Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

27 Perang yang Dipimpin oleh Nabi Muhammad, dari Waddan hingga Tabuk

21 min read
27 Perang yang Dipimpin oleh Nabi Muhammad, dari Waddan hingga Tabuk
Ilustrasi perang Badar (Nano Banana 2/Rochmanudin)
  • Terdapat 27 ekspedisi dan pertempuran yang dipimpin langsung Nabi Muhammad SAW, dari Waddan pada 2 Hijriah hingga Tabuk pada 9 Hijriah.

  • Banyak ekspedisi bertujuan merespons ancaman, pengkhianatan, perampasan, atau mengamankan Madinah dan jalur perdagangan; sejumlah peristiwa berakhir tanpa kontak senjata melalui pengejaran, pengepungan, atau perjanjian.

  • Perang besar seperti Badar, Uhud, Khandaq, Khaibar, Fathu Makkah, dan Hunain menampilkan strategi berbeda, sementara Hudaibiyah menjadi peristiwa diplomasi yang menghasilkan gencatan senjata.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sejarah Islam mencatat bahwa perjuangan menegakkan kalimat tauhid tidak hanya ditempuh melalui jalan damai dan dakwah, tetapi juga lewat jalur perang apabila jalur damai sudah terlampau alot demi membela Islam.

Bahkan, ada beberapa perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Uniknya, di setiap perang terdapat dinamika strategi, latar belakang historis, serta jumlah pasukan yang beragam. Berikut beberapa perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Simak pembahasan sampai habis, ya!

  1. 1. Perang Waddan (Abwa)

    Perang Waddan (Perang Al-Abwa') merupakan ekspedisi militer pertama yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Madinah. Peristiwa ini terjadi pada bulan Safar tahun ke-2 Hijriah (sekitar Agustus 623 M). Pada momen inilah Sa'ad bin Abi Waqqash tercatat pertama kalinya melepaskan anak panah dalam sejarah perjuangan Islam.

    Perang ini bertujuan mencegat kafilah dagang kaum Quraisy Makkah sebagai respons atas tindakan mereka yang merampas harta kaum Muslimin yang ditinggalkan saat hijrah. Selain itu, konfrontasi ini membuktikan kepada kaum Quraisy dan kabilah sekitar bahwa umat Islam di Madinah tidak lagi lemah dan mampu menjaga jalur perdagangan.

    Nabi Muhammad SAW bertemu secara langsung dengan pimpinan Bani Dhamrah (Amr bin Makhsyi atau Majdi bin Amr). Kedua pihak sepakat membuat perjanjian damai, saling menjamin keamanan jiwa dan harta, serta berjanji tidak saling memusuhi atau membantu musuh satu sama lain.

  2. 2. Perang Buwwat

    Perang Buwath merupakan ekspedisi militer yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal tahun 2 Hijriah atau bertepatan dengan September 623 M. Berlokasi di daerah Buwath, dekat Gunung Radhwa atau sekitar 55 kilometer dari Madinah, ekspedisi ini melibatkan kekuatan sekitar 200 orang sahabat Muslim. Dalam rombongan tersebut, panji perang berwarna putih dipercayakan untuk dibawa oleh Sa'ad bin Abi Waqqash.

    Ekspedisi ini bertujuan untuk menghadang kafilah dagang kaum Quraisy yang melintas, di mana pihak lawan saat itu berkekuatan 100 orang di bawah pimpinan Umayyah bin Khalaf dengan membawa sekitar 2.500 ekor unta. Namun, tidak terjadi kontak fisik atau pertempuran pada saat itu karena rombongan kafilah Quraisy terlebih dahulu mengetahui pergerakan kaum Muslimin dan memilih untuk mengambil rute jalur lain yang lebih tersembunyi.

  3. 3. Perang Zul Usairah

    Perang Zul Usairah (Ghazwah Usyairah) terjadi pada bulan Jumadil Akhir tahun ke-2 Hijriah (sekitar Desember 623 M) di wilayah Yanbu. Ekspedisi militer ini dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW dengan kekuatan pasukan Muslim sekitar 150 hingga 200 orang dari kalangan Muhajirin yang menunggangi 30 ekor unta secara bergantian.

    Tujuan utama ekspedisi ini adalah untuk menghadang kafilah dagang kaum Quraisy Mekah yang membawa harta dalam perjalanan menuju Syam. Namun, saat pasukan Muslim tiba di lokasi, mereka terlambat dan kafilah Quraisy tersebut sudah berlalu lebih dulu, sehingga tidak terjadi kontak senjata atau pertempuran fisik.

