Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Cara Mengelola Karyawan Fresh Graduate biar Gak Cepat Resign

6 Cara Mengelola Karyawan Fresh Graduate biar Gak Cepat Resign
ilustrasi melatih karyawan baru (pexels.com/Alena Darmel)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti pentingnya memberi kesempatan kerja bagi fresh graduate demi regenerasi tenaga kerja dan menekan angka pengangguran usia muda.
  • Ditekankan enam strategi agar karyawan baru tidak cepat resign, mulai dari pemberian gaji layak, pembayaran tepat waktu, hingga pelibatan dalam diskusi dan keputusan.
  • Perusahaan juga disarankan menciptakan lingkungan kerja sehat lewat pembatasan lembur, kegiatan kebersamaan rutin, serta dukungan terhadap pengembangan diri karyawan muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyak pemilik atau pimpinan perusahaan lebih suka menerima karyawan yang sudah memiliki pengalaman kerja sekian tahun. Logikanya, memang kandidat berpengalaman akan lebih siap bekerja. Bahkan pengalaman kerjanya dapat membantu memajukan tempat kerjanya yang sekarang.

Akan tetapi, tidak memberi kesempatan kepada lulusan baru atau fresh graduate untuk bekerja bukan hanya sikap yang tak adil. Bila semua pemilik usaha bersikap begini, angka pengangguran di usia dua puluhan bakal melonjak. Pun lambat laun tak ada regenerasi.

Karyawan tambah senior tambah mendekati masa pensiun. Penerusnya mesti disiapkan sejak dini melalui penerimaan karyawan fresh graduate. Memang sisi minus karyawan baru lulus kuliah bukan hanya belum ada pengalaman, tapi juga gampang ingin resign. Namun, risiko itu dapat diminimalkan dengan menerapkan cara mengelola karyawan fresh graduate biar gak cepat resign berikut ini.

1. Beri gaji dan bonus yang layak, bukan sengaja cari tenaga murah

suasana kantor
ilustrasi suasana kantor (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Hanya karena lulusan baru belum punya pengalaman kerja, bukan berarti mereka boleh diupah rendah. Memang pengalaman menaikkan posisi tawar di dunia kerja. Akan tetapi, syarat upah minimum wajib dipenuhi.

Gaji juga disesuaikan dengan pendidikan terakhir serta posisi yang dilamarnya. Begitu pula bonus harus diberikan sesuai dengan haknya. Jangan main potong, apalagi meniadakan bonus.

Orang yang baru lulus kuliah punya idealisme sekaligus harapan yang tinggi terkait upah. Apabila mereka dibayar terlalu rendah, kamu tidak bisa mengharapkan loyalitas mereka. Pengusaha jangan beralasan bahwa tenaga kerja muda lebih penting mendapatkan pengalaman dulu.

Tujuan utama orang bekerja pasti mencari penghidupan yang layak. Modal pengalaman kerja doang gak bisa buat bayar kos-kosan, berobat kalau sakit, dan sebagainya. Selama gaji dan bonusnya pantas, fresh graduate sudah termotivasi untuk bertahan.

2. Pembayaran juga kudu lancar

karyawan muda
ilustrasi karyawan muda (pexels.com/Godwin Torres)

Gaji dan bonus yang manusiawi seperti dalam poin pertama jangan sampai hanya hitam di atas putih. Tertuang dalam perjanjian kerja, tetapi tidak ditepati dalam praktiknya. Gaji gak boleh terlambat dibayarkan.

Telat sehari saja, karyawan mana pun pasti jengkel. Apalagi pekerja muda yang sudah punya banyak rencana terkait pemakaian uangnya. Bukan masalah bila mereka gak sabar gajian karena mau buru-buru buat staycation.

Itu haknya dan kewajiban pemberi kerja hanyalah membayarnya sesuai jumlah yang disepakati plus tepat waktu. Jangan pula ada pemikiran gaji tepat waktu, tapi bonus dibayarkan molor tidak apa-apa. Hak tetap hak yang kudu dipenuhi olehmu sebagai pemberi kerja. Kalau pembayaran macet, mereka bakal ogah-ogahan dalam bekerja lalu resign.

3. Sering mengajaknya berdiskusi dan menindaklanjuti masukannya

rapat
ilustrasi rapat (pexels.com/Mandiri Abadi)

Anak muda suka dilibatkan dalam hal-hal penting. Sekalipun pengalaman kerjanya belum ada sama sekali, bukan berarti mereka tidak punya aspirasi. Justru pendapat mereka penting untuk menciptakan inovasi.

