Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengakhiri peringatan dini tsunami di Indonesia akibat gempa dengan magnituo (M) 7,7 Filipina. Peringatan dini dicabut Senin (8/6/2026) per pukul 10.15 WIB.
“BMKG menyatakan bahwa Peringatan Dini Tsunami dinyatakan berakhir pada 10.15:51 WIB. BMKG berterima kasih kepada pemerintah daerah yang sudah membantu diseminasi dan melakukan langkah evakuasi secepatnya,” ujar Faisal dalam keterangannya.
Faisal menjelaskan tsunami sempat terdeteksi di sejumlah daerah, dengan ketinggian tsunami tidak lebih dari satu meter.
“Hasil pemantauan BMKG, terjadi kenaikan tinggi muka air laut di sejumlah wilayah, di antaranya Loloda pada 07.20 WIB dengan ketinggian 0,09 m, serta pada pukul 07.27 WIB di Ulu Siau setinggi 0,18 m dan Melonguane setinggi 0,32 m,” kata dia.
Sementara, sensor tide gauge di Tahuna mendeteksi ketinggian air 0,3 meter pada pukul 06.58 WIB, wilayah Paleleh ketinggian 0,45 meter pada pukul 07.34 WIB, serta Tanjung Sidupa yang merekam ketinggian tsunami 0,32 meter pada pukul 07.39 WIB.
Kemudian, pada pukul 07.51 WIB, alat pemantau mendeteksi kenaikan tinggi muka air laut di Bitung 0,29 meter dan Ternate setinggi 0,14 meter. Gelombang tsunami setinggi 0,75 meter juga terdeteksi ada di Talengan pada pukul 08.20 WIB.
Sebelumnya, Faisal menjelaskan, berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi termasuk kategori gempa dangkal. Hasil analisis BMKG juga menunjukkan sumber gempa berasal dari aktivitas subduksi lempeng.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng," kata Faisal.
BMKG menyebut, mekanisme sumber gempa menunjukkan adanya pergerakan naik pada bidang patahan. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah thrust fault.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault," imbuhnya.