    Kendati demikian, Nabi Muhammad SAW memanfaatkan momen ini untuk membuat perjanjian damai serta mengikat aliansi non-agresi dengan kabilah setempat, yaitu Bani Mudlij dan sekutunya, Bani Dhamrah, guna mengamankan wilayah selatan Madinah. Peristiwa ini juga menjadi cikal bakal dan misi pendahuluan yang kemudian memicu terjadinya Perang Badar Kubra saat kafilah yang sama pulang dari Syam.

  4. 4. Perang Badar Pertama

    Perang Safwan atau yang sering disebut sebagai Perang Badar Pertama terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 2 Hijriah (623 M). Ekspedisi ini dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW dengan membawa kekuatan 70 orang sahabat.

    Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh tindakan Kirz bin Jabir al-Fahri yang merampas dan mencuri ternak milik penduduk Madinah. Rasulullah SAW bersama pasukannya kemudian melakukan pengejaran hingga ke daerah Safwan di pinggiran Badar. Kendati demikian, pasukan Muslim tidak sempat melakukan kontak senjata atau pertempuran karena Kirz bin Jabir beserta kelompoknya berhasil melarikan diri lebih dulu sebelum sempat disusul.

  5. 5. Perang Badar Kubra

    Perang Badar Kubra yang terjadi di Lembah Badar merupakan salah satu momentum paling monumental dalam sejarah Islam. Pertempuran besar pertama yang melibatkan kontak senjata secara langsung ini mempertemukan sekitar 313 orang pasukan Muslim di bawah pimpinan langsung Nabi Muhammad SAW, didampingi oleh Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib dengan lebih dari 1.000 pasukan Quraisy Mekah yang dipimpin oleh Abu Jahal (Amr bin Hisyam).

    Konfrontasi ini dilatarbelakangi oleh akumulasi penindasan, pengusiran, serta perampasan harta kaum Muslimin oleh kaum kafir Quraisy, yang kemudian memicu upaya pencegatan kafilah dagang Quraisy oleh umat Islam. Meskipun menghadapi ketimpangan jumlah pasukan dan persenjataan yang sangat jauh, kaum Muslimin akhirnya berhasil meraih kemenangan besar atas izin Allah SWT. Pertempuran ini menelan korban di kedua belah pihak, di mana 14 orang syuhada gugur dari pihak Muslim, sementara dari pihak Quraisy tercatat 70 orang tewas termasuk Abu Jahal, serta 70 orang lainnya ditawan.

  6. 6. Perang Bani Qainuqa

    Perang Bani Qainuqa merupakan pertempuran pertama antara Nabi Muhammad SAW melawan suku Yahudi di Madinah, yang pecah pada bulan Syawal tahun 2 Hijriah (624 M) atau tak lama setelah kemenangan kaum Muslimin di Perang Badar. Konflik ini dilatarbelakangi oleh pelanggaran serta pengkhianatan yang dilakukan oleh kabilah Yahudi Bani Qainuqa terhadap isi Piagam Madinah.

    Situasi kian memanas setelah terjadi insiden di pasar, di mana seorang wanita Muslimah dilecehkan oleh pedagang perhiasan Yahudi hingga ujung jilbabnya terikat dan auratnya tersingkap. Seorang Muslim yang membela wanita tersebut kemudian dibunuh, yang berujung pada pengeroyokan dan kematian sang Muslim oleh massa Yahudi.

    Menanggapi pengkhianatan tersebut, pasukan Muslim bergerak mengepung perkampungan dan benteng pertahanan Bani Qainuqa selama 15 hari hingga akhirnya mereka menyerah. Kaum Muslimin keluar sebagai pemenang dalam peristiwa ini. Nabi Muhammad SAW awalnya berniat menjatuhkan hukuman mati kepada mereka, namun mengurungkan niat tersebut atas desakan dan permohonan dari Abdullah bin Ubay bin Salul selaku pemimpin kaum munafik yang bersekutu dengan mereka. Sebagai gantinya, Bani Qainuqa diusir dari wilayah Madinah dan seluruh harta benda mereka dijadikan sebagai ghanimah (harta rampasan perang).

  7. 7. Perang Bani Sulaim

    Perang Bani Sulaim atau yang dikenal juga sebagai Perang Qarqarat al-Kudr merupakan ekspedisi militer yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW pada bulan Syawal tahun 2 Hijriah (624 M), atau terjadi hanya beberapa hari setelah kaum Muslimin memperoleh kemenangan besar dalam Perang Badar.

    Ekspedisi ini dilatarbelakangi oleh laporan intelijen Madinah yang menyebutkan bahwa kabilah Bani Sulaim dan Bani Ghatafan tengah mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar serta bersekutu untuk melancarkan serangan mendadak guna menginvasi Kota Madinah.

