Jakarta, IDN Times - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menjelaskan Morgan Stanley Composite Index (MSCI) tidak sama dengan lembaga finansial International Monetary Fund (IMF) yang bisa dipengaruhi oleh kepentingan politik pemerintah tertentu. Sehingga, MSCI sebagai perusahaan penyedia indeks pasar saham global tidak akan bersedia didikte oleh negara manapun. Mereka hanya bersedia tunduk kepada acuan yang telah ditetapkan sendiri.
"MSCI itu organisasi non pemerintah yang netral, independen dan tidak berkepentingan. Oleh karena itu MSCI menjadi acuan utama bagi para investor global. Modal dasar MSCI adalah kepercayaan, trust, dan karena itu mereka tidak akan mau didikte negara manapun," ungkap Dino di dalam video penjelasan yang diunggah di akun media sosialnya pada Sabtu (24/10/2026).
Ia mengatakan rekam jejak MSCI sejak didirikan pada tahun 1969 sudah dikenal baik oleh para pelaku di industri perbankan. MSCI, kata Dino, menerapkan tolak ukur yang sama bagi Indonesia, China, India, Korea Selatan hingga Brasil. Perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat (AS) itu tidak memandang sistem pemerintahan negara tertentu ketika memberikan penilaian.
Dengan kriteria yang sama, skor Indonesia di indeks MSCI pernah berada di angka 2,6 persen. Namun, dengan kriteria yang sama pula, skor Indonesia anjlok ke angka 0,3 persen.
"Dengan kiteria yang sama, skor China adalah sekitar 20 persen, India 11 persen, Korea Selatan 18 persen, Brasil 4,8 persen, Meksiko 1,7 persen, Afrika Selatan 3 persen, dan Uni Emirat Arab 1,7 persen. Tidak ada konspirasi, hanya ada penilaian yang profesional," tutur dia.
Itu sebabnya sikap MSCI yang sedang berkonsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menurunkan pasar saham ke standalone market didasari oleh penilaian yang obyektif.