Khususnya jika produk yang dihasilkan perusahaanmu membidik anak muda sebagai target utama. Walaupun kamu dan rekan-rekan yang lebih senior telah makan asam garam, jangan meremehkan karyawan fresh graduate. Memang mereka biasanya terlihat hanya diam serta menurut.

Akan tetapi, sikap atasan yang kurang menghargai akan menimbulkan ketidakpuasan yang besar. Diam-diam mereka mulai memikirkan untuk mencari pekerjaan lain. Ujung-ujungnya kamu kaget saat tiba-tiba mereka mengundurkan diri. Padahal, dirimu sebagai pimpinan yang kurang peka terhadap kebutuhan mereka untuk didengarkan serta dilibatkan.

4. Atur pekerjaan supaya tidak sering lembur

suasana kantor
ilustrasi suasana kantor (pexels.com/Anna Tarazevich)

Fresh graduate tentu masih muda. Mereka berada pada usia awal 20-an. Energi mereka besar. Mereka lagi senang-senang bergadang. Akan tetapi, salah besar apabila kamu memaknainya sebagai karyawan muda yang dapat disuruh lembur kapan pun, bahkan terus-terusan.

Lelah tetaplah lelah. Jika pun mereka sebetulnya masih kuat dari segi fisik, perasaan ditindas yang akan mendorong mereka untuk memberontak. Lagi pula, kian sering ada lembur di kantor berarti dua hal.

Pertama, pengelolaan pekerjaan kurang profesional. Kedua, jumlah karyawan terlalu sedikit dibandingkan dengan pekerjaan. Jika lembur telah menjadi budaya di kantor sehingga seakan-akan wajib dilakukan, harus segera ada pembenahan. Daripada karyawan muda di kantormu selalu cuma bertahan setahun, bahkan beberapa bulan.

5. Bikin acara seru-seruan secara berkala

suasana kerja
ilustrasi suasana kerja (pexels.com/Thể Phạm)

Tentu dunia kerja ialah dunia profesional. Namun, gak harus kaku sekali. Seakan-akan urusan di antara karyawan dan atasan hanyalah tentang pekerjaan. Apalagi mengingat sebagian karyawan masih sangat muda.

Ingat-ingat saat kamu seumur mereka. Meski keinginan bekerja tinggi, ketertarikan terhadap segala hal yang menyenangkan juga besar. Main dan jalan-jalan masih menjadi sumber kegembiraan yang sayang dilewatkan.

Manfaatkan kondisi ini buat mempererat hubungan antarkaryawan serta karyawan dengan atasan. Agendakan wisata bersama secara rutin. Misalnya, 1 atau 2 bulan sekali. Ini menciptakan suasana kerja dan hubungan antarpribadi yang lebih menyenangkan.

6. Kasih kesempatan untuk tetap berkembang

suasana kerja
ilustrasi suasana kerja (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Tidak sedikit atasan yang justru waswas melihat anak buahnya berkembang. Terutama para karyawan baru yang fresh graduate. Seakan-akan setiap perkembangan diri mereka akan menjadi ancaman serius bagi perusahaan.

Misalnya, kamu khawatir kalau juniormu berkembang lalu seenaknya minta gaji naik atau tiba-tiba hengkang dari kantor. Kemungkinan itu memang ada, tapi tidak sebesar situasi sebaliknya. Tiadanya kesempatan buat karyawan muda mengembangkan diri selama bekerja malah bikin mereka gak betah.

Anak muda haus akan pengalaman. Mereka takut terjebak dalam kondisi stagnan sampai tua. Daripada mereka terjebak mending buru-buru melarikan diri dengan cara resign. Beri kesempatan mereka berkembang melalui berbagai pelatihan yang meningkatkan skill dan seminar untuk menambah wawasan.

Jika ada karyawan yang ingin melanjutkan studi, izinkan dengan negosiasi. Misalnya, ambil kelas malam, weekend, atau jarak jauh supaya pekerjaannya tak berantakan. Anak muda butuh tempat untuk bertumbuh dan bukan pasungan.

Cara mengelola karyawan fresh graduate biar gak cepat resign memang lebih menantang. Mereka mudah merasa sebal, mengambek, kemudian ingin berhenti bekerja. Gaya kepemimpinan yang diperlukan untuk situasi ini adalah kombinasi antara tetap tegas, mengemong, sekaligus tahu kapan waktunya menjadi seperti teman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More