Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
FPN Kecam “Shadow Relationship” RI-Israel: Jangan Ada Hubungan
potret bendera Israel (pexels.com/Andrew Patrick Photo)
  • FPN mengecam dugaan hubungan Indonesia-Israel yang tidak terbuka dan menyebutnya sebagai shadow relationship.
  • FPN menyoroti laporan yang memuat kontak, perdagangan, serta kemungkinan kerja sama di sektor strategis.
  • FPN mendesak pemerintah menolak normalisasi, membuka transparansi, dan mengevaluasi hubungan dengan Israel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2024

Perdagangan bilateral Indonesia-Israel mencapai US$111,4 juta berdasarkan data Israel Central Bureau of Statistics yang dikutip laporan tersebut.

Januari 2026

Elbit Systems disebut memperoleh kontrak senilai US$183 juta dari Kementerian Pertahanan Israel untuk memasok amunisi udara.

Mei 2026

Misgav Institute for National Security di Israel menerbitkan laporan yang menyebut hubungan Indonesia-Israel sebagai shadow relationship.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    FPN mengecam dugaan shadow relationship Indonesia-Israel dan mendesak transparansi atas kemungkinan hubungan tersebut.
  • Who?
    Free Palestine Network, Furqan AMC, pemerintah Indonesia, Kementerian Pertahanan, Elbit Systems, dan Israel menjadi pihak yang disebut.
  • Where?
    Jakarta; hubungan yang disoroti melibatkan Indonesia dan Israel.
  • When?
    Laporan Misgav Institute for National Security diterbitkan pada Mei 2026. Data perdagangan yang disoroti mencatat 2024, sementara kontrak Elbit disebut pada Januari 2026.
  • Why?
    FPN menilai dugaan hubungan itu bertentangan dengan sikap Indonesia yang mendukung kemerdekaan Palestina.
  • How?
    FPN menyampaikan pernyataan sikap serta mendesak penolakan normalisasi, audit, penghentian kerja sama baru, dan mekanisme transparansi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

FPN bilang ada dugaan hubungan Indonesia dan Israel yang tidak terlihat jelas. Furqan AMC dari FPN meminta pemerintah tidak membuat atau menambah hubungan dengan Israel. FPN juga meminta pemerintah membuka semua hubungan yang ada, terutama soal perdagangan, teknologi, dan pertahanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dorongan FPN agar pemerintah memberikan transparansi mengenai hubungan dengan perusahaan dan institusi Israel menempatkan asal negara, kepemilikan, serta afiliasi pemasok sebagai hal yang perlu diketahui masyarakat. Permintaan audit terhadap anak perusahaan, konsorsium, dan perantara negara ketiga juga memperluas perhatian pada jalur hubungan yang tidak terbuka.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Free Palestine Network (FPN) mengecam adanya dugaan hubungan Indonesia-Israel yang berlangsung secara tidak terbuka, atau disebut sebagai shadow relationship. FPN menilai hubungan semacam itu bertentangan dengan sikap Indonesia yang selama ini mendukung kemerdekaan Palestina.

Sekretaris Jenderal FPN, Furqan AMC, mengatakan pemerintah seharusnya konsisten menjalankan politik luar negeri dan amanat konstitusi, dengan tidak membuka ataupun mengembangkan hubungan dengan Israel selama penjajahan dan penindasan terhadap rakyat Palestina masih berlangsung.

1. FPN soroti laporanoran soal “shadow relationship” RI-Israel

bendera Israel (pexels.com/Leon Natan)

Furqan mengatakan FPN serius menyoroti laporan Misgav Institute for National Security di Israel yang diterbitkan pada Mei 2026. Dalam laporan tersebut, hubungan Indonesia-Israel disebut sebagai shadow relationship.

Menurut laporan yang dikutip FPN, meski Indonesia dan Israel secara resmi tidak memiliki hubungan diplomatik, terdapat kontak yang tidak terbuka, kerja sama keamanan tertentu, perdagangan langsung maupun tidak langsung, serta hubungan komersial melalui negara ketiga.

Furqan menilai informasi tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Sebab, menurut dia, normalisasi hubungan tidak selalu ditandai dengan pembukaan kedutaan besar atau hubungan diplomatik secara resmi.

“Normalisasi tidak selalu dimulai dengan pembukaan kedutaan besar. Normalisasi dapat berlangsung sedikit demi sedikit melalui perdagangan, teknologi, investasi, penelitian, kerja sama industri, pertahanan, dan hubungan antarlembaga,” ujar dia.

FPN juga menyoroti data perdagangan yang dicantumkan dalam laporan tersebut. Berdasarkan data Israel Central Bureau of Statistics yang dikutip laporan itu, perdagangan bilateral Indonesia-Israel mencapai 111,4 juta dolar AS pada 2024. Sementara estimasi yang memasukkan perdagangan tidak langsung melalui negara ketiga disebut mendekati 500 juta dolar AS per tahun.