    Mendengar ancaman tersebut, Nabi Muhammad SAW segera mengambil inisiatif melakukan serangan pencegahan dengan memimpin sekitar 200 orang pasukan gabungan infanteri dan kavaleri menuju Qarqarat al-Kudr, sebuah wilayah sumber mata air yang terletak sekitar 170 km dari Madinah dekat Khaibar. Selama kepergian beliau, kepemimpinan di Madinah didelegasikan kepada Ibnu Umm Maktum, sementara panji pasukan Islam dipegang oleh Ali bin Abi Thalib.

    Ketika mendengar pergerakan pasukan Muslimin yang sangat cepat, nyali kabilah Bani Sulaim dan Ghatafan langsung ciut, sehingga mereka memilih melarikan diri ke puncak-puncak bukit dan lembah sebelum pasukan Islam tiba. Karena musuh kabur terbirit-birit, mereka meninggalkan harta benda dan hewan ternak, di mana pasukan Muslim berhasil mengamankan 500 ekor unta sebagai rampasan perang (ghanimah).

  8. 8. Perang Sawiq

    Perang Sawiq yang terjadi pada Zulhijjah 2 Hijriah merupakan aksi balasan kaum Quraisy pasca kekalahan telak di Perang Badar. Dipimpin oleh Abu Sufyan yang bersumpah belum akan bersuci sebelum membalas dendam, 200 pasukan berkuda menyusup ke pinggiran Madinah dan melakukan sabotase di daerah Al-Uraidh, termasuk membakar kebun kurma serta membunuh warga lokal sebelum akhirnya kabur karena ketakutan.

    Mendengar serangan tersebut, Nabi Muhammad SAW langsung memimpin 200 pasukan muslim untuk melakukan pengejaran hingga ke Qarqarah al-Kudr selama 5 hari 5 malam. Meski pasukan Quraisy berhasil melarikan diri karena bergerak terlalu cepat, mereka sempat panik dan membuang berkarung-karung bekal gandum agar beban tunggangan menjadi lebih ringan. Karung-karung yang berserakan ini kemudian dipungut oleh kaum muslimin sebagai harta rampasan, yang lantas melatarbelakangi penamaan peristiwa ini sebagai Perang Sawiq atau "Perang Tepung".

  9. 9. Perang Gathafan

    Perang Gathafan atau Perang Dhi Amr merupakan ekspedisi militer taktis yang terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 3 Hijriah (September 624 M). Ekspedisi ini digerakkan setelah intelijen Madinah melaporkan bahwa kabilah Banu Muharib dan Banu Tsa'labah dari suku Ghathafan sedang menggalang kekuatan di Dhi Amr untuk melancarkan serangan mendadak ke wilayah pinggiran Madinah.

    Nabi Muhammad SAW kemudian memimpin sekitar 450 hingga 700 pasukan Muslim menuju wilayah Najd. Begitu mendengar kedatangan pasukan Islam, kabilah musuh segera membubarkan diri dan melarikan diri ke pegunungan, sehingga tidak terjadi pertempuran massal. Di sela-sela perkemahan selama sebulan penuh di sana, sempat terjadi peristiwa ikonik ketika Rasulullah SAW diuji keberaniannya saat beristirahat, yang kemudian berujung pada masuk Islamnya pemimpin musuh, Du'tsur bin al-Harits. Kehadiran pasukan ini berhasil menggertak kabilah Arab pedalaman sekaligus memperkuat posisi pertahanan Madinah.

  10. 10. Perang Buhran

    Perang Buhran yang juga dikenal sebagai Ghazwah Buhran, Ghazwah al-Fur, atau Ghazwah Bani Sulaim, merupakan ekspedisi militer tanpa kontak senjata yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 3 Hijriah (624 Masehi). Peristiwa ini terjadi pada bulan Rabiul Akhir (atau sebagian riwayat menyebut Jumadil Awal/Jumadil Akhir) setelah Nabi SAW meninggalkan Madinah selama 10 hingga 11 hari.

    Ekspedisi ini dilatarbelakangi oleh laporan intelijen yang mengabarkan bahwa kabilah Bani Sulaim tengah mengumpulkan kekuatan di daerah tambang Buhran, wilayah Al-Fur di Hijaz (terletak sekitar 160–200 km sebelah selatan Madinah), untuk melakukan konspirasi atau menyerang wilayah Madinah. Dalam misi ini, Rasulullah SAW membawa kekuatan 300 tentara Muslim, sementara posisi kepemimpinan di Madinah didelegasikan kepada Abdullah bin Ummi Maktum.

