Kasus Campak di AS Mulai Melonjak, Tersebar di 45 Wilayah

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat mencatat 2.318 kasus campak sepanjang 2026. Angka ini melampaui total 2.289 kasus pada 2025 dan menjadi rekor tahunan tertinggi sejak 1991.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merilis data tersebut pada Jumat (24/7/2026). Penularan yang terus meluas ini mengancam status bebas campak yang dipertahankan AS sejak tahun 2000.
Lonjakan kasus terutama terjadi di wilayah dengan tingkat imunisasi yang rendah. CDC melaporkan sebanyak 93 persen pasien campak tahun ini belum menerima vaksin.
Saat ini, cakupan vaksinasi campak, gondong, dan rubela (MMR) pada anak taman kanak-kanak turun menjadi 92,5 persen. Angka ini berada di bawah target kekebalan kelompok sebesar 95 persen.
1. 2.302 kasus tersebar di 45 wilayah AS
Sebanyak 2.302 kasus tersebar di 45 wilayah AS, sedangkan 16 kasus lainnya berasal dari wisatawan internasional. Kelompok usia 0 hingga 19 tahun menyumbang 69 persen dari total kasus. Anak-anak usia dini menjadi kelompok yang paling rentan tertular.
Beberapa wilayah mengalami penyebaran besar, seperti South Carolina, Utah, Arizona, dan Texas. Sebagian besar kasus baru ini terhubung dengan jaringan penularan yang muncul sepanjang 2026.
"Kita sedang menyaksikan krisis kesehatan yang sebenarnya bisa kita cegah," kata Presiden American Academy of Pediatrics, Andrew Racine, dilansir Hindustan Times.
2. Penurunan imunisasi memicu penyebaran penyakit
Otoritas kesehatan menilai penurunan cakupan vaksinasi sebagai faktor utama meluasnya penularan. Di 16 negara bagian, tingkat imunisasi MMR pada anak TK bahkan berada di bawah 90 persen.
Keraguan orang tua dan penyebaran informasi yang tidak akurat membuat sebagian warga menunda atau menolak imunisasi anak.
Penularan di wilayah perbatasan Utah dan Arizona bahkan telah berlangsung lebih dari satu tahun. Kondisi ini membuat status eliminasi campak AS kembali dievaluasi oleh otoritas kesehatan regional.
3. Komplikasi kesehatan mengancam keselamatan anak-anak
Campak menyebabkan gejala seperti demam tinggi, batuk, dan ruam merah pada kulit. Pada kondisi berat, penyakit ini dapat memicu pneumonia hingga peradangan otak.
CDC mencatat 10 persen anak berusia di bawah lima tahun yang terinfeksi campak tahun ini harus menjalani perawatan di rumah sakit. Meskipun belum ada laporan kematian pada 2026, wabah campak pada tahun sebelumnya menewaskan tiga orang, termasuk dua anak-anak.
Para pakar kesehatan menegaskan pentingnya dua dosis vaksin MMR untuk menghentikan penularan. Tanpa peningkatan cakupan vaksinasi, lonjakan kasus dikhawatirkan akan membebani sistem kesehatan di berbagai wilayah.




















