Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Deretan Kata-Kata Tak Etis Terbaru Prabowo saat Pidato
Presiden Prabowo Subianto saat memberikan pidato dalam puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, pada Jumat, 18 September 2026.
  • Presiden Prabowo menyebut pakar yang mengkritik pemerintah “saking pintarnya jadi goblok” saat HUT ke-28 PAN, sambil menegaskan komitmennya pada kemakmuran dan pencegahan kelaparan.
  • Artikel mencatat sejumlah ucapan Prabowo yang dinilai kurang etis dalam pidato publik sepanjang 2026, termasuk “bajingan”, “endasmu”, “Londo Ireng”, dan “emang gue pikirin”.
  • PVRI menilai ucapan terhadap pakar menunjukkan sikap anti-pengetahuan, serta menekankan kebijakan negara perlu didasarkan pada data, fakta, kajian ilmiah, dan kesediaan pemimpin mendengar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rabu, 10 Juni 2026

Prabowo mengucapkan ejekan “Nye Nye Nye” saat menghadiri Munas XVIII HIPMI di Bandar Lampung.

Jumat, 10 Juli 2026

Prabowo menyebut “Koruptor Bajingan” saat meresmikan sejumlah bendungan di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Dalam momen peresmian bendungan di Nusa Tenggara Barat, ia juga mengucapkan “Emang Gue Pikirin”.

Minggu, 12 Juli 2026

Prabowo menyebut kata “Bajingan” pada Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 Tahun 2026. Pada kesempatan yang sama, ia mempersilakan warga yang merasa Indonesia suram untuk mencari negara lain.

Kamis, 23 Juli 2026

Prabowo menyebut “Londo Ireng” dalam pidato peringatan Harlah ke-28 PKB di Jakarta Convention Center. Istilah itu ditujukan kepada orang Indonesia yang dianggap mendukung kepentingan asing.

Rabu, 24 Juli 2026

Prabowo melontarkan kata “Endasmu” saat menghadiri Puncak PENAS Petani Nelayan XVII di Gorontalo.

Jumat, 18 September 2026

Prabowo menyebut para pakar “saking pintarnya jadi goblok” dalam pidato HUT ke-28 PAN di JICC. PVRI menilai pernyataan itu menunjukkan sikap anti-pengetahuan.

Sabtu (19/9/2026)

Direktur Eksekutif PVRI Muhammad Naziful Haq menyatakan umpatan Prabowo menandai sikap anti-pengetahuan dan dapat mengabaikan peran pakar dalam kebijakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Presiden Prabowo Subianto menyebut pakar yang mengkritisi pemerintah sebagai “saking pintarnya jadi goblok” dalam pidato HUT ke-28 PAN. Pernyataan itu memicu kritik dari Public Virtue Research Institute.
  • Who?
    Presiden Prabowo Subianto, kader dan hadirin PAN, serta Direktur Eksekutif Public Virtue Research Institute Muhammad Naziful Haq terlibat dalam pernyataan dan tanggapan yang muncul.
  • Where?
    Ucapan terbaru Prabowo disampaikan di Jakarta International Convention Center, Jakarta. Sejumlah ucapan sebelumnya berlangsung di berbagai daerah, termasuk Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Bandar Lampung, dan Jakarta.
  • When?
    Prabowo menyampaikan ucapan tersebut pada Jumat, 18 September 2026. Muhammad Naziful Haq menyampaikan kritiknya pada Sabtu, 19 September 2026.
  • Why?
    Prabowo menegaskan sumpahnya untuk melihat Indonesia sejahtera dan tidak ingin rakyat, terutama anak-anak, mengalami kelaparan atau kekurangan gizi. Ia kemudian menyinggung kritik dari pakar terhadap pemerintah.
  • How?
    Ucapan itu disampaikan dalam pidato di perayaan HUT PAN dan disambut tawa serta teriakan hadirin. PVRI menilai pernyataan tersebut sebagai sikap anti-pengetahuan dan mengkritik pengabaian peran pakar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Presiden Prabowo bicara di acara ulang tahun PAN di Jakarta. Ia bilang ingin Indonesia makmur dan anak-anak tidak lapar. Lalu ia menyebut pakar yang mengkritik pemerintah dengan kata “goblok”. Orang-orang di acara itu tertawa dan memanggil namanya. Ada lembaga bernama PVRI yang bilang kata itu tidak baik dan pakar penting untuk membantu membuat aturan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah polemik atas gaya berpidato Prabowo, artikel ini tetap memperlihatkan bahwa kemakmuran, pencegahan kelaparan, dan kecukupan gizi anak menjadi tujuan yang ia nyatakan. Pernyataannya bahwa kritik tidak dipermasalahkan juga membuka ruang bagi perdebatan publik mengenai pentingnya data, kajian ilmiah, dan peran pakar dalam kebijakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pidato Presiden Prabowo Subianto tengah menjadi sorotan publik, setelah menyebut para pakar dengan kata makian "goblok". Ucapan tersebut disampaikan Prabowo saat pidato perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat, 18 September 2026.

"Itu bukan sumpah saya, saya bersumpah untuk melihat Indonesia sejahtera, itu sumpah saya, terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok," kata Prabowo, yang disambut tawa hadirin.

Sebelum melontarkan kata-kata makian tersebut, Prabowo juga kerap menyatakan kata-kata kurang etis di hadapan publik seperti "Ndasmu", "Tolol", "Banjingan", hingga "Londo Ireng".