    Sesampainya pasukan Muslim di lokasi, tidak terjadi pertempuran fisik atau adu kekuatan karena orang-orang Bani Sulaim sudah terpencar dan melarikan diri dengan panik akibat gentar mendengar kedatangan pasukan Islam. Peristiwa ini kemudian tercatat sebagai salah satu ekspedisi militer (ghazwah) yang berhasil mengantisipasi ancaman musuh dan berakhir tanpa peperangan.

  11. 11. Perang Uhud

    Perang Uhud yang terjadi di lereng Gunung Uhud pada Syawal tahun 3 Hijriah (Maret–April 625 M) merupakan pertempuran besar kedua antara kaum Muslimin dan kafir Quraisy Mekah, yang dimotivasi oleh upaya balas dendam Abu Sufyan atas kekalahan di Perang Badar.

    Dalam pertempuran ini, pasukan Muslim yang berjumlah sekitar 700 orang, jumlah ini setelah pembelotan 300 kaum munafik di tengah jalan, menghadapi 3.000 pasukan Quraisy bersenjata lengkap. Nabi Muhammad SAW menempatkan 50 pasukan pemanah di Jabal Rumat dengan instruksi tegas untuk tidak meninggalkan posisi. Strategi ini awalnya membuat pasukan Islam mendominasi, namun situasi berbalik ketika sebagian besar pemanah turun karena tergoda harta rampasan perang.

    Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Khalid bin Walid untuk menyerang balik dari belakang. Pertempuran sengit ini menelan korban jiwa sekitar 70 sahabat sebagai syuhada termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib serta Nabi Muhammad SAW sendiri mengalami luka-luka.

  12. 12. Perang Hamra al-Asad

    Perang Hamra al-Asad yang terjadi pada 8 Syawal 3 Hijriah (24 Maret 625 M) merupakan ekspedisi pengejaran pasukan Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan sehari pasca-Perang Uhud.

    Dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW dengan melibatkan sekitar 700 pasukan Muslim yang masih dalam kondisi terluka dan lelah, misi ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa mental kaum Muslimin belum runtuh sekaligus mencegah ancaman serangan susulan ke Madinah. Selama berkemah di Hamra al-Asad selama tiga hari, pasukan Muslim menyalakan 500 api unggun pada malam hari untuk memberikan ilusi jumlah pasukan yang sangat besar. Melalui siasat psikologis tersebut, pihak Quraisy menjadi gentar dan langsung membatalkan niatnya untuk kembali menyerang, sehingga tidak terjadi kontak fisik dan peristiwa ini dicatat sebagai kemenangan strategis bagi kaum Muslimin.

  13. 13. Perang Bani Nadhir

    Perang Bani Nadhir yang terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 4 Hijriah (Agustus 625 M) merupakan konflik antara kaum Muslimin dan kabilah Yahudi Bani Nadhir di pinggiran Madinah akibat pelanggaran Piagam Madinah serta rencana percobaan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad SAW.

    Menanggapi pengkhianatan tersebut, pasukan Muslim mengepung benteng mereka selama beberapa hari hingga akhirnya Bani Nadhir menyerah karena bantuan yang dijanjikan kaum munafik tidak datang. Mereka kemudian diusir (al-jala) dari Madinah menuju Khaibar serta Syam dengan membawa harta sebatas muatan satu ekor unta per keluarga, sementara sisa harta benda mereka ditinggalkan menjadi harta fai' bagi kaum Muslimin.

  14. 14. Perang Dhat al-Riqa

    Perang Dhat al-Riqa atau Dzatur Riqa merupakan operasi militer taktis yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW untuk menghadapi ancaman kabilah Arab Badui dari Bani Muharib, Bani Tsa'labah, dan Bani Ghathafan di wilayah Najd yang berniat menyerang Madinah.

    Dipimpin dengan kekuatan sekitar 400 hingga 700 personel tentara Islam, ekspedisi ini diwarnai dengan perjalanan berat melintasi gurun berbatu yang panas hingga membuat telapak kaki para sahabat melepuh dan dibalut sobekan kain (yang menjadi asal-usul penamaan Dhat al-Riqa). Sesampainya di daerah Nakhl, kabilah musuh merasa gentar dan kocar-kacir melarikan diri ke puncak gunung sebelum pasukan Islam tiba, sehingga tidak terjadi kontak senjata. Di sela-sela peristiwa ini, turun pula syariat Salat Khauf serta kisah perlindungan Allah saat Nabi beristirahat.

