Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Israel-Lebanon Bakal Lanjut Negosiasi di Italia

Israel-Lebanon Bakal Lanjut Negosiasi di Italia
potret bendera Israel (kanan) dan bendera Lebanon (kiri) (commons.wikimedia.org/Danielrosehill)
Intinya Sih
  • Israel dan Lebanon dijadwalkan melanjutkan negosiasi damai di Roma pada 4-6 Agustus, dengan AS sebagai mediator untuk mendorong perdamaian jangka panjang.
  • Agenda perundingan mencakup perluasan zona percontohan di Lebanon selatan, penyelesaian sengketa perbatasan, serta perjanjian perdamaian dan keamanan komprehensif.
  • Perundingan Juni meredam bentrokan Israel-Hizbullah, setelah konflik sejak Maret menewaskan lebih dari 4.300 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Israel dan Lebanon dikabarkan akan melanjutkan negosiasi perdamaian di Kota Roma, Italia, pada awal Agustus mendatang. Kabar tersebut disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Amerika Serikat (AS) yang berperan sebagai mediator di antara kedua negara pada Selasa (28/7/2026).

Dalam pernyataannya, Kemlu AS menjelaskan, negosiasi damai lanjutan Israel dan Lebanon akan digelar pada 4 sampai 6 Agustus. Upaya ini bertujuan agar Israel dan Lebanon bisa mencapai perdamaian jangka panjang. Jika perdamaian abadi tercapai, perang antara Tel Aviv dan Beirut bisa dicegah. Sebab, perang kedua negara yang meletus sejak 2 Maret lalu sudah menewaskan banyak orang, terutama di pihak Lebanon. 

1. Negosiasi lanjutan akan berfokus pada sejumlah hal

Negosiasi damai.
ilustrasi negosiasi (pexels.com/Monstera Production)

Kemlu AS menambahkan, negosiasi lanjutan antara Israel dan Lebanon akan berfokus pada sejumlah hal. Beberapa di antaranya, seperti penerapan proyek zona percontohan di Lebanon selatan, penyelesaian isu perbatasan, serta upaya perdamaian dan keamanan kedua negara.

“Itu termasuk memperluas proses zona percontohan, menyelesaikan semua masalah perbatasan yang belum terselesaikan, dan mengupayakan perjanjian perdamaian dan keamanan yang komprehensif,” demikian bunyi pernyataan resmi Kemlu AS, seperti dilansir Times of Israel

2. Negosiasi terakhir Israel dan Lebanon dihelat di AS pada Juni

Bendera Amerika Serikat sedang berkibar.
potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrew Patrick Photo)

Negosiasi terakhir antara Israel dan Lebanon sudah dilakukan di AS pada akhir Juni lalu. Negosiasi ini melahirkan sejumlah kesepakatan, yakni Israel bersedia menghentikan serangan dan menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan dan Lebanon diwajibkan untuk melucuti senjata Hizbullah. 

Kendati demikian, Hizbullah hingga kini juga masih belum bersedia melucuti senjatanya. Sebab, milisi itu menolak menyerah dan ingin tetap menyerang Israel agar pergi dari wilayah Lebanon. Hizbullah menilai perlucutan senjata sama dengan menyerah terhadap Israel.

3. Negosiasi terakhir meredam bentrokan antara Israel dan Hizbullah di Lebanon

Pasukan milisi Hizbullah sedang berlatih.
potret pasukan milisi Hizbullah (tasnimnews.ir/Tasnim News Agency reporter via commons.wikimedia.org/Tasnim News Agency reporter)

Negosiasi terakhir antara Israel dan Lebanon yang dihelat pada Juni tadi berhasil meredam bentrokan antara Israel dan Hizbullah di Lebanon selatan. Sebab, sebelum negosiasi tersebut digelar, kedua pihak sering bertukar serangan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terus melakukan serangan ke Lebanon selatan untuk membasmi Hizbullah.

Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon sejak Maret lalu sudah menewaskan lebih dari 4.300 orang. Di sisi lain, lebih dari 1 juta warga Lebanon lainnya juga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman guna menghindari serangan. Beruntungnya, serangan Israel di Lebanon kini sudah berhenti sehingga korban tidak bertambah banyak. Para warga yang mengungsi juga bisa kembali lagi ke tempat tinggalnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More