Jakarta, IDN Times - Komite Nasional Perempuan Mahardhika menilai, pemerintahan Prabowo-Gibran gagal melindungi perempuan dari kekerasan dan pembunuhan setelah dua tahun berkuasa. Dalam kertas posisi Oktober 2026, Ketua Perempuan Mahardika, Afifah, menyebut isu perempuan tidak menjadi kepentingan pemerintah sejak Prabowo dilantik pada 20 Oktober 2024.
Afifah menyoroti angka pembunuhan perempuan yang tidak direspons negara. Hal ini diungkap Perempuan Mahardika saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
"Angka pembunuhan perempuan yang mencapai 239 kasus pada November 2024-Oktober 2026 atau setiap 2 hari 1 orang perempuan mati tidak menjadi alarm bagi pemerintah untuk menetapkan femisida sebagai situasi darurat nasional," ujarnya dikutip Rabu (21/10/2026).
