Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
 Fakta Koperasi di Era Digital: Masih Jadul atau Sudah Berubah?
Ilustrasi Digitalisasi (marketeers)
  • KDMP didorong memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi usaha, mengintegrasikan rantai pasok, dan memperluas pasar; Kopontren Al Ittifaq memakai sistem digital dari produksi hingga distribusi.
  • Di Mamuju, 147 pengurus KDMP dilatih menggunakan TikTok, Instagram, dan WhatsApp Business untuk membuat konten, storytelling, serta membangun kepercayaan calon pembeli produk lokal.
  • AI mulai diperkenalkan sebagai alat bantu pemasaran, seperti mencari ide konten dan mengenali audiens. Transformasi digital koperasi masih bertahap, bergantung pada infrastruktur dan kesiapan SDM.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Digitalisasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mulai diterapkan pada pengelolaan usaha, rantai pasok, pemasaran produk lokal, dan penggunaan AI sebagai alat bantu promosi.
  • Who?
    Komdigi, pengurus KDMP, Kopontren Al Ittifaq, pelaku UMKM, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, serta 147 pengurus KDMP di Mamuju terlibat dalam program dan pelatihan digitalisasi.
  • Where?
    Penerapan dan pelatihan berlangsung antara lain di Ciwidey dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat; Mamuju, Sulawesi Barat; serta Kabupaten Bogor.
  • When?
    Meutya Hafid mengunjungi Pesantren Al Ittifaq pada Sabtu, 25 April 2026. Pelatihan pemasaran digital berbasis AI di Kabupaten Bogor berlangsung pada April 2026.
  • Why?
    Digitalisasi diarahkan untuk meningkatkan efisiensi usaha, mengintegrasikan rantai pasok, memperluas akses pasar, serta mendukung koperasi desa berkembang berkelanjutan.
  • How?
    Koperasi menggunakan sistem digital untuk perencanaan produksi, kualitas, dan distribusi; sementara pengurus dilatih memakai TikTok, Instagram, WhatsApp Business, serta AI untuk konten dan strategi pemasaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dulu membayangkan koperasi mungkin identik dengan meja administrasi, buku anggota, dan catatan transaksi. Urusannya pun lekat dengan simpanan dan pinjaman.

Gambaran koperasi seperti itu memang masih bisa ditemui hingga kini. Namun, kemunculan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) membawa tantangan baru, yakni bagaimana koperasi tidak hanya menjadi tempat simpan-pinjam, tetapi juga mampu mengelola usaha, menghubungkan produk lokal dengan pasar, dan mengikuti perkembangan ekonomi digital.

Karena itu, ketika membahas KDMP, pertanyaannya bukan sekadar apakah koperasi masih menggunakan cara lama, melainkan seberapa jauh teknologi mulai mengubah cara koperasi desa menjalankan bisnisnya.

Pada era ekonomi digital, KDMP mulai diarahkan untuk memanfaatkan teknologi dalam tata kelola, pemasaran, hingga memperluas akses pasar.  Lantas, apakah koperasi benar-benar sudah meninggalkan cara lama? Yuk, cek faktanya.

1. Bukan cuma simpan-pinjam, ini wajah baru koperasi digital

ilustrasi digitalisasi bisnis (pexels.com/Christina Morillo)

FAKTA: Digitalisasi koperasi mulai menyentuh pengelolaan usaha.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut ada tiga fokus dalam percepatan digitalisasi KDMP, yakni meningkatkan efisiensi usaha, mengintegrasikan rantai pasok, dan memperluas akses pasar.

Salah satu koperasi yg sudah menerapkan transformasi digital adalah Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al Ittifaq di Ciwidey, Jawa Barat. Koperasi ini telah mengintegrasikan aktivitas dari hulu ke hilir, mulai dari produksi hingga distribusi. Sistem digital digunakan untuk membantu perencanaan produksi, menjaga kualitas produk, dan mempercepat distribusi.

Arah tersebut menjadi relevan dalam pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), salah satu program strategis Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat perekonomian desa. Penguatan KDMP membutuhkan ekosistem usaha, kapasitas pengelola, serta pemanfaatan teknologi agar koperasi desa mampu berkembang secara berkelanjutan.

