ilustrasi pria dan wanita (pexels.com/Kentut Subiyanto)
Apapun tipenya, komunikasi tetap faktor utama. Pria dominan yang tidak mau mendengar akan sulit bertahan lama. Begitu juga pria suportif yang tidak punya pendirian bisa dianggap kurang tegas.
Hubungan sehat dibangun dari dialog yang terbuka dan saling memahami. Ketika dua orang bisa menyampaikan kebutuhan dengan jelas, label dominan atau suportif menjadi kurang relevan. Yang terpenting adalah bagaimana keduanya merasa dihargai.
Pertanyaan pria dominan atau suportif sebenarnya tidak punya jawaban tunggal. Setiap orang punya preferensi dan pengalaman berbeda. Namun satu hal yang pasti, keseimbangan selalu lebih menarik daripada ekstrem.
Menjadi versi terbaik diri sendiri jauh lebih penting daripada memaksakan karakter tertentu demi terlihat menarik. Ketika kepribadian berkembang secara sehat, daya tarik akan muncul dengan sendirinya. Pada akhirnya, yang dicari bukan sekadar tipe, tetapi rasa yang tulus dan stabil.