Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menanggapi tudingan terkait dugaan pemasangan alat pelacak atau GPS tracker yang disampaikan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Ia menilai tuduhan tersebut tidak semestinya diarahkan kepada pihak tertentu tanpa didukung bukti yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Qodari menjelaskan perkembangan teknologi pelacakan saat ini telah mengalami kemajuan pesat. Menurutnya, penggunaan perangkat pelacak fisik yang ditempel pada kendaraan sudah tidak lagi menjadi metode utama karena dianggap kurang relevan dengan teknologi modern.
Meski mengaku tidak memiliki keahlian teknis terkait perangkat pelacakan, Qodari menyebut informasi yang diterimanya menunjukkan sistem pelacakan kini lebih banyak memanfaatkan teknologi digital dibanding alat fisik yang dipasang langsung pada kendaraan.
"Pertama informasi yang saya dapat ya sekarang alat-alat tracking itu sudah sangat canggih. Sehingga tidak perlu lagi pasang alat-alat tracking yang fisik, yang kuno. Yang ditempel-tempel di mobil itu (seperti) film jadul," kata Qodari.
