Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Prof. Patani mengungkap alasan erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi terus menerus. Menurunya, hal itu terjadi karena magma bersifat cair dan gas sedang.
"Akibat magma cair dengan tekaran gas sedang. Jadi terjadi letusan-letusan yang kecil ya yang berulang secara teratur. Kemudian ini yang memunculkan kembang api bom vulkanik dan lapili ke udara," ujar Patani dalam jumpa pers bersama BNPB, Kemenkes, terkait penanganan erupsi Gunung Anak Krakatau secara virtual, Minggu (6/9/2026).
Sekadar diketahui, lapili adalah material padat atau piroklastik berupa kerikil atau batu kecil berukuran antara 2 hingga 64 milimeter yang dimuntahkan dari udara saat letusan gunung berapi.
Patani menjelaskan sebenarnya sejak 2 Juli 2026 oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) status Gunung Anak Krakatau sudah ditetapkan pada level 3 atau Siaga. Kemudian pada 4 September pukul 23.07 WIB Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi, hingga sekarang ini.
Sementara, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Dr. Wijayanto menambahkan, frekuensi erupsi Anak Krakatau kini berangsur meluruh, dibanding pertama kali pada Jumat malam, 4 September 2026 hingga Sabtu dini hari, 5 September 2026.
"Kondisi Anak Krakatau memang sekarang ini mulai meluruh ya," ujarnya pada kesempatan sama.
