Jakarta, IDN Times - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, Yatalathof Ma'shum Imawan menjelaskan alasan pihaknya berunjuk rasa di Bunderan Hotel Indonesia ketimbang berdemo di depan Gedung DPR, dalam aksi pada Jumat (12/6/2026). Menurutnya, penyampaian aspirasi di depan gedung parlemen tidak memberikan manfaat.
"Pada faktanya, saat ini eksekutif dan legislatif tidak ada bedanya. Mereka sudah jadi satu koalisi dan sepakat untuk menyengsarakan rakyat. Dari mana buktinya? Tadi saya sebutkan bagaimana pemerintah memajaki rakyat banyak lewat PP Nomor 20 Tahun 2026 untuk UMKM, tetapi pemerintah membatalkan royalti minerba yang sudah diterapkan kepada para oligarki. Sedangkan, kondisi saat ini sedang krisis," ujar Yatalathof di kawasan Bunderan HI, Jakarta Pusat.
"Bagaimana mungkin rakyat banyak yang sekarang sedang sengsara malah ditagih pajak lebih besar?" imbuhnya.
Alasan kedua mahasiswa tak berunjuk rasa di DPR, selain fungsi pengawasan sudah tak lagi berjalan, pemerintah lah yang memegang fungsi kebijakan.
"Pemerintah sudah bobrok dengan membuat program-program pemborosan, tapi mereka (DPR) tak menjalankan fungsi pengawasannya. Kami mending demo di Bunderan HI dan menyadarkan rakyat banyak bahwa kondisi saat ini tidak sedang baik-baik saja," tutur dia.