  15. 15. Perang Badar Akhir

    Perang Badar Akhir (atau Badar al-Maw'id) yang terjadi pada tahun 4 Hijriah merupakan momen pemenuhan janji atas tantangan yang dilontarkan Abu Sufyan pasca Perang Uhud. Nabi Muhammad SAW bersama 1.500 pasukan Muslim langsung berangkat ke Badar, sementara pihak Quraisy mengerahkan 2.000 pasukan yang sempat mencoba menebar teror psikologis lewat utusan bernama Nu'aim guna menciutkan nyali kaum Muslimin.

    Namun, taktik intimidasi tersebut gagal total. Setibanya di perjalanan, pasukan Quraisy justru gentar akibat ancaman kelaparan dan kekeringan, sehingga mereka memilih mundur kembali ke Makkah. Di sisi lain, pasukan Muslim tetap bersiaga di Badar selama 8 hari sembari berdagang hingga meraih keuntungan finansial. Peristiwa ini pun berakhir tanpa kontak senjata, namun menjadi kemenangan psikologis mutlak yang berhasil mengembalikan wibawa kaum Muslimin sekaligus meruntuhkan gengsi militer Quraisy di jazirah Arab.

  16. 16. Perang Dumat al-Jandal

    Perang Dumat al-Jandal yang terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 5 Hijriah (Agustus–September 626 M) merupakan ekspedisi militer yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW ke wilayah perbatasan Suriah (sekitar 450–500 km di perbatasan Hijaz dan Syam). Ekspedisi ini dikerahkan untuk mengamankan jalur perdagangan utara dari ancaman kelompok penyamun sekaligus memberikan efek gentar terhadap kabilah lokal dan kekuasaan Romawi atau Ghassan yang berniat menyerbu Madinah.

    Dengan membawa 1.000 pejuang Muslim, pasukan menempuh perjalanan selama 16 hari dengan strategi berjalan pada malam hari dan beristirahat pada siang hari. Setibanya di lokasi, penduduk Dumat al-Jandal telah melarikan diri karena terkejut dengan kedatangan pasukan Islam, sehingga tidak terjadi kontak senjata atau pertempuran besar. Kaum Muslimin kemudian menguasai wilayah tersebut dan mengamankan harta peninggalan sebelum kembali ke Madinah.

  17. 17. Perang Al-Muraisi'

    Perang Al-Muraisi’ atau yang dikenal sebagai Perang Bani Musthaliq pada bulan Sya'ban 5 Hijriah merupakan ekspedisi preventif yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW setelah mendengar rencana serangan dari Al-Harits bin Abu Dhirar. Dengan mengerahkan 700 pasukan infanteri dan 30 pasukan berkuda, kaum Muslimin melancarkan serangan mendadak di dekat mata air Al-Muraisi' saat musuh tengah lengah. Pertempuran singkat ini dimenangkan secara telak oleh kaum Muslimin dengan hanya menelan satu korban jiwa dari pihak Muslim dan sekitar 10 orang dari pihak musuh, serta menghasilkan ratusan tawanan perang.

    Di balik skala pertempurannya yang kecil, peristiwa ini meninggalkan catatan besar dalam Sirah Nabawiyah karena memicu sejumlah momen penting:

    • Pernikahan dengan Juwairiyah: Rasulullah SAW memerdekakan dan menikahi Juwairiyah binti Al-Harits (putri kepala suku), yang kemudian memicu para sahabat membebaskan seluruh tawanan lainnya hingga membuat seluruh suku Bani Musthaliq masuk Islam.
    • Provokasi Kaum Munafik: Abdullah bin Ubay bin Salul mencoba memecah belah kaum Muhajirin dan Anshar yang menjadi latar belakang turunnya Surah Al-Munafiqun.
    • Fitnah Haditsul Ifki: Insiden tertinggalnya Aisyah r.a. dalam perjalanan pulang dimanfaatkan kaum munafik untuk menyebarkan fitnah keji, yang akhirnya dipulihkan namanya melalui wahyu Allah SWT dalam Surah An-Nur ayat 11–20.

  18. 18. Perang Khandaq

    Perang Khandaq yang terjadi pada bulan Syawal tahun 5 Hijriah (Maret–April 627 M) di sekitar perbatasan utara dan barat laut Kota Madinah merupakan pertempuran pertahanan yang krusial bagi kaum Muslimin. Pertempuran ini mempertemukan sekitar 3.000 pasukan Muslim yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW melawan sekitar 10.000 hingga 15.000 pasukan koalisi sekutu (Ahzab) yang terdiri dari kaum Quraisy, Yahudi Bani Nadhir, Bani Ghathafan, dan kabilah lainnya yang berada di bawah pimpinan Abu Sufyan.

    Untuk menghadapi pasukan gabungan yang jauh lebih besar tersebut, kaum Muslimin menerapkan strategi bertahan dengan menggali parit (khandaq) di sekeliling wilayah rentan Kota Madinah atas usul dari sahabat Salman al-Farisi. Parit tersebut digali sepanjang kurang lebih 3 hingga 5 kilometer dengan lebar dan kedalaman yang mampu menahan laju kavaleri musuh.

