Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Provinsi dengan Biaya Kampanye Pilkada Paling Mahal, Sumsel Termahal
Ilustrasi kampanye pemilu dan pilkada. (IDN Times/Agung Sedana)
  • LP3S menemukan Sumatra Selatan jadi provinsi dengan biaya kampanye Pilkada 2024 tertinggi, mencapai rata-rata Rp39,4 miliar atau Rp207.522 per pemilih.
  • Rata-rata pengeluaran kampanye kandidat di seluruh provinsi mencapai Rp20,1 miliar, sementara kandidat pemenang menghabiskan sekitar Rp27,4 miliar.
  • LP3S menilai biaya kampanye jauh lebih tinggi dibanding laporan resmi ke KPU, yang umumnya mencatat pengeluaran di bawah Rp7,4 miliar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang mau jadi pemimpin daerah dan mereka butuh uang buat kampanye. Di Sumatra Selatan, uangnya paling banyak, sampai miliaran rupiah. Ada juga dari Sumatra Utara dan Sulawesi Utara yang keluarin banyak uang. Orang-orang dari LP3S hitung semua uang itu dan bilang kampanyenya mahal sekali. Sekarang mereka masih pelajari kenapa bisa semahal itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Riset LP3S tentang biaya kampanye Pilkada 2024 menunjukkan adanya upaya serius untuk memahami dinamika keuangan politik di berbagai provinsi. Dengan data rinci per wilayah, penelitian ini membuka ruang bagi transparansi dan diskusi publik yang lebih mendalam mengenai efisiensi penggunaan dana kampanye serta kesetaraan peluang antar kandidat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kandidat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 di Sumatra Selatan tercatat mengeluarkan biaya kampanye tertinggi jika dihitung berdasarkan pengeluaran per pemilih. 

Temuan itu terungkap dalam riset Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3S) bertajuk The Price of Power: Membongkar dan Mengatasi Kuasa Uang dalam Pilkada di Indonesia, yang menganalisis estimasi pengeluaran kampanye kandidat Pilkada 2024.

1. Sumsel jadi provinsi dengan biaya kampanye tertinggi

Prof. Mada Sukmajati selaku penulis saat memaparkan hasil ilmiahnya dalam buku The Price of Power: Membongkar dan Mengatasi Kuasa Uang dalam Pilkada di Indonesia, di Hotel Erian, Menteng, Jakarta, Senin (29/6/2026). (IDN Times/Rochmanudin)

LP3S mencatat, rata-rata pengeluaran kampanye kandidat di Sumatra Selatan mencapai angka Rp39,4 miliar atau setara Rp207.522 per pemilih. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara 10 provinsi yang tercantum dalam laporan.

Posisi berikutnya ditempati Sumatra Utara dengan rata-rata pengeluaran Rp26,3 miliar atau Rp183.475 per pemilih. Sementara Sulawesi Utara berada di peringkat ketiga dengan rata-rata Rp14,3 miliar atau Rp145.350 per pemilih. 

Berikut rincian 10 provinsi dengan biaya kampanye tertinggi berdasarkan rata-rata pengeluaran per pemilih: 

  1. Sumatra Selatan – Rp39,4 miliar (Rp207.522 per pemilih)

  2. Sumatra Utara – Rp26,3 miliar (Rp183.475 per pemilih)

  3. Sulawesi Utara – Rp14,3 miliar (Rp145.350 per pemilih)

  4. Sulawesi Selatan – Rp22,6 miliar (Rp130.935 per pemilih)

  5. Kalimantan Selatan – Rp15,2 miliar (Rp87.223 per pemilih)

  6. Nusa Tenggara Timur – Rp7,4 miliar (Rp69.301 per pemilih)

  7. Jawa Tengah – Rp29,9 miliar (Rp67.699 per pemilih)

  8. Sulawesi Tengah – Rp5,6 miliar (Rp54.649 per pemilih)

  9. Jawa Barat – Rp22,4 miliar (Rp41.661 per pemilih)

  10. DI Yogyakarta – Rp12,5 miliar (Rp35.707 per pemilih)

2. Rata-rata pengeluaran kampanye capai Rp20,1 miliar

ilustrasi biaya disusun proporsional (IDN Times/Aditya Pratama)

LP3S memperkirakan rata-rata pengeluaran kampanye seluruh kandidat yang disurvei mencapai 20,1 miliar. Sementara itu, kandidat yang memenangkan pilkada menghabiskan dana lebih besar, yakni rata-rata 27,4 miliar. 

Menurut LP3S, pengeluaran yang lebih tinggi kemungkinan dipengaruhi oleh kandidat dengan peluang menang yang kecil cenderung menghindari pengeluaran besar. 

Namun, kandidat yang menghabiskan lebih banyak uang juga kemungkinan memiliki peluang lebih tinggi untuk memenangkan pilkada. Topik tersebut, menurut LP3S, akan dieksplorasi lebih lanjut dalam publikasi selanjutnya.

3. Pengeluaran kampanye dinilai jauh lebih tinggi dari laporan ke KPU

Ilustrasi KPU (IDN Times/Sukma Shakti)

LP3S menilai, kampanye pilkada berlangsung dengan biaya yang sangat mahal. Laporan itu juga menyebut estimasi pengeluaran kandidat yang jauh lebih tinggi, dibandingkan laporan dana kampanye yang disampaikan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU). 

Sebagai perbandingan, studi Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan total pengeluaran yang dilaporkan ke KPU dalam Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Kampanye (LPPDK) tidak lebih dari Rp7,4 miliar. Bahkan, sebagian besar laporan mencatat pengeluaran di bawah Rp3,5 miliar.

Editorial Team

Related Article