Erupsi Anak Krakatau, CCTV Pemantau Rusak Terkena Material Vulkanik

- Erupsi Anak Krakatau sejak Jumat malam masih berlangsung hingga Sabtu pagi, disertai dentuman dan gemuruh; aktivitas malam hari diinterpretasikan sebagai lava fountain.
- CCTV pemantau rusak terkena lontaran material vulkanik, sehingga pengamatan langsung terhenti; tercatat satu letusan beramplitudo 70 milimeter dengan durasi 21.600 detik.
- PVMBG menilai tubuh gunung yang terbentuk pasca-2018 masih kecil dan tidak berpotensi runtuh memicu tsunami; warga diminta menjauhi kawah serta mengikuti informasi resmi.
Jakarta, IDN Times - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pagi. Kamera pengintai (CCTV) rusak sehingga tidak ada laporan pengamatan langsung.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan erupsi terus menerus yang dimulai sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB tersebut, disertai terdengarnya dentuman dan suara gemuruh dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau periode pengamatan hari ini pukul 00.00–06.00 WIB, erupsi masih berlangsung dan secara visual diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lava air mancur yang teramati pada malam hari.
"Dalam pemantauan visual, gunungapi teramati jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0–III, sementara asap kawah tidak teramati. Kamera CCTV pengamatan di lapangan dilaporkan tidak beroperasi setelah terkena lontaran material vulkanik," kata Berton, dalam keterangan tertulis.
"Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi yang tercatat dalam laporan selama 21.600 detik. Kondisi cuaca di sekitar gunungapi berawan hingga mendung, dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut," sambungnya.
Berton menjelaskan terdengarnya dentuman dan suara gemuruh dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau menjadi bagian dari aktivitas erupsi yang masih berlangsung.
"Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunungapi untuk melihat aktivitas erupsi maupun mengambil gambar atau video, mengingat masih terdapat potensi lontaran material dari kawah aktif," kata dia.
Kekhawatiran masyarakat, kata Berton, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung, terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau, turut menjadi perhatian pemerintah. Kekhawatiran tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman masyarakat terhadap peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Berton menjelaskan berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018, masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Oleh sebab itu, diharapkan kepada masyarakat agar tidak panik.
"Meski demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari PVMBG serta tidak mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan aktivitas visual maupun suara dentuman yang terdengar," kata Berton.

















