Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Nelayan Fakfak Olah Ikan Jadi Bakso hingga Abon, Cuan Naik 3 Kali Lipat
Nelayan Fakfak olah ikan hasil tanggapan agar punya nilai lebih (dok. Tim Kementerian Transmigrasi)
  • Warga Kampung Saharey mulai mengolah ikan menjadi bakso, nugget, kerupuk, sambal, dan abon melalui pendampingan TEP Unhas.

  • Pelatihan mencakup pengolahan pascapanen, pengemasan, sanitasi, pengelolaan usaha, pemasaran, serta penggunaan alat produksi.

  • Kelompok nelayan Seir Saharey memperoleh pendapatan sekitar Rp400 ribu hingga Rp800 ribu per hari dari modal Rp100 ribu hingga Rp300 ribu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
17/9/2026

Agus Harimurti Yudhoyono berpesan agar Tim Ekspedisi Patriot tidak hanya memetakan persoalan masyarakat, tetapi juga mencari solusi sesuai kebutuhan warga.

19/9/2026

Prabowo Subianto menekankan pentingnya swasembada pangan dan energi dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun PMDG di Jawa Timur.

31/10/2026

Adnan menyampaikan tantangan pengolahan pascapanen, teknologi tepat guna, dan akses pemasaran dalam keterangannya.

kini

Warga Saharey mengolah hasil tangkapan menjadi berbagai produk dan memperoleh penghasilan sekitar Rp400 ribu hingga Rp800 ribu per hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Warga mengolah hasil tangkapan ikan menjadi bakso, pentol, nugget, sambal, kerupuk, dan abon.
  • Who?
    Puluhan rumah tangga nelayan, termasuk 20 rumah tangga dari kelompok Seir Saharey, bersama pendampingan TEP Unhas.
  • Where?
    Kampung Saharey, Distrik Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak.
  • When?
    Kini, setelah warga mendapat pendampingan pengolahan hasil tangkapan.
  • Why?
    Hasil tangkapan sebelumnya lebih banyak dijual segar dengan harga seadanya dan berisiko membusuk saat tangkapan melimpah.
  • How?
    Melalui pelatihan pengolahan, pengemasan, pelabelan, sanitasi, pengelolaan usaha, pemasaran, serta penggunaan alat pengasapan, vacuum sealer, dan cold storage.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Warga nelayan di Saharey dulu menjual ikan dengan murah karena ikan cepat rusak. Lalu, TEP Unhas membantu mereka membuat bakso, nugget, keripik, dan abon. Para ibu belajar mengolah ikan, sementara nelayan belajar menyimpannya. Sekarang, kelompok nelayan bisa mendapat uang lebih banyak dari hasil ikan mereka.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pendampingan memberi warga kemampuan yang lebih lengkap, bukan hanya mengolah ikan, tetapi juga mengemas, memasarkannya, dan menjaga hasil tangkapan. Keterampilan tersebut membuat bahan yang sebelumnya cepat rusak dapat memiliki umur simpan dan nilai jual lebih tinggi, sekaligus membuka ruang bagi tambahan penghasilan keluarga nelayan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times — Laut bagi warga Kampung Saharey, Kabupaten Fakfak, bukan sekadar bentang biru yang membentang di depan mata. Dari sana, ikan datang membawa harapan untuk keluarga.

Namun, selama ini hasil tangkapan nelayan lebih banyak berakhir sebagai ikan segar yang dijual dengan harga seadanya. Ketika tangkapan melimpah, persoalan lain muncul: ikan harus segera terjual sebelum membusuk.

Kini, cerita itu perlahan berubah. Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas), puluhan rumah tangga nelayan mulai mengolah hasil tangkapan menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari bakso, pentol, nugget, sambal, kerupuk hingga abon.

Dari ikan yang sebelumnya hanya dijual segar, warga kini bisa membawa pulang penghasilan sekitar Rp400 ribu hingga Rp800 ribu per hari.

1. Ikan melimpah, tapi dulu belum banyak diolah

Nelayan Fakfak olah ikan hasil tanggapan agar punya nilai lebih (dok. Tim Kementerian Transmigrasi)

Potensi perikanan di Distrik Weri-Saharey sebenarnya cukup besar. Ikan pelagis kecil dan ikan demersal menjadi bagian dari hasil tangkapan masyarakat.

Masalahnya bukan semata soal jumlah ikan. Kemampuan untuk mengolah hasil laut dan menjadikannya produk bernilai lebih tinggi masih terbatas.

Adnan, anggota TEP Unhas, mengatakan tim menemukan sejumlah tantangan di lapangan, mulai dari kemampuan pengolahan pascapanen, minimnya teknologi tepat guna, hingga terbatasnya akses pemasaran.

