Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Depresi Mengintai Anak Muda, 9 dari 10 Orang Belum Berobat
ilustrasi depresi (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Kemenkes mencatat hanya 12,7 persen dari sekitar 3 juta orang dengan depresi di Indonesia yang mendapat pengobatan; beban tertinggi dialami usia 15–24 tahun.

  • Depresi pada penduduk di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen menurut SKI 2023. Sebanyak 6.549 puskesmas telah menyediakan layanan kesehatan jiwa.

  • Skrining 71,86 juta penduduk menemukan indikasi gejala depresi tertinggi pada ibu hamil dan nifas, 7,1 persen; Kemenkes juga meminta keluarga mendukung individu neurodivergent.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat baru 12,7 persen dari sekitar 3 juta orang dengan depresi di Indonesia yang mendapatkan pengobatan. Artinya, sekitar sembilan dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi mengatakan, beban depresi tertinggi berada pada kelompok usia muda, yakni 15–24 tahun.

“Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, sembilan dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan. Beban tertinggi justru berada pada kelompok anak muda usia 15 hingga 24 tahun,” ujar Endang Salma dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).

1. Prevalensi depresi penduduk berusia di atas 15 tahun capai 3 juta

Ilustrasi anak muda (IDN Times/Indonesia Gen Z Report)

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen atau sekitar 2,5 juta hingga 3 juta orang.

Mengutip data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), Endang menyebut, gangguan jiwa merupakan penyebab kedua terbesar hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia. Endang mengatakan, untuk mengatasi kesenjangan pengobatan, Kemenkes memperluas layanan kesehatan jiwa di fasilitas pelayanan kesehatan primer.

"Saat ini, sebanyak 6.549 puskesmas atau 64 persen dari seluruh puskesmas di Indonesia telah mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa," ucapnya

2. Hasil skrining indikasi gejala depresi tertinggi ditemukan pada ibu hamil

Pin penanda ibu hamil yang dirilis resmi oleh KAI (Dok. KAI Commuter)

Dia menjelaskan, Kemenkes menargetkan seluruh puskesmas dapat memberikan pelayanan kesehatan jiwa dalam dua tahun ke depan. Selain itu, sebanyak 932 puskesmas telah disiapkan agar ramah bagi penyandang disabilitas.

Melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta layanan rutin bagi ibu hamil dan ibu nifas melalui Antenatal Care (ANC), Kemenkes juga telah melakukan skrining kesehatan jiwa terhadap 71,86 juta penduduk berusia di atas 7 tahun.

"Hasil skrining menunjukkan indikasi gejala depresi tertinggi ditemukan pada kelompok ibu hamil dan ibu nifas, yakni 7,1 persen. Sementara itu, pada kelompok usia sekolah dan remaja, angkanya mencapai 2,3 persen," ujarnya.

3. Keluarga diminta memahami individu Neurodivergent

ilustrasi perawatan adhd dan autis (unsplash.com/robo wunderkind)

Selain memperluas layanan kesehatan jiwa, Kemenkes mengajak masyarakat dan keluarga memahami individu neurodivergent atau orang dengan keragaman cara kerja otak, termasuk individu dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia.

ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi fokus dan kontrol diri. Sementara itu, disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis.

Kemenkes menegaskan, kondisi tersebut bukan bentuk kemalasan ataupun akibat kesalahan pola asuh. Karena itu, keluarga diharapkan dapat menerima dan memberikan dukungan sesuai kebutuhan individu agar mereka dapat berkembang sesuai potensinya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article