Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Genderless Fashion? Kenali Bedanya dengan Gaya Androgini

Apa Itu Genderless Fashion? Kenali Bedanya dengan Gaya Androgini
ilustrasi mencari pakaian thrift (pexels.com/cottonbro)
  • Genderless fashion adalah konsep berpakaian tanpa batas kategori laki-laki atau perempuan, dengan pilihan busana yang mengutamakan kenyamanan, selera, bentuk tubuh, dan ekspresi diri.
  • Berbeda dari genderless fashion, gaya androgini memadukan unsur maskulin dan feminin dalam satu tampilan, misalnya blazer tegas dengan sepatu berhak atau makeup.
  • Wardrobe netral gender dapat dibangun bertahap melalui siluet sederhana, warna netral, dan aksesori fleksibel, sambil tetap memilih item yang nyaman serta sesuai kepribadian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Fashion terus berkembang mengikuti cara manusia melihat identitas dan kebebasan berekspresi. Salah satu konsep yang semakin populer adalah genderless fashion, yaitu gaya berpakaian yang tidak membatasi busana berdasarkan gender.

Konsep ini juga kerap disamakan dengan gaya androgini, meski keduanya memiliki perbedaan. Lantas, apa itu genderless fashion, apa bedanya dengan gaya androgini, dan bagaimana cara menerapkannya sehari-hari? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

  1. 1. Apa itu genderless fashion?

    ilustrasi ilustrasi orang-orang yang sedang berunjuk rasa lewat fashion
    ilustrasi orang-orang yang sedang berunjuk rasa lewat fashion (pexels.com/cottonbro)

    Genderless fashion atau fashion tanpa gender adalah konsep berpakaian yang tidak terikat pada pembagian pakaian laki-laki dan perempuan. Pilihan busana lebih didasarkan pada kenyamanan, selera, bentuk tubuh, dan ekspresi diri sehingga siapa pun bebas mengenakan item yang sesuai dengan karakter mereka.

    Konsep ini bukan hal baru, tetapi semakin mendapat perhatian seiring perubahan cara masyarakat memandang identitas dan kebebasan berekspresi. Idan Gilony seorang direktur kreatif, desainer, dan kurator, dikutip dari The Berliner, melihat perkembangan tersebut sebagai perubahan besar dalam dunia fashion.

    “Saya pikir ini benar-benar sebuah revolusi. Sepuluh tahun lalu, mengenakan pakaian tanpa gender masih sangat tidak umum,” ujarnya.

    Pada akhirnya, genderless fashion bukan berarti semua orang harus memakai pakaian oversized atau tampil mencolok. Kemeja, blazer, celana wide-leg, sweater, hingga rok dapat dikenakan siapa saja selama pilihan tersebut tidak dibatasi oleh anggapan bahwa item tertentu hanya cocok untuk gender tertentu.

  2. 2. Apa perbedaan androgini Vs. genderless fashion?

    ilustrasi mencari baju thrift
    ilustrasi mencari pakaian thrift (pexels.com/cottonbro)

    Sekilas, gaya androgini dan genderless fashion memang terlihat mirip karena sama-sama menantang batasan pakaian berdasarkan gender. Namun, gaya androgini menggabungkan unsur maskulin dan feminin dalam satu penampilan, sedangkan genderless fashion lebih menekankan kebebasan memilih pakaian tanpa terikat kategori laki-laki atau perempuan.

    Perbedaannya bisa terlihat dari cara pakaian digunakan. Blazer berpotongan tegas yang dipadukan dengan sepatu berhak atau makeup dapat menciptakan tampilan androgini, sementara setelan oversized, kemeja longgar, celana lebar, atau pakaian rajut yang bisa dikenakan siapa saja lebih mencerminkan pendekatan genderless.

    Menurut Shih-Shun Huang, pendiri label fashion gender-fluid #DAMUR, dikutip dari The Berliner, pemahaman tentang fashion tanpa gender masih kerap keliru karena dianggap harus membuat laki-laki tampil feminin. Ia menekankan bahwa fashion tanpa gender seharusnya membuka lebih banyak ruang bagi orang untuk bereksperimen dengan gaya baru tanpa harus tampil ekstrem.

    “Kita seharusnya memberi orang kesempatan untuk mengenakan sesuatu yang baru, tetapi jika semua merek fashion tanpa gender hanya membuat pakaian oversized atau bergaya sangat eksperimental, bagaimana orang dengan gaya yang lebih netral bisa mencoba bereksperimen?,” jelasnya.

  3. 3. Cara membangun wardrobe netral gender

    ilustrasi laki-laki dan perempuan memilih pakaian bekas
    ilustrasi laki-laki dan perempuan memilih pakaian bekas (pexels.com/julia-m-cameron)

    Kalau tertarik mencoba genderless fashion, kamu gak perlu langsung mengganti seluruh isi lemari. Mulailah dengan memilih pakaian berdasarkan potongan dan kenyamanan, misalnya straight-leg jeans, blazer oversized, sweater berpotongan longgar, kemeja polos, trench coat, atau celana wide-leg. Item dengan siluet sederhana seperti ini cenderung lebih fleksibel dan mudah dipadukan dengan berbagai gaya.

    Selain bentuk pakaian, warna netral juga bisa membuat wardrobe terasa lebih fleksibel. Hitam, putih, navy, beige, abu-abu, olive, dan krem dapat dipadukan dengan mudah sekaligus membuat perhatian lebih tertuju pada potongan dan tekstur pakaian. Untuk melengkapinya, kamu bisa memilih aksesori sederhana, seperti sneakers, tote bag, jam tangan minimalis, atau kalung rantai yang dapat digunakan tanpa terikat pada kategori gender tertentu.

    Namun, membangun wardrobe netral gender bukan berarti harus mengikuti aturan baru soal pakaian yang benar. Pilih saja item yang nyaman dan sesuai kepribadianmu, karena menurut Idan Gilony, tantangannya adalah masyarakat sudah terbiasa dengan standar fashion tertentu.

    “Bukan berarti masyarakat belum siap, tetapi kita sudah sangat, sangat terbiasa dengan standar tertentu sehingga sulit untuk memilih sesuatu yang berbeda,” ujar Idan Gilony.

    Demikianlah genderless fashion memberi kebebasan memilih pakaian sesuai kenyamanan dan karakter. Jadi, bebas bereksperimen tanpa terpaku pada label gender, deh!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More