Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Masalah Kulit karena Cara Salah Gunakan Retinol Layering dan Barrier

ilustrasi skincare retinol (freepik.com/lesyamyzik)
ilustrasi skincare retinol (freepik.com/lesyamyzik)
Intinya sih...
  • Kulit menjadi kering berlebihan dan terasa ketarik setelah menggunakan retinol
  • Muncul kemerahan dan rasa perih yang berkepanjangan akibat penggunaan retinol tanpa penyangga kelembapan
  • Breakout akibat skin barrier yang terganggu karena layering retinol yang terlalu agresif
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Retinol dikenal sebagai salah satu active ingredient yang efektif untuk memperbaiki tekstur kulit, mengatasi jerawat, dan memperlambat tanda penuaan. Namun, di balik manfaatnya, retinol juga termasuk bahan yang cukup menantang jika gak digunakan dengan tepat.

Banyak orang tergiur hasil cepat tanpa benar-benar memahami cara layering dan pentingnya barrier repair. Akibatnya, kulit justru mengalami berbagai masalah yang gak diinginkan. Retinol yang seharusnya membantu justru menjadi sumber masalah baru.

Kesalahan paling sering bukan hanya pada pilihan produknya, tetapi pada cara pemakaian dan urutan skincare. Layering yang kurang tepat serta pengabaian kondisi skin barrier membuat kulit bekerja terlalu keras.

Tanda-tanda, seperti perih, kemerahan, dan breakout sering dianggap wajar. Padahal, itu bisa menjadi sinyal bahwa kulit sedang gak baik-baik saja. Inilah enam masalah kulit yang sering muncul akibat cara salah menggunakan retinol, terutama dalam hal layering dan barrier repair.

1. Kulit menjadi kering berlebihan dan terasa ketarik

ilustrasi wajah kusam
ilustrasi wajah kusam (freepik.com/freepik)

Salah satu masalah paling umum adalah kulit terasa sangat kering setelah menggunakan retinol. Hal ini sering terjadi karena retinol langsung diaplikasikan tanpa mempertimbangkan kondisi kelembapan kulit. Layering yang terlalu minim membuat kulit kehilangan perlindungan alaminya. Akibatnya, air di dalam kulit lebih mudah menguap. Kulit pun terasa seperti ditarik dan gak nyaman.

Kondisi ini sering diperparah dengan pemilihan produk pendukung yang kurang tepat. Moisturizer yang terlalu ringan gak mampu mengimbangi efek aktif retinol. Barrier repair yang diabaikan membuat kulit semakin rentan. Sebab, dalam jangka panjang, kulit bisa menjadi lebih sensitif. Masalah ini sering dianggap sepele, padahal bisa memicu gangguan lain.

2. Muncul kemerahan dan rasa perih yang berkepanjangan

ilustrasi kulit wajah bermasalah
ilustrasi kulit wajah bermasalah (pexels.com/Anna Nekrashevich)

Kemerahan dan rasa perih sering dianggap sebagai tanda kulit sedang beradaptasi. Namun, jika berlangsung lama, itu bisa menjadi masalah serius. Retinol yang dilayer tanpa penyangga kelembapan dapat mengiritasi kulit. Terutama jika langsung dikombinasikan dengan active ingredient lain. Kulit menjadi mudah bereaksi dan tampak meradang.

Tanpa barrier repair yang memadai, kulit kehilangan kemampuan menenangkan dirinya. Lapisan pelindung kulit melemah dan sulit pulih. Akibatnya, rasa perih muncul bahkan saat menggunakan produk dasar. Kondisi ini membuat rutinitas skincare terasa gak nyaman. Kulit pun membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali stabil.

3. Breakout akibat skin barrier yang terganggu

ilustrasi seseorang dengan jerawat
ilustrasi seseorang dengan jerawat (pexels.com/Anna Nekrashevich)

Gak semua jerawat setelah retinol adalah purging. Banyak kasus breakout justru muncul karena skin barrier yang rusak. Layering retinol yang terlalu agresif membuat kulit stres. Produksi minyak bisa meningkat sebagai bentuk kompensasi. Pori-pori pun lebih mudah tersumbat.

Barrier repair yang gak optimal memperparah kondisi ini. Kulit yang seharusnya terlindungi justru lebih rentan terhadap bakteri. Jerawat yang muncul sering terasa nyeri dan meradang. Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai proses adaptasi biasa. Padahal, kulit sedang membutuhkan jeda dan perbaikan.

4. Kulit menjadi lebih sensitif terhadap produk lain

ilustrasi seseorang memakai skincare
ilustrasi seseorang memakai skincare (freepik.com/freepik)

Masalah lain yang sering muncul adalah meningkatnya sensitivitas kulit. Produk yang sebelumnya aman tiba-tiba terasa perih. Ini bisa terjadi karena retinol melemahkan lapisan pelindung kulit jika gak dilayer dengan benar. Barrier yang rusak membuat kulit sulit mentoleransi produk lain. Akibatnya, rutinitas skincare menjadi sangat terbatas.

Sensitivitas ini sering membuat orang bingung dan frustrasi. Banyak produk akhirnya dihentikan tanpa mengetahui penyebab utamanya. Padahal, masalahnya bukan pada semua produk tersebut. Cara penggunaan retinol-lah yang perlu dievaluasi. Dengan barrier repair yang tepat, sensitivitas ini sebenarnya bisa dicegah.

5. Tekstur kulit terasa kasar dan gak merata

ilustrasi kulit wajah bermasalah
ilustrasi kulit wajah bermasalah (pexels.com/Ron Lach)

Alih-alih halus, kulit justru terasa kasar setelah pemakaian retinol yang gak tepat. Hal ini sering terjadi karena eksfoliasi berjalan terlalu cepat. Layering yang salah membuat kulit gak punya waktu untuk memperbaiki diri. Sel kulit mati terkelupas, tetapi regenerasi gak berjalan seimbang. Akibatnya, tekstur kulit terasa gak rata.

Tanpa dukungan barrier repair, proses regenerasi menjadi gak optimal. Kulit kehilangan kelembapan dan elastisitasnya. Permukaan kulit tampak kusam dan gak segar. Masalah ini sering muncul perlahan dan baru disadari setelah beberapa minggu. Banyak orang mengira retinol gak cocok, padahal teknik pemakaiannya yang perlu diperbaiki.

6. Skin barrier melemah dan sulit kembali stabil

ilustrasi kulit wajah bermasalah
ilustrasi kulit wajah bermasalah (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Masalah paling serius adalah skin barrier yang melemah secara keseluruhan. Penggunaan retinol tanpa strategi barrier repair membuat kulit kehilangan daya tahannya. Kulit menjadi mudah iritasi dan lambat pulih. Bahkan setelah retinol dihentikan, kondisi kulit belum tentu langsung membaik. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran barrier repair.

Kulit dengan barrier yang rusak membutuhkan pendekatan yang lebih hati-hati. Rutinitas skincare harus disederhanakan dan fokus pada pemulihan. Proses ini membutuhkan waktu dan konsistensi. Kesalahan di awal penggunaan retinol bisa berdampak panjang. Karena itu, pemahaman yang tepat menjadi sangat krusial.

Retinol bukan bahan yang harus ditakuti, tetapi juga gak bisa digunakan sembarangan. Cara layering dan perhatian pada barrier repair menentukan apakah hasilnya akan positif atau sebaliknya. Dengan pendekatan yang lebih bijak, manfaat retinol bisa dirasakan tanpa drama kulit. Mengenali sinyal kulit adalah langkah pertama yang penting. Skincare seharusnya mendukung kesehatan kulit, bukan merusaknya.

Pada akhirnya, kesabaran adalah kunci utama dalam menggunakan retinol. Gak perlu terburu-buru mengejar hasil instan. Kulit yang sehat dibangun secara bertahap dengan perawatan yang seimbang. Dengan menghindari enam masalah ini, perjalanan skincare bisa menjadi lebih aman, serta kulit pun punya kesempatan untuk berkembang dengan optimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Inaf Mei
EditorInaf Mei
Follow Us

Latest in Life

See More

6 Buku Favorit Ariana Grande yang Wajib Masuk Daftar Baca 2026

02 Jan 2026, 22:58 WIBLife