“Selain peluang, kami juga mencatat sejumlah tantangan, mulai dari kurangnya kemampuan pengolahan pascapanen, minimnya teknologi tepat guna, hingga terbatasnya akses pemasaran. Akibatnya, nelayan tidak berani menangkap ikan dalam jumlah banyak karena takut membusuk, dan penghasilan mereka menjadi tidak menentu,” kata Adnan, dalam keterangannya, dikutip Sabtu (31/10/2026).

Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada bagaimana ikan diolah menjadi makanan. Sebanyak 20 rumah tangga nelayan dari kelompok Seir Saharey juga mendapat pelatihan mengenai pengemasan, pelabelan produk, sanitasi, pengelolaan usaha, hingga pemasaran.

Para istri nelayan belajar mengolah ikan tanpa bahan pengawet. Mereka juga diperkenalkan dengan alat produksi seperti alat pengasapan dan vacuum sealer.

Sementara itu, para nelayan mendapat pengetahuan mengenai penanganan pascapanen menggunakan cold storage yang dapat membantu menyimpan hasil tangkapan selama lima hingga tujuh hari.

2. Dari ikan segar jadi bakso hingga abon

Nelayan Fakfak olah ikan hasil tanggapan agar punya nilai lebih (dok. Tim Kementerian Transmigrasi)

Bagi warga, perubahan paling terasa ada di dapur. Ikan yang sebelumnya cepat dijual atau dikonsumsi, kini bisa diolah menjadi produk yang memiliki umur simpan dan nilai jual lebih tinggi.

Bakso, nugget, keripik, hingga abon menjadi cara baru warga memandang hasil laut mereka.

Seorang warga yang akrab dipanggil Mama Nayu Ohoibor, salah satu peserta pendampingan, merasakan langsung perubahan tersebut.

“Alhamdulillah, sekarang kami sudah bisa kelola abon, bakso, nugget, sama keripik yang terbuat dari ikan. Tadinya yang kita hanya makan dan jual dengan murah. Dengan adanya kegiatan ini kami bisa berubah dari penghasilan yang tadinya mungkin sedikit, bisa menambah ekonomi dalam hidup kami ke depan,” ujarnya.

Dengan modal sekitar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per hari, kelompok nelayan Seir Saharey dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp400 ribu hingga Rp800 ribu.

Artinya, hasil usaha pengolahan ikan tersebut bisa mencapai sekitar tiga kali lipat dari modal yang dikeluarkan.

Di titik ini, ikan bukan lagi sekadar hasil tangkapan dari laut. Ia berubah menjadi bahan baku usaha, sumber pendapatan, sekaligus jalan kecil menuju kemandirian ekonomi keluarga.

3. Swasembada pangan dimulai dari potensi di sekitar warga

Nelayan Fakfak olah ikan hasil tanggapan agar punya nilai lebih (dok. Tim Kementerian Transmigrasi)

Apa yang dilakukan warga Weri-Saharey sejalan dengan gagasan pemerintah untuk memperkuat kemandirian pangan. Bagi masyarakat pesisir, kemandirian itu bisa dimulai dari sesuatu yang sudah tersedia di depan mata: laut dan hasil tangkapannya.

Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya menekankan pentingnya swasembada pangan dan energi di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian.

“Di tengah dunia sekarang, yang penuh dengan konflik dan perang-perang di mana-mana, kita harus swasembada pangan dan energi. Kita tidak boleh bergantung dengan bangsa lain,” ujar Prabowo dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Jawa Timur pada 19 September 2026.

Semangat itu kemudian diterjemahkan ke tingkat lokal. Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono berpesan, agar TEP tidak hanya memetakan persoalan masyarakat, tetapi juga mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan warga.

“Karena permasalahan itu pada akhirnya konteksnya lokal. Jadi kita boleh berpikir besar, sering kita menggunakan istilah think globally but act locally. Pada akhirnya lokal,” ujar AHY dalam dialog makan malam dengan Tim Ekspedisi Patriot di Jayapura, 17 September 2026.

Menteri Transmigrasi, M Iftitah Sulaiman Suryanagara juga menekankan bahwa pembangunan kawasan pada akhirnya harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat.

“Transformasi transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan bagaimana memastikan kesejahteraan tumbuh di kawasan tersebut,” ujarnya.

Di Saharey, langkah itu barangkali terlihat sederhana. Ikan ditangkap dari laut, dibawa pulang, lalu diolah bersama.

Namun, dari tangan-tangan warga itulah sebuah potensi perlahan menemukan nilai barunya. Laut tetap menjadi sumber kehidupan, tetapi kini hasilnya tak hanya berhenti di pasar ikan. Ia bisa berubah menjadi bakso, nugget, keripik, abon, dan yang tak kalah penting, tambahan penghasilan bagi keluarga nelayan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article