    Pengepungan yang berlangsung selama kurang lebih 24 hingga 27 hari ini akhirnya gagal total bagi pihak musuh. Pasukan sekutu terpaksa mundur akibat kehabisan logistik, runtuhnya moral pasukan, salah satunya dipicu oleh strategi Nu'aim bin Mas'ud yang memecah-belah aliansi antara Bani Quraizhah dan pasukan sekutu serta hantaman badai angin kencang (badai pasir) yang memorak-porandakan kemah perkemahan mereka. Kemenangan strategis ini berhasil diraih kaum Muslimin tanpa harus melalui perang terbuka yang besar.

  19. 19. Perang Bani Quraizhah

    Perang Bani Quraizhah yang terjadi pada bulan Zulkaidah tahun 5 Hijriah (atau sekitar tahun 627 Masehi) merupakan kelanjutan langsung dari Perang Khandaq (Ahzab).

    Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh pengkhianatan kaum Yahudi Bani Quraizhah yang melanggar Piagam Madinah dengan bersekutu bersama pasukan koalisi Quraisy (kaum Ahzab) untuk menyerang umat Islam dari dalam kota Madinah. Setelah pasukan Ahzab mundur, Nabi Muhammad SAW langsung memerintahkan pasukan Muslim untuk mengepung benteng Bani Quraizhah.

    Pengepungan tersebut berlangsung selama kurang lebih 25 hari hingga akhirnya mereka menyerah tanpa syarat. Dalam penyelesaiannya, Nabi Muhammad SAW menunjuk Sa'ad bin Mu'adz sebagai pemimpin suku Aus yang merupakan mantan sekutu Bani Quraizhah untuk menentukan hukuman bagi mereka. Berdasarkan hukum Taurat yang mereka yakini, Sa'ad memutuskan bahwa kaum pria yang ikut berperang dihukum mati, sedangkan wanita dan anak-anak ditawan.

  20. 20. Perang Lihyan

    Perang Lihyan atau Ghazwah Bani Lihyan merupakan ekspedisi militer yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW pada bulan Rabiul Awal atau Jumadil Ula tahun 6 Hijriah (sekitar September 627 M).

    Ekspedisi ini dilatarbelakangi oleh motif penegakan keadilan dan pembalasan atas pengkhianatan keji dalam Tragedi Ar-Raji (tahun 4 H), di mana Bani Lihyan mengepung dan membantai 10 utusan dakwah Islam, serta menjual sahabat Khubaib bin Adi ke kaum Quraisy untuk disalib. Setelah situasi Madinah stabil pasca-Perang Khandaq, Nabi SAW memimpin sekitar 200 pejuang Muslim (termasuk 20 pasukan berkuda) menuju jantung pertahanan Bani Lihyan di Batn Gharran, bukit Guran. Guna mengecoh mata-mata musuh, Nabi menerapkan strategi kamuflase dengan seolah-olah bergerak ke utara menuju Syam sebelum berbelok cepat ke selatan.

    Meskipun taktik kejutan tersebut hampir berhasil, kabar pergerakan pasukan Muslim akhirnya tetap bocor. Ketakutan mendengar kedatangan pasukan Islam, seluruh anggota suku Bani Lihyan langsung melarikan diri dan bersembunyi di puncak-puncak gunung. Akibatnya, tidak terjadi kontak senjata dalam ekspedisi ini. Pasukan Muslim menetap selama beberapa hari untuk melakukan penyisiran sekaligus mengirimkan pesan psikologis yang kuat kepada kaum Quraisy sebelum akhirnya kembali ke Madinah setelah 14 hari perjalanan.

  21. 21. Perang Dhi Qarad

    Perang Dhi Qarad (atau Ekspedisi Dzu Qarad) yang terjadi pada tahun 6 Hijriah (627 M) merupakan operasi pengejaran militer yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini dipicu oleh serangan mendadak yang dilakukan oleh sekelompok penjarah dari Bani Ghatafan di bawah pimpinan Uyaynah bin Hishn dan Abdurrahman al-Fazari di wilayah Al-Ghabah, pinggiran Madinah. Dalam serangan tersebut, kelompok penjarah membunuh seorang penggembala Muslim, menculik istrinya, serta merampas 20 ekor unta perah milik Nabi Muhammad SAW.

    Aksi heroik berawal dari sahabat Salamah bin al-Akwa yang memergoki pergerakan musuh dan mengejar mereka sendirian sambil menghujani mereka dengan anak panah dari atas bukit. Kegigihan tersebut membuat musuh panik hingga terpaksa melepaskan unta rampasan agar bisa kabur lebih cepat.

