Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Trik Jitu Menjaga Work Life Balance saat Ramadan

ilustrasi perempuan berhijab (pexels.com/Cedric Fauntleroy)
ilustrasi perempuan berhijab (pexels.com/Cedric Fauntleroy)
Intinya sih...
  • Susun ulang prioritas dengan lebih sadar
  • Memanfaatkan waktu pagi sebagai jam emas produktivitas
  • Mengatur pola istirahat agar tubuh tetap seimbang
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bulan Ramadan sering kali menghadirkan dinamika baru bagi para pekerja aktif. Jam tidur yang berubah, energi yang perlu dihemat, serta tuntutan pekerjaan yang tetap berjalan seperti biasa bisa membuat keseimbangan antara hidup terasa menantang. Namun, Ramadan sejatinya bukan penghalang untuk tetap produktif.

Justru ini bisa menjadi momentum menata ulang ritme hidup agar lebih seimbang dan bermakna. Agar tetap optimal menjalani peran sebagai profesional sekaligus hamba yang beribadah, berikut enam trik jitu menjaga work life balance selama Ramadan. Semoga bermanfaat.

1. Susun ulang prioritas dengan lebih sadar

ilustrasi daftar prioritas (pexels.com/DS Stories)
ilustrasi daftar prioritas (pexels.com/DS Stories)

Ramadan adalah waktu yang tepat untuk meninjau kembali prioritas hidup. Tidak semua hal harus dikerjakan secara bersamaan atau dengan intensitas yang sama seperti bulan-bulan lain. Cobalah memilah mana tugas yang benar-benar mendesak, penting, dan bisa ditunda.

Dalam konteks pekerjaan, fokuslah menyelesaikan tugas inti yang berdampak besar terlebih dahulu. Sementara dalam kehidupan pribadi, beri ruang lebih untuk ibadah, keluarga, dan refleksi diri. Dengan prioritas yang jelas, energi yang terbatas selama puasa dapat digunakan secara lebih efektif tanpa memicu stres berlebih.

2. Memanfaatkan waktu pagi sebagai jam emas produktivitas

ilustrasi perempuan berhijab (pexels.com/Monstera)
ilustrasi perempuan berhijab (pexels.com/Monstera)

Bagi banyak pekerja aktif, waktu pagi setelah sahur dan salat Subuh merupakan momen paling ideal untuk bekerja. Pikiran masih segar, tubuh belum terlalu lelah, dan suasana cenderung lebih tenang. Jika memungkinkan, jadwalkan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi di pagi hari, seperti menyusun laporan, membuat strategi, atau mengerjakan tugas analitis.

Dengan begitu, beban kerja berat tidak menumpuk di siang hari ketika energi mulai menurun. Kebiasaan ini juga membantu menjaga work life balance. Karena sore hari bisa dimanfaatkan untuk aktivitas yang lebih ringan, ibadah, atau quality time bersama keluarga.

3. Mengatur pola istirahat agar tubuh tetap seimbang

ilustrasi merasa lelah (pexels.com/Keira Burton)
ilustrasi merasa lelah (pexels.com/Keira Burton)

Salah satu tantangan terbesar selama Ramadan adalah pola tidur yang berubah. Kurang tidur bisa berdampak langsung pada performa kerja dan suasana hati. Karena itu, penting untuk mengatur strategi istirahat yang realistis. Cobalah tidur lebih awal di malam hari dan manfaatkan power nap singkat selama 15–20 menit di siang hari jika memungkinkan.

Tidur singkat ini cukup membantu memulihkan fokus tanpa membuat tubuh terasa lemas. Menjaga kualitas istirahat adalah bagian penting dari self-care. Ketika tubuh terawat, pekerjaan dan ibadah pun dapat dijalani dengan lebih seimbang.

4. Komunikasikan kondisi dan batasan secara profesional

ilustrasi rekan kerja sok pintar (pexels.com/Tiger Lily)
ilustrasi rekan kerja sok pintar (pexels.com/Tiger Lily)

Menjaga work life balance juga berarti berani menetapkan batasan yang sehat. Jika merasa beban kerja terlalu berat atau jam kerja mulai mengganggu kondisi fisik selama puasa, jangan ragu untuk berkomunikasi secara profesional dengan atasan atau rekan kerja.

Banyak perusahaan kini lebih terbuka terhadap fleksibilitas kerja selama Ramadan, seperti penyesuaian jam kerja atau remote working. Dengan komunikasi yang baik, kita tidak hanya menjaga kesehatan diri sendiri. Tetapi juga tetap menunjukkan tanggung jawab sebagai pekerja aktif.

5. Jadikan ibadah sebagai sumber energi mental

ilustrasi berdoa (pexels.com/Thirdman)
ilustrasi berdoa (pexels.com/Thirdman)

Alih-alih melihat ibadah sebagai tambahan aktivitas yang melelahkan, cobalah memaknainya sebagai sumber energi mental. Salat, tilawah, dan dzikir dapat menjadi jeda yang menenangkan di tengah padatnya pekerjaan.

Luangkan waktu sejenak di sela jam kerja untuk berdoa atau sekadar menenangkan diri. Aktivitas spiritual ini terbukti membantu menurunkan stres, meningkatkan fokus, dan memperbaiki suasana hati. Ketika batin lebih tenang, pekerjaan pun terasa lebih ringan.

6. Tetap sisakan waktu untuk kehidupan pribadi

ilustrasi perempuan berhijab (pexels.com/Cottonbro studio)
ilustrasi perempuan berhijab (pexels.com/Cottonbro studio)

Ramadan bukan hanya tentang bekerja dan beribadah. Tetapi juga tentang mempererat hubungan sosial. Sisihkan waktu untuk berbuka puasa bersama keluarga, berbincang santai, atau melakukan aktivitas ringan yang menyenangkan.

Momen sederhana seperti makan bersama atau berjalan santai menjelang berbuka dapat membantu menjaga kesehatan emosional. Kehidupan pribadi yang terpenuhi akan membuat kita lebih bersemangat menjalani rutinitas kerja keesokan harinya. Dengan membagi waktu secara proporsional, Ramadan dapat menjadi bulan yang produktif sekaligus penuh makna.

Menjaga work life balance saat Ramadan memang membutuhkan penyesuaian, tetapi bukan hal yang mustahil. Alih-alih menjadi bulan yang melelahkan, Ramadan justru bisa menjadi titik balik untuk hidup yang lebih seimbang, sadar, dan bermakna. Baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us

Latest in Life

See More

4 Tips Melatih Problem Solving pada Anak Sejak Dini

19 Feb 2026, 07:42 WIBLife