Presiden Belarus Temui Putin usai Tegang dengan Ukraina

- Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Valdai untuk membahas hubungan bilateral serta situasi politik global dan regional, termasuk ketegangan dengan Ukraina.
- Rusia diduga menekan Belarus agar ikut menyerang Ukraina dan meluncurkan serangan hybrid ke negara-negara NATO, bahkan mengancam menarik bantuan finansial jika Minsk menolak.
- CSTO memperingatkan meningkatnya tensi di perbatasan Ukraina-Belarus, sementara Ukraina menegaskan konsekuensi serius bagi Belarus jika terlibat dalam provokasi terhadap negaranya.
Jakarta, IDN Times - Presiden Belarus, Alexander Lukashenko mengadakan kunjungan ke kediaman pribadi Presiden Rusia, Vladimir Putin di Valdai pada Sabtu (27/6/2026). Lawatan ini dilangsungkan di tengah ketegangan antara Belarus dan Ukraina.
Dalam kesempatan itu, Lukashenko dan Putin mendiskusikan hubungan bilateral antara kedua negara. Selain itu, pemimpin Rusia dan Belarus tersebut akan mendiskusikan situasi terkini politik global dan regional, termasuk ketegangan dengan Ukraina.
1. Rusia diduga berniat menyeret Belarus dalam perang

Menurut keterangan The Wall Street Journal dalam United24, Rusia sudah mengintensifkan tekanan kepada Lukashenko untuk ikut menyerang Ukraina. Moskow juga diduga mendorong Belarus untuk meluncurkan serangan hybrid ke negara-negara NATO.
Sejumlah pejabat di Amerika Serikat (AS) dan Eropa menyebut bahwa Rusia berniat menggunakan teritori Belarus untuk meluncurkan serangan drone. Alhasil, Ukraina akan menghadapi tantangan baru dan mengalokasikan pasukan dan persenjataan ke perbatasan Belarus.
Terdapat dugaan bahwa Rusia mengancam akan mengurangi atau menarik bantuan finansial ke Belarus jika menolak. Padahal, Belarus selama ini sangat menggantungkan ekonominya pada Rusia.
2. CSTO peringatkan tensi di perbatasan Ukraina-Belarus

CSTO ikut memantau panasnya tensi antara Ukraina dan Belarus dalam beberapa bulan terakhir. Aliansi militer pimpinan Rusia itu sudah memperingatkan Ukraina agar tidak menyerang Belarus.
“Kami sudah mendengar pernyataan baru rezim Kiev soal Belarus. Pernyataan itu membuat situasi di perbatasan Ukraina dan Belarus terus memanas terutama setelah Ukraina meluncurkan target militer ke teritori Belarus,” ungkapnya, dikutip dari The Moscow Times.
3. Ukraina peringatkan Belarus konsekuensi jika terlibat provokasi

Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha memperingatkan agar Belarus tidak memprovokasi negaranya. Ia menyebut, Lukashenko sebenarnya paham betul akan konsekuensi dari aksinya.
Dilansir UNN, Sybiha menyebut bahwa Ukraina sudah menerima permintaan diplomatik dari Belarus. Menurutnya, Minsk sudah mengusulkan kunjungan di perbatasan, tapi dokumen tersebut tidak lagi valid.