    Mengetahui hal tersebut, Nabi Muhammad SAW segera mengerahkan sekitar 500 pasukan kavaleri Muslim untuk melakukan pengejaran hingga ke mata air Dzu Qarad. Meskipun tidak terjadi kontak senjata skala besar karena sebagian besar penjarah telah melarikan diri, wanita Muslimah yang diculik berhasil diselamatkan dan seluruh unta milik Nabi SAW berhasil direbut kembali.

  22. 22. Perang Hudaibiyah

    Perang Hudaibiyah yang terjadi pada Zulkaidah 6 Hijriah (Maret 628 M) bukanlah sebuah pertempuran fisik atau kontak senjata, melainkan sebuah peristiwa diplomasi penting yang menghasilkan Perjanjian Hudaibiyah (Shulhul Hudaibiyah).

    Peristiwa ini berawal dari niat Nabi Muhammad SAW bersama sekitar 1.400 hingga 1.500 kaum Muslimin yang berangkat dari Madinah menuju Makkah semata-mata untuk melaksanakan ibadah umrah dan berziarah ke Baitullah tanpa membawa senjata perang. Namun, setibanya di Lembah Hudaibiyah yang berjarak sekitar 22 km dari Makkah, perjalanan mereka dihadang oleh pasukan besar kaum kafir Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid.

    Di tengah tingginya ketegangan akibat tertahannya utusan Nabi, Utsman bin Affan, kaum Muslimin mengikrarkan Bai'at ar-Ridwan yang merupakan sebuah sumpah setia sampai mati di bawah pohon untuk membela Islam. Ketegangan ini akhirnya mencair dan berujung pada penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah. Meski klausul perjanjian seperti gencatan senjata 10 tahun dan penundaan umrah sempat dinilai merugikan oleh sebagian sahabat, strategi diplomasi ini terbukti menjadi kemenangan nyata (fathun mubina) yang membuka jalan bagi penyebaran Islam secara luas tanpa hambatan militer hingga peristiwa Fathu Makkah dua tahun kemudian.

  23. 23. Perang Khaibar

    Perang Khaibar yang terjadi pada bulan Muharram hingga Safar tahun 7 Hijriah (sekitar Mei–Juni 628 Masehi) di wilayah oasis Khaibar (sekitar 150–165 km di sebelah utara Madinah) merupakan salah satu pertempuran paling sengit dalam upaya kaum Muslimin menaklukkan benteng pertahanan terakhir komunitas Yahudi di wilayah tersebut. Ekspedisi militer ini dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW dengan melibatkan kekuatan sekitar 1.400 hingga 1.600 pasukan, termasuk 200 kavaleri, yang sebelumnya merupakan para peserta Perjanjian Hudaibiyah.

    Konfrontasi ini dilatarbelakangi oleh pengkhianatan serta provokasi berkelanjutan dari kelompok Yahudi Khaibar yang terus menghasut kabilah-kabilah lain untuk memusuhi Islam dan merencanakan serangan terhadap Madinah. Pasukan Muslim kemudian mengepung sejumlah benteng utama Khaibar, seperti Al-Qamûs, Na'im, As-Sha'b, dan Qal'ah Zubeir.

    Titik balik pertempuran tercapai ketika Ali bin Abi Thalib berhasil mengalahkan pendekar Yahudi bernama Marhab dalam duel satu lawan satu, yang kemudian meruntuhkan mental pertahanan musuh hingga kemenangan mutlak berhasil diraih. Sebagai bagian dari penyelesaian konflik, kaum Yahudi diizinkan tetap tinggal untuk mengelola kebun kurma dengan sistem bagi hasil setengah dari total panen serta kewajiban membayar jizyah, sementara harta rampasan perang berupa senjata, baju besi, serta emas dan perak resmi dikuasai oleh kaum Muslimin.

  24. 24. Perang Umrah al-Qadha

    Umrah al-Qadha atau Umrah Pengganti yang terlaksana pada bulan Zulkaidah tahun 7 Hijriah (Maret 629 M) merupakan momen penting di mana Nabi Muhammad SAW bersama sekitar 2.000 umat Muslim akhirnya dapat memasuki Kota Makkah secara damai. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh kesepakatan dalam Perjanjian Hudaibiyah tahun sebelumnya, di mana umat Islam yang sempat tertunda ibadahnya diizinkan kembali ke Makkah pada tahun berikutnya dengan batas waktu menetap selama tiga hari.

