Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BGN: 93 Persen Dana MBG Rp268 Triliun Cair ke Daerah
Kepala BGN Dadan Hindayana saat sampai di lokasi jumpa pers di Kota Bogor, Sabtu (28/2/2026). IDN Times/Linna Susanti.
  • BGN menegaskan 93 persen dari total Rp268 triliun dana MBG disalurkan langsung ke daerah untuk intervensi gizi, bukan terserap oleh birokrasi pusat.
  • Penyaluran dana dilakukan lewat virtual account tiap unit SPPG agar efisien dan transparan, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal di berbagai wilayah.
  • Sekitar 70 persen dana digunakan membeli bahan pangan lokal dan sebagian lainnya untuk operasional serta insentif relawan yang membantu program MBG.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bogor, IDN Times – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengatakan, sebagian besar anggaran yang dikelola BGN untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan habis untuk birokrasi, melainkan untuk intervensi gizi langsung. Dari total Rp268 triliun dalam UU APBN 2026, hampir seluruhnya dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk makanan bergizi.

"Perlu Anda ketahui bahwa 93 persen dari Rp268 triliun itu digunakan untuk bantuan pemerintah makan bergizi. Jadi hampir Rp240 triliun uang ini digunakan untuk intervensi pemenuhan gizi," kata Dadan dikutip Minggu (1/3/2026).

Selain itu, kata Dadan, penggunaan dana pendidikan sebesar Rp223 triliun untuk MBG diputar kembali ke daerah untuk menggerakkan ekonomi lokal melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

1. Memotong birokrasi lewat pengiriman ke virtual account

ilustrasi transfer dana melalui RDN (pexels.com/Liza Summer)

Dadan menjelaskan, salah satu poin penting yang ditegaskan BGN adalah mekanisme penyaluran dana yang tidak melalui banyak pintu. Dana dikirim langsung dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) ke virtual account unit SPPG di tiap daerah. Di Bogor sendiri, perputaran uangnya mencapai ratusan miliar per bulan.

"Uang itu akan beredar dari Sabang sampai Merauke melalui virtual account yang ada di setiap SPPG. Jadi kalau di kota Bogor sekarang sudah ada kurang lebih 150 SPPG, itu artinya Rp150 miliar per bulan uang dari Badan Gizi beredar melalui SPPG-SPPG di Kota Bogor," kata dia.

2. Ekonomi lokal berputar melalui belanja bahan pangan

Lapak sayur di Pasar Jambu Dua Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/2/2026). IDN Times/Linna Susanti.

Dadan mengatakan, sebesar 70 persen dari dana yang dikelola tiap unit SPPG wajib digunakan untuk menyerap hasil bumi daerah setempat. Ini menjadi jawaban bahwa anggaran tersebut juga berfungsi sebagai stimulus bagi petani dan peternak di daerah, bukan hanya sekadar membagikan makanan.

"70 persennya digunakan untuk membeli bahan baku: beras, minyak, telur, ayam, sayur, buah, bumbu, dan lain-lain. Kemudian 20 persen digunakan untuk membayar operasional, termasuk insentif para relawan," kata Dadan.

3. Menciptakan lapangan kerja bagi relawan daerah

situasi dapur SPPG MBG di Kota Bogor. Humas Pemkot Bogor.

Selain pemenuhan gizi, kata Dadan, dana ini juga dialokasikan untuk memberikan insentif layak bagi masyarakat yang menjadi relawan program. Dadan memproyeksikan penyerapan anggaran ini akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah unit layanan di seluruh Indonesia pada akhir tahun 2026.

"Kalau di Bogor ini rata-rata mungkin 100 ribu per hari. Jadi mereka kalau bekerja 24 hari ya 2,4 juta saya rasa itu mendapatkan insentif. Proyeksi kami akan menyerap kurang lebih Rp314 triliun (total setahun), tetap saja proporsinya 93 persen digunakan untuk bantuan makan," ucap dia.

Editorial Team