Berikut deretan ucapan nyeleneh Presiden Prabowo saat menyampaikan pidato di depan publik:

1. Daftar ucapan 'kasar' Prabowo saat pidato

Presiden Prabowo Subianto di HUT PAN (IDN Times/M. Ilman Nafi’an)

Berikut daftar ucapan 'kasar' Presiden Prabowo dari waktu ke waktu:

- Presiden Prabowo sebut kata "Bajingan" saat acara Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 Tahun 2026, Minggu, 12 Juli 2026. Konteksnya Prabowo kesal karena politisi ada juga yang bajingan.

- Pada kesempatan yang sama, Presiden Prabowo juga mempersilakan warga yang tak merasa Indonesia suram agar "Mencari Negara Lain".

- Prabowo juga kembali menyebut "Koruptor Bajingan" pada saat meresmikan sejumlah bendungan di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Jumat, 10 Juli 2026.

- Prabowo juga sering keluar dari mulutnya kata-kata "Emang Gue Pikirin". Terakhir saat momen peresmian bendungan di Nusa Tenggara Barat. Ia berkelakar kepada jurnalis agar tidak menyoroti ucapannya soal kata-kata tidak etis itu.

- Prabowo juga melontarkan kata "Endasmu" saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo pada Rabu, 24 Juli 2026. Konteksnya, Prabowo menyinggung anggapan bahwa kekayaan yang hanya dinikmati segelintir orang, pada akhirnya akan sampai ke masyarakat bawah.

- Ada juga kata-kata ejekan "Nye Nye Nye". Prabowo menirukan ekspresi orang nyinyir. Seperti saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Rabu, 10 Juni 2026.

- Prabowo sebut "Londo Ireng" dalam pidato sambutan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB, di Jakarta Convention Center (JCC), Gelora, Jakarta Pusat, Kamis, 23 Juli 2026. Kata-kata itu untuk menuding orang-orang Indonesia yang dianggap mendukung kepentingan asing.

- Terbaru, Prabowo sebut kata-kata "goblok" untuk para pakar yang mengkritisi pemerintahan. Ucapan tersebut disampaikan Prabowo saat pidato perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat, 18 September 2026.

- Pada kesempatan yang sama saat HUT PAN, Prabowo juga tak mau dipanggil "Aki" atau "Mbah Bowo", tapi maunya disapa "Mas Bowo". Konteksnya dia sedang bergurau dengan kader PAN. Dia mengaku lebih suka disapa "Bang Bowo" atau "Mas Bowo".

2. Prabowo sebut pakar "goblok" saat hadiri HUT ke-28 PAN

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyetujui usulan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan agar biaya kuliah di perguruan tinggi negeri digratiskan. Persetujuan itu disampaikan Presiden secara langsung pada puncak perayaan HUT ke-28 PAN di Plenary Hall Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat malam, 18 September 2026. (Dok. PAN)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengaku ingin Indonesia menjadi bangsa yang makmur. Oleh karena itu, dia tak ingin rakyat Indonesia ada yang kelaparan.

Prabowo menegaskan, tidak ingin ada anak-anak Indonesia yang berangkat sekolah dan kekurangan gizi. Sehingga hal itu menyebabkan anak Indonesia tidak bisa bersaing dengan bangsa lain.

Prabowo kemudian menyinggung pakar yang menyampaikan kritik pada pemerintah. Prabowo mengaku tak masalah dengan kritik yang disampaikan pakar.

"Itu bukan sumpah saya, saya bersumpah untuk melihat Indonesia sejahtera, itu sumpah saya, terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok," kata dia, disambut kader PAN dengan teriakkan "Prabowo" beberapa kali, dalam pidatonya di Perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat, 18 September 2026.

3. Pernyataan Prabowo disebut sebagai anti-sains

Presiden Prabowo Subianto saat menggelar pertemuan dengan pengusaha KADIN Pusat dan Daerah seluruh Indonesia, Jumat (31/7/2026). (Youtube/Sekretariat Presiden)

Public Virtue Research Institute (PVRI) menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pakar “saking pintarnya jadi goblok” menunjukkan sikap anti-pengetahuan. Kritik itu disampaikan Direktur Eksekutif PVRI, Muhammad Naziful Haq, setelah pernyataan Prabowo dalam HUT ke-28 PAN di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

“Pernyataan yang bersifat umpatan itu bukan kali pertama dilontarkan Presiden secara terbuka. Itu menandai sikap anti-pengetahuan,” kata Nazif, Sabtu (19/9/2026).

Nazif menilai sikap ilmiah penting dalam menentukan kebijakan negara, karena kemakmuran rakyat perlu ditelaah melalui data, fakta, dan kajian. Dia juga mengkritik sikap yang mengabaikan peran pakar dalam penyusunan kebijakan.

“Dia tidak peduli dengan pakar dan hanya ingin rakyat tidak lapar. Padahal kemakmuran rakyat perlu ditelaah melalui data, fakta, dan kajian ilmiah. Di situlah fungsi sains dan pakar," kata dia.

Menurut Nazif, pernyataan Prabowo tersebut membuat pemimpin kehilangan dua kompetensi dasar dalam demokrasi, yakni mau mendengar dan memiliki sikap ilmiah. Dia menyebut keduanya diperlukan saat menentukan prioritas dan target kebijakan.

“Pernyataan itu membuat seorang pemimpin kehilangan dua kompetensi dasar dalam berdemokrasi, yaitu mau mendengar dan punya sikap ilmiah," katanya.

Nazif menyebut krisis sikap ilmiah dalam pemerintahan dapat memunculkan persoalan dan biaya baru.

Curated For You

Editorial Team

Related Article