    Meskipun bersifat ibadah damai, kaum Muslimin tetap mengantisipasi potensi pengkhianatan dengan membawa kelengkapan senjata yang disimpan di luar kota, sementara kaum musyrikin Quraisy mengosongkan Makkah dan menyingkir ke bukit-bukit sekitar. Seluruh rangkaian ibadah mulai dari tawaf, sai, hingga tahalul berjalan lancar, di mana Bilal bin Rabah turut mengumandangkan azan di atas Kakbah. Peristiwa ini tidak hanya menjadi kemenangan diplomasi yang membuktikan kepatuhan umat Muslim terhadap perjanjian, tetapi juga memperkuat posisi politik Islam di Jazirah Arab serta menarik banyak tokoh penting Quraisy, termasuk Khalid bin Walid dan Amr bin Ash untuk memeluk Islam.

  25. 25. Fathu Makkah (Pembebasan Makkah)

    Fathu Makkah (Pembebasan Makkah) yang terjadi pada 20 Ramadhan 8 Hijriah (11 Januari 630 M) merupakan peristiwa penaklukan Kota Makkah secara besar-besaran dan damai tanpa pertumpahan darah oleh Nabi Muhammad SAW bersama 10.000 pasukan Muslim.

    Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh pelanggaran Perjanjian Hudaibiyah oleh kaum Quraisy yang membantu sekutu mereka, Bani Bakar, menyerang Bani Khuza'ah yang merupakan sekutu kaum Muslimin. Upaya diplomasi yang ditempuh Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbaharui perjanjian pun menemui jalan buntu.

    Menanggapi pelanggaran tersebut, Nabi Muhammad SAW bergerak dari Madinah membawa 10.000 pasukan pada 10 Ramadhan 8 H. Saat memasuki kota, Ali bin Abi Thalib dan Qays bin Sa'ad memimpin dengan membawa pesan damai Nabi bahwa hari tersebut adalah hari kasih sayang (al-yaum yaum al-marhamah). Kota Makkah akhirnya menyerah melalui Abu Sufyan tanpa perlawanan berarti. Di dalam kota, Nabi SAW membersihkan 360 berhala di sekitar Kakbah sambil membacakan Surah Al-Isra' ayat 81, lalu memerintahkan Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan.

  26. 26. Perang Hunain

    Perang Hunain yang terjadi pada bulan Syawal tahun 8 Hijriah (630 Masehi) di Lembah Hunain, terletak di antara Mekkah dan Thaif yang merupakan pertempuran sengit antara kaum Muslimin melawan gabungan suku Badui dari kabilah Hawazin dan Tsaqif yang berinisiatif menyerang lebih dulu akibat khawatir setelah terjadinya Fathu Makkah.

    Dalam pertempuran ini, kaum Muslimin mengerahkan kekuatan sekitar 12.000 pasukan. Di awal pertempuran, pasukan Islam sempat terdesak dan kocar-kacir akibat serangan mendadak serta hujan panah dari musuh yang bersembunyi di jurang. Namun, berkat keteguhan Nabi Muhammad SAW yang menyeru para sahabat untuk bertahan, pasukan Islam berhasil membalikkan keadaan dan meraih kemenangan mutlak, serta memperoleh harta rampasan perang yang sangat besar.

  27. 27. Perang Tabuk

    Perang Tabuk yang terjadi pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah (Oktober 630 M) merupakan ekspedisi militer terbesar dan terakhir yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Ekspedisi ini dikerahkan untuk menghadapi ancaman gabungan pasukan Kekaisaran Bizantium Romawi di bawah Kaisar Heraklius bersama sekutunya di wilayah perbatasan utara Jazirah Arab.

    Dengan mengerahkan kekuatan sekitar 30.000 prajurit Muslim, peristiwa ini juga dikenal sebagai Ghazwah Al-Usrah (Perang Kesulitan) karena berlangsung pada musim panas yang sangat menyengat di tengah masa paceklik dan krisis logistik. Namun, setibanya pasukan Muslim di perbatasan Tabuk (sekitar 683–750 km dari Madinah), pasukan Romawi yang berjumlah sekitar 40.000 prajurit kehilangan nyali dan terpencar sebelum sempat bertempur.

    Tanpa adanya kontak senjata, para pemimpin lokal di sekitar Tabuk (seperti Yuhanna bin Ru'bah dari Ailah) memilih berdamai dengan membayar jizyah (upeti). Keberhasilan ekspedisi ini semakin mengukuhkan kekuatan politik dan militer kaum Muslimin di wilayah utara, sehingga banyak kabilah yang sebelumnya bersekutu dengan Romawi beralih mendukung Islam.

    Itulah 27 perang yang pernah dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Semoga muslim bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa penting dalam sejarah Islam.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet