Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta Claw Clip: Bikin Rambut Rusak atau Aman Dipakai?
ilustrasi perempuan menggunakan hair clip (pexels.com/i-lknur-celik)
  • Claw clip tidak otomatis merusak rambut; dampaknya tergantung cara pemakaian, kondisi rambut, dan kualitas klip yang digunakan.
  • Tekanan berulang atau posisi jepitan yang sama setiap hari bisa memicu rambut patah dan melemahkan batang rambut.
  • Pemilihan bahan, ukuran, serta cara penggunaan yang tepat membuat claw clip lebih ramah dibanding karet rambut, asalkan tidak dipakai berlebihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Claw clip kembali jadi andalan banyak orang karena praktis dan tetap terlihat rapi tanpa usaha berlebih. Aksesori ini cocok dipakai dalam berbagai situasi, mulai dari aktivitas santai di rumah hingga ke kantor. Namun di balik kemudahannya, muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas, apakah claw clip benar-benar aman untuk rambut?

Ada yang menilai claw clip lebih ramah dibandingkan karet rambut, tapi ada juga yang mengingatkan potensi risikonya jika digunakan kurang tepat. Supaya tidak salah kaprah, berikut beberapa fakta penting yang perlu kamu ketahui.

1. Claw clip tidak selalu merusak rambut

ilustrasi claw clip (pexels.com/merve)

Pada dasarnya, claw clip tidak otomatis menyebabkan kerusakan rambut. Dampaknya sangat bergantung pada cara penggunaan, kondisi rambut, serta kualitas klip yang dipakai. Jika digunakan dengan tepat, aksesori ini bisa menjadi pilihan yang cukup aman untuk styling sehari-hari.

Namun, penggunaan yang kurang bijak tetap bisa menimbulkan masalah. Rambut yang terus-menerus ditekan atau ditarik berisiko mengalami patah seiring waktu. Karena itu, penting untuk tetap memperhatikan cara pemakaian agar rambut tetap sehat.

2. Tekanan berulang bisa memicu rambut patah

ilustrasi perempuan menggunakan hair clip (pexels.com/leticiaalvares)

Menjepit rambut di titik yang sama setiap hari dapat menyebabkan tekanan yang terfokus. Dalam jangka panjang, hal ini bisa melemahkan batang rambut dan memicu kerusakan kecil yang tidak langsung terlihat. Jika dibiarkan, rambut akan lebih mudah patah.

Selain itu, menjepit rambut terlalu kencang juga meningkatkan tekanan pada akar dan helai rambut. Risiko ini akan lebih besar jika rambut dalam kondisi rapuh atau sudah mengalami kerusakan sebelumnya. Oleh karena itu, variasi posisi dan tingkat kekencangan perlu diperhatikan.

Dilansir Times of India, penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Cosmetic Science menunjukkan, bahwa tekanan mekanis berulang seperti menarik, menekan, atau menjepit dapat merusak serat rambut dari waktu ke waktu. Tekanan yang terfokus di satu titik meningkatkan risiko retakan kecil yang pada akhirnya menyebabkan rambut patah.

3. Desain dan bahan claw clip sangat menentukan

ilustrasi claw clip (pexels.com/rylee-yi)

Tidak semua claw clip memiliki kualitas yang sama. Klip dengan ujung kasar atau sudah aus berpotensi membuat rambut tersangkut dan akhirnya patah. Sebaliknya, bahan yang halus cenderung lebih aman karena meminimalkan gesekan pada rambut.

Selain itu, ukuran klip juga perlu disesuaikan dengan volume rambut. Menggunakan klip yang terlalu kecil untuk rambut tebal bisa menimbulkan tarikan yang tidak merata. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kerusakan pada batang rambut.

“Pilih claw clip dengan ujung yang halus untuk mencegah rambut tersangkut dan meminimalkan kerusakan saat styling,” jelas Jennifer Korab, hairstylist selebriti dan edukator, dilansir Byrdie.

4. Claw clip bisa jadi alternatif yang lebih ramah

ilustrasi claw clip (pexels.com/aljonaovtsinnikova)

Dibandingkan karet rambut, claw clip sering dianggap lebih lembut dalam menahan rambut. Karet rambut cenderung menarik dan meninggalkan bekas lipatan yang bisa melemahkan serat rambut. Hal ini membuat banyak orang beralih ke claw clip sebagai pilihan yang lebih nyaman.

Claw clip bekerja dengan menahan rambut tanpa perlu dipelintir terlalu kencang. Tekanan yang diberikan juga lebih tersebar, sehingga tidak hanya terfokus di satu titik. Jika digunakan dengan benar, risikonya cenderung lebih kecil.

5. Cara pakai yang kurang tepat tetap berisiko

ilustrasi perempuan menggunakan hair clip (pexels.com/i-lknur-celik)

Meskipun terlihat praktis, penggunaan claw clip tetap perlu diperhatikan. Menjepit rambut dalam kondisi basah, misalnya, bisa meningkatkan risiko patah karena rambut sedang dalam kondisi lebih rapuh. Selain itu, melepas klip secara terburu-buru juga dapat menarik helai rambut.

Kebiasaan menggunakan klip di posisi yang sama juga bisa berdampak dalam jangka panjang. Rambut akan lebih mudah rusak jika terus mendapat tekanan di area tertentu. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan claw clip dengan lebih hati-hati.

“Setiap aksesori rambut bisa merusak rambut jika digunakan secara berlebihan atau tidak tepat, dan claw clip tidak terkecuali,” ujar Michelle Cleveland, hairstylist dan pemilik Hair Addicts Salon & Extension Bar, dilansir Byrdie.

6. Tidak semua kondisi rambut cocok memakai claw clip

ilustrasi claw clip (pexels.com/kiersten)

Ada beberapa kondisi rambut yang perlu lebih berhati-hati saat menggunakan claw clip. Rambut yang sangat tipis, rusak, atau baru saja menjalani proses kimia cenderung lebih rentan mengalami kerusakan. Dalam kondisi ini, penggunaan klip sebaiknya dibatasi.

Selain itu, penggunaan claw clip saat aktivitas dengan banyak gerakan seperti olahraga juga kurang disarankan. Klip bisa bergeser dan menarik rambut tanpa disadari. Jika sudah muncul tanda rambut patah atau menipis, sebaiknya hentikan sementara penggunaannya.

Claw clip bisa jadi pilihan praktis yang aman asalkan digunakan dengan cara yang tepat dan tidak berlebihan. Kuncinya, kenali kondisi rambutmu dan gunakan aksesori ini dengan lebih bijak agar tetap rapi tanpa mengorbankan kesehatan rambut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team