Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ditjenpas Pindahkan 115 Napi High Risk ke Nusakambangan
Sebanyak 115 warga binaan kategori high risk dipindahkan dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur ke Nusakambangan. (Dok.Ditjenpas )
  • Ditjenpas memindahkan 115 napi kategori high risk dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur ke Lapas Nusakambangan untuk memperkuat sistem pengamanan nasional di lingkungan pemasyarakatan.
  • Proses pemindahan dilakukan lewat jalur laut dan darat dengan pengawalan ketat 77 personel, melibatkan Ditjenpas, Brimob Polri, Kepolisian Lalu Lintas, serta jajaran kantor wilayah terkait.
  • Pemindahan ini merupakan implementasi kebijakan risk based placement guna menempatkan warga binaan sesuai tingkat risiko agar pengamanan dan pembinaan berjalan lebih optimal di Nusakambangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ada 115 orang napi yang dijaga ketat dipindah ke pulau Nusakambangan. Mereka datang dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Banyak polisi dan petugas ikut menjaga supaya aman. Mereka naik kapal dan mobil sampai tiba malam hari di pelabuhan. Sekarang semua sudah sampai selamat, dan tempat barunya lebih aman untuk dijaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) memindahkan 115 warga binaan kategori high risk dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur ke Lapas Nusakambangan, sebagai bagian dari penguatan sistem pengamanan nasional di lingkungan pemasyarakatan.

Sebanyak 79 warga binaan berasal dari Sulawesi Selatan dan 36 lainnya dari Jawa Timur. Seluruh proses pemindahan dilakukan dengan pengawalan ketat oleh 77 personel yang melibatkan Ditjenpas, Korps Brimob Polri, Kepolisian Lalu Lintas, serta jajaran kantor wilayah dan unit pelaksana teknis pemasyarakatan.

"Pemindahan warga binaan kategori high risk merupakan operasi pengamanan yang membutuhkan perencanaan matang dan koordinasi yang kuat. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan melalui Direktorat Pengamanan dan Intelijen memimpin pelaksanaan kegiatan ini dengan dukungan penuh dari Kepolisian serta jajaran Kantor Wilayah dan Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan terkait," ujar Juru Bicara Ditjenpas, Rika Aprianti, dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (21/7/2026).

1. Diberangkatkan lewat jalur laut dan darat

Sebanyak 115 warga binaan kategori high risk dipindahkan dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur ke Nusakambangan. (Dok.Ditjenpas )

Rombongan diberangkatkan dari Lapas Kelas IIB Maros pada 17 Juli 2026 menuju Surabaya melalui jalur laut. Pada 19 Juli, 36 warga binaan dari Jawa Timur bergabung sehingga total menjadi 115 orang sebelum diberangkatkan ke Nusakambangan melalui jalur darat.

2. Rombongan tiba di Pelabuhan Wijayapura Senin dini hari

Sebanyak 115 warga binaan kategori high risk dipindahkan dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur ke Nusakambangan. (Dok.Ditjenpas )

Rombongan tiba di Pelabuhan Wijayapura, Cilacap, pada Senin (20/7/2026) pukul 01.20 WIB, kemudian menyeberang ke Pelabuhan Sodong, Nusakambangan.

Ditjenpas memastikan seluruh warga binaan dan petugas pengawal tiba dengan selamat serta menegaskan pemindahan narapidana kategori high risk akan terus dilakukan secara terukur untuk menjaga keamanan dan ketertiban di lapas dan rutan di seluruh Indonesia.

3. Implementasi kebijakan risk based placement

Narapidana (napi) dari Lapas Kelas 1 Makassar dipindahkan ke Nusakambangan, Jumat (17/7/2026). (Dok. Istimewa)

Rika mengatakan kolaborasi lintas instansi menjadi faktor utama, sehingga seluruh proses pemindahan berjalan aman, tertib, lancar, dan terkendali. Menurutnya, pemindahan tersebut merupakan implementasi kebijakan risk based placement, yakni menempatkan warga binaan sesuai tingkat risiko agar pengamanan dan pembinaan lebih optimal.

"Nusakambangan memiliki fungsi strategis sebagai kawasan pemasyarakatan dengan tingkat pengamanan tinggi. Penempatan warga binaan high risk di Nusakambangan merupakan langkah untuk mengoptimalkan pengamanan sekaligus mendukung proses pembinaan yang lebih efektif sesuai dengan tingkat risiko masing-masing warga binaan," kata Rika.

Editorial Team

Related Article