ilustrasi tas dengan beragam isian (pexels.com/Timur Weber)
Dalam setiap circle, biasanya ada seseorang yang namanya langsung disebut ketika muncul masalah kecil. Saat membutuhkan tisu, peniti, maupun kipas angin, kamu bisa menanyakan kepadanya. Bahkan, ketika teman lupa membawa sesuatu, orang yang terkenal paling siap sering menjadi tempat pertama untuk meminta bantuan.
Menurut Xuan Zhao, psikolog sosial dan peneliti di Stanford SPARQ, “Faktanya, sebagian besar dari kita memiliki kecenderungan kuat untuk peduli terhadap orang lain dan ingin memberikan dampak positif dalam kehidupan mereka. Puluhan penelitian, termasuk penelitian yang saya lakukan sendiri, juga menemukan bahwa orang sering kali merasa lebih bahagia setelah melakukan tindakan kebaikan,” dikutip dari Greater Good Magazine.
Ketika seseorang terbiasa membantu, teman-temannya mungkin merasa lebih tenang karena tahu ada orang yang bisa diandalkan. Seseorang dengan tas berisi peralatan lengkapnya juga merasa bahagia karena bisa membantu. Meski begitu, menjadi teman yang siap membantu bukan berarti harus selalu memenuhi semua kebutuhan orang lain. Pertemanan yang sehat tetap membutuhkan perhatian dua arah, bukan hanya bergantung pada satu orang yang paling siap.
Ternyata, di balik tisu, obat-obatan, dan charger cadangan, ada kebiasaan mempersiapkan diri serta perhatian terhadap orang-orang terdekat. Meski begitu, gak semua perempuan punya kebiasaan yang sama, dan membawa banyak barang bukan satu-satunya cara menunjukkan kepedulian. Teman yang baik juga bisa hadir lewat bantuan sederhana lainnya. Sebab, yang membuat seseorang berarti dalam sebuah circle bukan isi tasnya, melainkan bagaimana ia memperlakukan orang-orang di sekitarnya.