh dapat memberikan respons otomatis terhadap ancaman. Karena itu, tidak tepat menjadikan kemampuan melawan sebagai ukuran apakah seseorang benar-benar mengalami kekerasan seksual atau tidak.

  2. 2. Kenapa kamu ada di sana?

    Cat calling
    ilustrasi cat calling (pexels.com/keira-burton)

    Pertanyaan mengenai tempat, pakaian, waktu, atau aktivitas korban sering jadi kedok kekhawatiran. Misalnya, "Kenapa malam-malam masih di luar?", "Kenapa kamu pergi sendirian?", atau "Kenapa pakai baju seperti itu?". Masalahnya, pertanyaan tersebut dapat menggeser fokus dari tindakan pelaku kepada perilaku korban.

    Tidak ada pakaian, lokasi, waktu, atau aktivitas yang membuat seseorang pantas mendapatkan kekerasan seksual. Tanggung jawab atas tindakan kekerasan tetap berada pada orang yang melakukan tindakan tersebut. Pertanyaan semacam ini bisa membuat korban merasa bahwa dirinya turut bertanggung jawab atas kekerasan yang dialaminya.

  3. 3. Kok baru cerita sekarang?

    Teman sedang bersedih
    ilustrasi teman bersedih (pexels.com/rdne)

    Waktu seseorang menceritakan pengalaman kekerasan seksual tidak selalu sama. Ada yang langsung bercerita, tapi ada juga yang membutuhkan waktu lama sebelum mengungkapkannya. Alasan menunda cerita juga bisa sangat beragam. Mereka mungkin takut tidak dipercaya, malu, khawatir mendapatkan stigma, takut terhadap pelaku, bingung, atau belum siap menghadapi reaksi orang lain.

    Karena itu, mempertanyakan mengapa korban baru bercerita sekarang justru dapat membuat mereka merasa bersalah karena gak segera cerita. Tidak ada tenggat waktu yang menentukan kapan seseorang "seharusnya" bercerita tentang pengalaman traumatis. Jika seseorang akhirnya memilih untuk membuka cerita kepadamu, hal yang lebih penting adalah bagaimana kamu meresponsnya.

  4. 4. Kamu yakin gak salah ingat?

    Sedih
    ilustrasi sedih (pexels.com/polina zimmerman)

    Meragukan cerita korban mungkin dilakukan karena kamu merasa perlu mengetahui seluruh fakta terlebih dahulu. Namun, kalimat seperti "Kamu yakin?", "Jangan-jangan kamu salah paham," atau "Mungkin dia gak bermaksud begitu" dapat membuat korban merasa ceritanya tidak dianggap serius.

    Apalagi jika kalimat tersebut disampaikan ketika korban sedang berada dalam kondisi rentan. Mendengarkan bukan berarti kamu harus langsung mengambil alih keputusan atau melakukan tindakan atas nama korban. Kamu bisa tetap menghargai ceritanya sambil menyadari bahwa kamu mungkin belum mengetahui seluruh konteks kejadian.

  5. 5. Udah, jangan dipikirin terus!

    Kesedihan, kegagalan
    ilustrasi kesedihan (pexels.com/ Timur Weber)

    Kalimat ini biasanya keluar karena seseorang ingin melihat orang yang disayanginya kembali baik-baik saja. Namun, pengalaman kekerasan seksual bukan sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan berhenti memikirkannya. Korban pasti membutuhkan waktu untuk memproses apa yang terjadi.

    Setiap orang memiliki proses yang berbeda, sehingga tidak ada durasi pasti untuk kembali merasa aman atau nyaman. Dukungan yang lebih baik adalah mengakui bahwa apa yang mereka rasakan memang berat. Kamu tidak perlu memaksa mereka segera kembali seperti biasa. Jika korban meminta bantuan, kamu bisa menawarkan untuk menemani mencari dukungan profesional.

    Merespons cerita tentang kekerasan seksual memang tidak selalu mudah. Kalau seseorang memilih bercerita kepadamu, dengarkan tanpa menyalahkan, jangan memaksa mereka memberikan detail, dan hormati keputusan yang mereka ambil, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More