Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Intel AS: Pemimpin Baru Iran Lebih Berambisi Miliki Senjata Nuklir

Intel AS: Pemimpin Baru Iran Lebih Berambisi Miliki Senjata Nuklir
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei (Khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Lembaga intelijen Amerika Serikat (AS) menilai Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, jauh lebih berambisi mengejar senjata nuklir dibanding mendiang ayahnya. Penilaian ini terungkap dari laporan intelijen yang dibeberkan sejumlah pejabat AS pada Jumat (24/7/2026).

Penilaian intelijen tersebut didasarkan pada sadapan percakapan dan pernyataan publik sebelum perang meletus. Mojtaba sendiri saat ini membatasi komunikasi dan penampilan publik karena mengalami luka berat akibat serangan udara AS-Israel. Meski demikian, ia dinilai tetap memegang kendali atas pemerintahan Iran.

1. Perbedaan doktrin Mojtaba Khamenei dengan sang ayah

mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei
mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (Khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Mendiang Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya pernah mengeluarkan fatwa keagamaan pada dekade 1990-an yang melarang pengembangan senjata nuklir. Meskipun Iran terus meningkatkan kapabilitas teknisnya, para pejabat AS percaya keraguan Ali Khamenei terhadap bom nuklir tergolong sungguh-sungguh.

Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba Khamenei dinilai tidak memiliki keraguan yang sama dalam mengejar senjata pemusnah massal tersebut. Ia justru mendukung pengembangan hulu ledak termonuklir canggih yang dapat dipasang pada rudal jarak jauh.

Mojtaba memandang senjata nuklir mentah yang sulit diluncurkan kurang bisa diandalkan sebagai alat gertakan. Oleh karena itu, ia berfokus pada modernisasi hulu ledak agar mampu menjangkau sasaran yang jauh secara efektif.

Posisi faksi garis keras di pemerintahan Iran kini semakin kuat di bawah kepemimpinan Mojtaba. Mereka berargumen bahwa kepemilikan senjata nuklir adalah satu-satunya cara efektif untuk mencegah serangan AS dan Israel di masa depan.

2. Iran pindahkan fasilitas sentrifugal ke Gunung Pickaxe

misil Iran
misil Iran. (unsplash.com/Moslem Danesh)

Untuk melindungi aset nuklirnya dari serangan udara lanjutan, Iran telah memindahkan ribuan sentrifugal ke kompleks bawah tanah Gunung Pickaxe. Langkah ini dilakukan setelah fasilitas utama di Fordow dan Natanz rusak akibat serangan bom penembus bunker milik AS.

Kompleks di Gunung Pickaxe terletak sangat dalam sehingga sulit ditembus oleh bom konvensional terberat militer AS. Pihak Iran optimistis ruang bawah tanah tersebut lebih aman dari gempuran udara langsung.

Meski demikian, intelijen AS melaporkan bahwa Teheran telah menyiagakan pasukan darat di sekitar lokasi tersebut. Langkah itu diambil karena muncul kekhawatiran atas potensi operasi darat oleh pasukan AS.

"Iran kini memiliki insentif yang jauh lebih besar untuk mengembangkan senjata nuklir demi mencegah upaya AS atau Israel meruntuhkan rezim," ujar Rosemary Kelanic, Direktur Program Timur Tengah di Defense Priorities, dilansir The New York Times.

3. Trump ancam tingkatkan serangan ke Iran

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Presiden AS Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi untuk meningkatkan serangan militer terhadap Iran. Temuan intelijen mengenai ambisi nuklir Mojtaba dapat dijadikan pembenaran tambahan bagi Washington untuk melancarkan serangan baru.

Trump sempat melontarkan ancaman terbuka terhadap fasilitas bawah tanah milik Iran di dekat Natanz tersebut. Ia mengindikasikan bahwa situs di Gunung Pickaxe bisa menjadi target gempuran militer berikutnya.

"Gunung Pickaxe adalah target yang mungkin untuk tembakan besar tepat di depan pintu masuknya," kata Trump, dikutip dari The Times of Israel.

Upaya gencatan senjata sementara dan kesepakatan diplomasi sebelumnya dinilai telah gagal menghentikan bentrokan. Seiring berlarutnya konflik, kedua belah pihak terus saling balas serangan di kawasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More