Menurut Furqan, laporan tersebut juga menyebut perdagangan dapat berlangsung melalui perantara negara ketiga, anak perusahaan, konsorsium multinasional, serta mekanisme white-labeling. Kondisi itu dinilai berpotensi membuat asal-usul teknologi Israel tidak diketahui publik Indonesia.

2. FPN khawatir kerja sama merambah teknologi hingga pertahanan

Free Palestine Network (FPN) menggelar aksi simpatik di seluruh Indonesia pada Minggu pagi (8/2/2026). (Dok. Media FPN)

Furqan mengatakan kekhawatiran FPN semakin besar karena laporan tersebut juga menawarkan perluasan kerja sama Indonesia-Israel ke sejumlah sektor strategis.

Sektor yang disebut antara lain pertanian dan ketahanan pangan, pengelolaan air, teknologi, kecerdasan buatan atau AI, keamanan siber, manufaktur, teknologi pertahanan, hingga sektor maritim.

Menurut FPN, kerja sama tersebut bahkan dapat dikemas bukan sebagai normalisasi diplomatik, melainkan bagian dari agenda pembangunan dan modernisasi Indonesia.

“Tidak boleh ada ‘shadow relationship’ antara Indonesia dan Israel,” tegas Furqan.

FPN secara khusus meminta pemerintah, terutama Kementerian Pertahanan dan institusi pertahanan Indonesia, memberikan transparansi mengenai setiap bentuk hubungan dengan perusahaan industri militer Israel.

Salah satu perusahaan yang disoroti adalah Elbit Systems. FPN menyebut perusahaan tersebut sebagai salah satu perusahaan pertahanan terbesar Israel dan pemasok utama sistem militer Israel.

Furqan juga menyinggung kontrak senilai US$183 juta yang disebut diperoleh Elbit Systems dari Kementerian Pertahanan Israel pada Januari 2026 untuk memasok amunisi udara.

“Indonesia tidak dapat secara moral dan politik menyatakan membela Palestina, sementara pada saat yang sama membuka kemungkinan kerja sama dengan industri yang menjadi bagian dari mesin perang Israel,” ujar Furqan.

3. FPN mendesak pemerintah menolak normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel

Sejumlah massa dari Free Palestine Network (FPN) melakukan aksi simpatik di Tugu Tani, Jakarta Pusat. (Dok. FPN)

Atas dugaan tersebut, FPN mendesak pemerintah menolak normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Mereka juga meminta pemerintah menghentikan dan tidak membuat kerja sama baru dengan Israel di bidang pertahanan dan persenjataan.

Kerja sama yang dimaksud mencakup pengadaan senjata, drone, radar, sistem elektronik, keamanan siber, hingga teknologi militer lainnya, baik secara langsung maupun melalui perusahaan perantara dan negara ketiga.

FPN juga meminta pemerintah tidak menjalin kerja sama penelitian dan teknologi dengan institusi Israel, terutama yang berkaitan dengan pertahanan, keamanan, AI, surveillance, cyber-security, dan teknologi dual-use.

Selain itu, pemerintah didesak melakukan audit terhadap kemungkinan keterlibatan perusahaan Israel melalui anak perusahaan, white-labeling, konsorsium, ataupun perantara negara ketiga.

FPN juga meminta pemerintah mengevaluasi dan secara bertahap menghentikan perdagangan dengan Israel. Mereka mendorong adanya mekanisme transparansi agar masyarakat dapat mengetahui asal negara, kepemilikan, dan afiliasi perusahaan yang memasok barang maupun teknologi kepada pemerintah Indonesia.

“Jika Indonesia ingin berdiri bersama Palestina, keberpihakan itu harus terlihat bukan hanya dari apa yang kita katakan di Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi juga dari dengan siapa kita berdagang, dari siapa kita membeli senjata, dengan siapa kita melakukan penelitian, dan dengan siapa kita membangun industri strategis,” kata Furqan.

FPN menilai Indonesia memiliki banyak pilihan mitra internasional untuk memenuhi kebutuhan teknologi pertanian, keamanan siber, industri pertahanan, AI, dan teknologi maju lainnya. Karena itu, mereka menilai kebutuhan tersebut tidak harus dipenuhi melalui kerja sama dengan Israel.

Furqan mengatakan solidaritas Indonesia terhadap Palestina bukan sekadar persoalan agama. Menurut dia, dukungan tersebut juga merupakan persoalan kemanusiaan, antikolonialisme, serta amanat konstitusi.

FPN mengklaim organisasinya telah terhimpun di lebih dari 67 kabupaten/kota di 31 provinsi dan beberapa negara. Mereka menyatakan akan terus mendorong pemerintah agar dukungan Indonesia terhadap Palestina diwujudkan tidak hanya melalui pernyataan, tetapi juga kebijakan konkret.

Curated For You

Editorial Team

Related Article