Budaya victim blaming masih menjadi persoalan serius dalam berbagai kasus kekerasan, terutama kekerasan seksual. Tanpa disadari, banyak orang ikut melanggengkan pola pikir ini melalui komentar, pertanyaan, atau penilaian yang tampak "biasa saja", tetapi sebenarnya menyudutkan korban. Akibatnya, korban tidak hanya harus menghadapi trauma dari kejadian yang dialami, tetapi juga tekanan sosial yang membuat mereka merasa bersalah.
Padahal, cara kita memandang sebuah kasus sangat memengaruhi bagaimana korban diperlakukan. Jika pola pikir yang berkembang cenderung menyalahkan korban, maka keadilan akan semakin sulit dicapai. Oleh karena itu, penting untuk mengenali pola-pola pikir yang selama ini dianggap wajar, tetapi justru berkontribusi terhadap budaya victim blaming. Berikut enam pola pikir yang perlu kita sadari dan ubah.
