Presiden RI, Prabowo Subianto memberikan pidato dalam Upacara Peringatan HUT ke-81 TNI, Senin (5/10/2026). (YouTube/Sekretariat Presiden)
Arya kemudian menjelaskan tiga faktor yang menurutnya menjadi penyebab utama turunnya kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo.
Pertama adalah expectation gap atau kesenjangan antara ekspektasi masyarakat dengan kenyataan yang terjadi.
“Pertama ada expectation gap. Jadi nggak sesuai antara apa yang publik inginkan, apa harapan publik, dengan realitas yang terjadi,” kata Arya.
Dia menjelaskan, masyarakat memiliki harapan tertentu terhadap pemerintah, tetapi kebijakan yang dijalankan justru tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut.
“Publik menginginkan X, yang dilakukan adalah Y. Publik menginginkan A, yang dilakukan B. Nah itu expectation gap, sehingga orang nggak puas,” ujarnya.
Kedua adalah performance gap. Menurut Arya, persoalan ini muncul ketika kinerja pemerintah tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat.
“Yang kedua performance gap. Enggak sesuai orang berekspektasi kalau kinerjanya harusnya seperti ini. Presiden yang baru dilantik, eh presiden yang tengah menjabat karena sudah berulang kali maju sebagai kandidat lalu menang, orang berekspektasi X. Tapi yang terjadi Y,” katanya.
Dia mencontohkan pemerintah yang membangun kabinet besar dengan harapan menghasilkan kinerja tertentu. Namun, ketika hasil yang dirasakan masyarakat tidak sesuai dengan ekspektasi, kepuasan publik pun menurun.
“Pemerintah mengatakan kabinet besar supaya terjadi X, kenyataannya terjadi Y. Nah itu yang membuat ada performance gap,” ujar Arya.
Faktor ketiga adalah trust deficit atau defisit kepercayaan. Menurutnya, persoalan kepercayaan turut memperkuat tren penurunan kepuasan masyarakat terhadap pemerintah.
“Yang ketiga adalah trust deficit. Ada defisit pada kepercayaan. Nah ini yang membuat ketidakpuasan drop,” katanya.
Arya juga menyoroti anomali lain, yakni besarnya anggaran yang dialokasikan untuk program-program populis seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih belum menghasilkan kepuasan publik yang sebanding.
“Dana MBG dan koperasi merah putih itu sangat besar sekali, ratusan triliun. Tapi persoalannya adalah, meskipun pemerintah sudah mengalokasikan ratusan triliun untuk mendanai dua program besar ini, sebagian besar publik kita malah secara agregat tidak puas dengan kinerja pemerintahan,” ujarnya.
Menurut Arya, program strategis pemerintah juga belum memberikan dampak elektoral yang kuat. Kepuasan, kepercayaan, hingga keterpilihan justru mengalami penurunan.