Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Penyebab Baju Tetap Bau Apek meski Sudah Dicuci Bersih
ilustrasi pria membawa pakaian (pexels.com/Jonathan Borba)
  • Mesin cuci yang kotor dan lembap dapat menumpuk residu detergen, pelembut, minyak tubuh, serta kotoran yang memicu bau apek pada cucian.
  • Detergen atau pelembut berlebihan dan muatan mesin terlalu penuh dapat menghambat pencucian serta pembilasan, sehingga residu, minyak tubuh, dan kotoran tertinggal.
  • Pakaian basah yang terlalu lama di mesin atau dijemur dengan sirkulasi udara minim berisiko lembap berkepanjangan dan memunculkan bau pengap.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah mencuci baju dengan detergen, membilasnya sampai bersih, lalu mendapati aromanya masih apek saat hendak dipakai? Masalah ini cukup menjengkelkan, apalagi kalau kamu sudah merasa melakukan proses pencucian dengan benar. Padahal, bau apek pada pakaian gak selalu berarti bajunya belum bersih karena ada beberapa faktor lain yang bisa memengaruhi hasil cucian.

Mulai dari kondisi mesin cuci, takaran detergen, sampai proses pengeringan, setiap tahap pencucian punya peran dalam menjaga pakaian tetap segar. Kalau salah satu tahap tersebut kurang optimal, sisa kotoran, residu, atau kelembapan bisa membuat bau gak sedap bertahan meski baju sudah dicuci. Supaya masalah ini gak terus berulang, kenali lima penyebab yang mungkin terjadi berikut ini.

1. Mesin cuci kotor dan penuh residu

ilustrasi pria sedang mencuci baju atau pakaian di mesin cuci (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Meski digunakan untuk membersihkan pakaian, mesin cuci juga bisa menjadi sumber bau apek jika jarang dibersihkan. Sisa detergen, pelembut, minyak tubuh, dan kotoran dari cucian sebelumnya bisa menumpuk di dalam tabung, laci detergen, atau karet pintu mesin cuci. Jika bagian-bagian tersebut terus lembap, mikroorganisme penyebab bau juga bisa berkembang dan memengaruhi aroma pakaian yang baru dicuci.

Coba perhatikan apakah tabung mesin cuci mengeluarkan bau pengap ketika dibuka atau terdapat kotoran yang menempel pada bagian karetnya. Jika iya, bersihkan mesin secara berkala menggunakan fitur pembersihan tabung atau produk khusus sesuai petunjuk produsennya. Setelah selesai mencuci, biarkan pintu mesin dan laci detergen terbuka agar bagian dalamnya bisa mengering dengan baik sebelum digunakan kembali.

2. Takaran detergen atau pelembut terlalu banyak

ilustrasi pria sedang menuangkan detergen ke dalam mesin cuci (pexels.com/RDNE Stock project)

Menambahkan detergen lebih banyak dari takaran yang dianjurkan gak otomatis membuat pakaian lebih bersih. Sebaliknya, detergen yang berlebihan bisa sulit terbilas sempurna dan meninggalkan residu pada serat kain. Sisa tersebut dapat menahan minyak tubuh dan kotoran sehingga pakaian tetap mengeluarkan bau kurang sedap meskipun sudah melewati proses pencucian.

Hal serupa juga bisa terjadi ketika kamu terlalu banyak menggunakan pelembut pakaian. Produk ini dapat meninggalkan lapisan pada serat kain, terutama jika digunakan berulang kali tanpa pembilasan yang memadai. Karena itu, gunakan detergen dan pelembut sesuai petunjuk kemasan serta sesuaikan takarannya dengan jumlah pakaian dan tingkat kekotorannya. Kalau pakaian masih berbau setelah dicuci, kamu bisa mempertimbangkan siklus bilas tambahan sesuai kebutuhan.

3. Memasukkan terlalu banyak baju sekaligus

ilustrasi pria sedang memasukkan baju atau pakaian ke dalam mesin cuci (pexels.com/cottonbro)

Mencuci banyak pakaian dalam satu waktu memang terasa lebih praktis karena bisa menghemat waktu dan tenaga. Namun, jika tabung mesin cuci terlalu penuh, pakaian gak punya cukup ruang untuk bergerak dan bergesekan selama proses pencucian. Akibatnya, detergen dan air bisa lebih sulit menjangkau seluruh bagian pakaian secara merata sehingga kotoran serta minyak tubuh berpotensi tertinggal.

Masalah ini bisa lebih terasa ketika kamu mencuci pakaian tebal seperti jaket, celana jeans, atau handuk dalam jumlah banyak sekaligus. Selain mengganggu proses pencucian, tabung yang terlalu penuh juga bisa menghambat proses pembilasan. Untuk menghindarinya, ikuti kapasitas mesin cuci dan sisakan ruang agar pakaian dapat bergerak dengan leluasa. Kalau cucian sedang menumpuk, lebih baik membaginya menjadi beberapa muatan daripada memaksakan semuanya masuk dalam satu siklus.

4. Baju dibiarkan terlalu lama di mesin cuci setelah selesai

ilustrasi pria sedang menunggu pakaian atau baju yang sedang dicuci di dalam mesin cuci (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Begitu mesin cuci berhenti, pakaian memang sudah melewati proses pencucian, tetapi kondisinya masih basah dan lembap. Jika dibiarkan berjam-jam di dalam tabung yang tertutup, kelembapan tersebut bisa menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme penyebab bau. Akibatnya, baju yang awalnya sudah bersih justru kembali beraroma pengap ketika dikeluarkan.

Kebiasaan ini cukup mudah terjadi ketika kamu mencuci pakaian sebelum berangkat kerja, lalu baru mengeluarkannya setelah pulang. Untuk mencegahnya, usahakan segera memindahkan pakaian ke tempat penjemuran begitu siklus pencucian selesai. Kalau cucian telanjur didiamkan terlalu lama dan sudah berbau apek, mencucinya kembali sebelum dikeringkan bisa membantu menghilangkan bau yang muncul.

5. Menjemur baju di tempat yang minim sirkulasi udara

ilustrasi baju sedang dijemur (pexels.com/Nothing Ahead)

Setelah dicuci, pakaian perlu dikeringkan sampai benar-benar tuntas agar gak menyimpan kelembapan terlalu lama. Masalahnya, baju yang dijemur di ruangan tertutup, berdesakan, atau memiliki sirkulasi udara buruk bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk kering. Kondisi lembap yang bertahan pada serat kain dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme dan memunculkan bau apek.

Situasi ini sering terjadi ketika kamu menjemur pakaian di dalam rumah saat hujan atau ketika udara sedang lembap. Agar pakaian lebih cepat kering, beri jarak antarbaju, pilih tempat dengan aliran udara yang baik, dan gunakan kipas angin jika diperlukan. Pastikan juga bagian yang lebih tebal, seperti lipatan kerah, pinggang celana, dan area ketiak, sudah kering sebelum pakaian dilipat atau dimasukkan ke lemari.

Baju yang tetap bau apek setelah dicuci belum tentu membutuhkan detergen yang lebih banyak. Bisa jadi sumber masalahnya justru berasal dari mesin cuci yang jarang dibersihkan, muatan cucian yang terlalu penuh, atau proses pengeringan yang belum tuntas. Dengan mengetahui tahap mana yang menjadi penyebabnya, kamu bisa memperbaiki kebiasaan mencuci secara lebih tepat tanpa harus terus mengulang pencucian atau menggunakan pewangi tambahan untuk menutupi bau.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article