“Ketika program MBG terhubung dengan ekosistem koperasi seperti ini, maka dampaknya akan luas, tidak hanya bagi penerima manfaat, tetapi juga bagi petani, peternak, hingga distribusi pangan nasional,” ungkap Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat mengunjungi Pesantren Al-Ittifaq di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/4/2026).

Kasus tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya digunakan untuk membuat koperasi terlihat modern. Data dan sistem digital mulai dipakai untuk mendukung proses bisnis yang sebelumnya banyak dilakukan secara konvensional.

Namun, penting dicatat, kondisi setiap koperasi tidak sama. Digitalisasi masih berjalan bertahap dan membutuhkan kesiapan infrastruktur serta sumber daya manusia.

2. Digitalisasi koperasi dari desa dan daerah

Ilustrasi digital (pexels.com/Gustavo Fring)

FAKTA: Platform digital mulai digunakan untuk membantu pemasaran koperasi.

Contohnya terlihat di Mamuju, Sulawesi Barat. Sebanyak 147 pengurus KDMP mendapat pelatihan optimalisasi platform digital untuk memperkuat pemasaran produk lokal.

Materinya mencakup penggunaan TikTok, Instagram, dan WhatsApp Business. Pengurus juga belajar membuat konten, storytelling, hingga memanfaatkan konten ulasan untuk membangun kepercayaan calon pembeli.

Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital Komdigi Rizki Ameliah menilai koperasi tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara konvensional jika ingin berkembang.

“Pelaku usaha, koperasi, termasuk Koperasi Desa Merah Putih, tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional jika ingin berkembang dan naik kelas,” tutur Rizki.

Jadi, digitalisasi di sini bukan sekadar membuat akun media sosial. Platform tersebut diarahkan menjadi kanal promosi untuk memperkenalkan produk koperasi kepada konsumen yang lebih luas.

3. Benarkah AI sudah dipakai koperasi?

ilustrasi AI (Dok. img.lab45.id)

FAKTA: AI mulai diperkenalkan sebagai alat bantu pemasaran KDMP 

Di sejumlah daerah, Komdigi mulai memberikan pelatihan pemasaran digital berbasis AI kepada koperasi dan pelaku UMKM. Di Kabupaten Bogor, misalnya, pelatihan pada April 2026 secara khusus membahas pemasaran digital menggunakan kecerdasan artifisial.

Pemanfaatannya pun cukup sederhana dan dekat dengan kebutuhan bisnis. AI dapat digunakan untuk membantu mencari ide konten, menyusun naskah promosi, mengenali target audiens, hingga mengembangkan strategi pemasaran.

Artinya, ketika disebut KDMP mulai memanfaatkan AI, bukan berarti koperasi sudah memiliki robot atau sistem AI yang menjalankan seluruh bisnisnya. Dalam tahap ini, AI lebih tepat dipahami sebagai alat bantu bagi pengurus dan pelaku usaha untuk bekerja lebih cepat dan kreatif.

Hal tersebut penting karena digitalisasi tidak cukup hanya dengan mengenalkan teknologi. Pengurus juga perlu memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara tepat dan memahami aspek keamanan data.

4. Jadi, koperasi masih ketinggalan zaman?

Ilustrasi digital (pixabay.com/Pexels)

Anggapan bahwa koperasi hanya berkutat pada buku tabungan dan pinjaman sudah mulai berubah. Kini ada praktik digitalisasi yang menyentuh administrasi, rantai pasok, pemasaran, hingga penggunaan AI sebagai alat bantu.

Namun, tingkat pemanfaatan teknologi masih berbeda-beda, tergantung infrastruktur dan kesiapan SDM di masing-masing daerah.

Karena itu, ukuran koperasi digital bukan sekadar punya aplikasi, akun media sosial, atau menggunakan AI. Ukurannya lebih konkret: apakah teknologi membuat pencatatan lebih rapi, proses usaha lebih efisien, pemasaran lebih luas, dan keputusan bisnis lebih berbasis data?

Kesimpulannya, transformasi digital koperasi belum selesai. Namun, perubahan sudah terlihat dari pencatatan manual menuju data digital, dari mengandalkan pasar sekitar menuju kanal online, dan dari promosi konvensional menuju pemanfaatan AI sebagai alat bantu.

Koperasi mungkin masih punya buku anggota. Bedanya, kini buku itu mulai ditemani data, platform digital, dan teknologi yang membuat koperasi lebih siap menghadapi ekonomi masa depan. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Editorial Team

Related Article