Jakarta, IDN Times - Lalu lintas Dukuh Atas menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) lumpuh total akibat blokade TNI terhadap mahasiswa yang menuju Bundaran HI pada Jumat (12/6/2026), sejak pukul 14.35 WIB. Pada pukul 14.40 WIB, massa dari arah Bundaran HI menghampiri blokade sehingga aparat dipres.
Mahasiswa yang diblokade terus berusaha menerobos kepungan aparat. Mereka terus menggemakan yel-yel. Mereka juga terus menyuarakan aspirasi.
“Hey antek-antek asing, bubarkan MBG. Hey aparat, buka jalan!” teriak mahasiswa.
“Revolusi, revolusi, revolusi!” sambut mahasiswa.
Pantauan IDN Times hingga pukul 15.12 WIB, mahasiswa masih diadang aparat. Lalu lintas masih lumpuh. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus akan menggelar demo di Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (12/6/2026) ini.
Kampus-kampus yang dipastikan ikut serta dalam aksi hari ini adalah BEM UI dan 15 BEM Fakultas yang ada di UI, BEM KM IPB, BEM PNJ, BEM Universitas Pancasila, Aliansi BEM Gunadarma, FMN Pusat, FMN UI, BEM UIN, Pembebasan dan Semar UI.
“Seribu lebih mahasiswa akan turun ke Bundaran HI,” kata Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan kepada IDN Times.
BEM UI juga mengundang kepada seluruh elemen masyarakat; mahasiswa, buruh, guru, pedagang, ibu rumah tangga, serta siapapun yang merasakan bahwa negara ini sedang berjalan ke arah yang salah.
“Datanglah! Pupus harapan pemerintah akan berubah dikarenakan pemimpinnya arogan, sombong, dan tantrum. Kita rebut keadilan! Karena Keadilan tidak datang sendiri. Ia harus dijemput oleh rakyat Indonesia yang besar, bukan pemerintah yang berlagak besar padahal pemimpinnya hanya pelayan oligarki dan petugasnya trump,” ujar Athof.
Terdapat lima tuntutan yang disuarakan dalam aksi tersebut:
1. Stop pemborosan APBN
2. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM
3. Hentikan program MBG dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih
4. Hentikan militerisme di ranah sipil
5. Menuntut Prabowo berhenti mengelak dan akui kesalahan pemerintah
“Kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah ekonomi hanya tumbuh di atas kertas, tapi di meja makan rakyat, tidak ada yang berubah. Harga beras naik, lapangan kerja menyempit, rakyat sekarat dihajar pajak. Dan pemerintah? Sibuk memoles citra sambil membagi proyek kepada kroni,” kata Athof.
