Trump Ancam Gunakan Aset Iran demi Ganti Rugi Kerusakan Kapal

Jakarta, IDN Times – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memakai aset Iran yang dibekukan untuk menanggung seluruh kerusakan kapal, kargo, maupun aset lain yang berkaitan di kawasan Teluk.
Ancaman itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social.
“Mohon izinkan pernyataan ini mewakili, sampai pemberitahuan lebih lanjut, bahwa mulai saat ini dan seterusnya, segala kerusakan yang dilakukan terhadap Kapal, Kargo, atau apa pun yang terkait dengannya, akan dibayar dengan Uang Iran yang dimiliki dan dikendalikan oleh AS,” tulis Trump, dikutip Euro News.
Merespons ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai penggunaan aset negara lain untuk klaim pada masa mendatang yang tak berkaitan merupakan preseden yang sangat berbahaya. Dilansir Anadolu Agency, menurut Araghchi, apabila penyitaan aset menjadi kebiasaan sebuah pemerintah, maka tak akan ada lagi aset milik siapa pun yang aman, sementara kekacauan yang muncul setelahnya juga tak akan berlangsung indah maupun damai.
1. Serangan AS menggempur sejumlah lokasi strategis Iran

Pernyataan AS itu muncul ketika operasi militer mereka telah menggempur Iran selama 13 malam berturut-turut. Serangan udara tersebut menargetkan berbagai lokasi militer dan komersial yang dinilai strategis.
Sasaran utama mencakup Pelabuhan Bandar Abbas yang menjadi pusat pasokan militer sekaligus kargo perdagangan, serta Pulau Qeshm yang menyimpan aset angkatan laut, termasuk kapal nirawak (drone).
Di sisi lain, ledakan juga dilaporkan mengguncang wilayah barat laut Iran, meliputi Andimeshk, Omidiyeh, dan Firuzabad.
2. Eskalasi militer mengancam jalur pelayaran internasional

Eskalasi militer tersebut turut memengaruhi keamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dan barang dunia. Pada saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga mengancam akan menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur sempit yang biasa dilintasi sekitar 12 persen perdagangan dunia.
Di sisi lain, Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Tindakan itu memicu respons keras dari Washington, sementara Trump memperingatkan bahwa AS siap menjatuhkan hukuman militer besar-besaran kepada Houthi maupun Iran yang dianggap sebagai pendukung utamanya.
3. Houthi menyampaikan alasan ancaman penutupan selat

Pihak Houthi tetap menyatakan ancaman penutupan Selat Bab al-Mandeb merupakan balasan atas blokade yang dilakukan Arab Saudi terhadap Yaman.
Kelompok pemberontak tersebut juga menyebut tindakan mereka berkaitan dengan serangan yang menghantam Bandara Internasional Sana’a, wilayah yang kini berada di bawah kendali mereka.




















