Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Iran Berencana Larang Kapal AS dan Israel Berlayar di Selat Hormuz

Iran Berencana Larang Kapal AS dan Israel Berlayar di Selat Hormuz
potret bendera Amerika Serikat dan Israel (pexels.com/www.kaboompics.com )
Intinya Sih
  • Iran dan Oman dilaporkan menyiapkan kesepakatan Selat Hormuz yang melarang kapal AS serta Israel berlayar atau transit, sebagai balasan atas serangan 28 Februari.
  • Iran berencana mengenakan tarif 7 persen bagi seluruh kapal kargo dan denda 20 persen bagi pelanggar aturan; dana disebut untuk asuransi, bahan bakar, dan perawatan lingkungan.
  • Rencana pungutan dikecam AS karena Selat Hormuz dianggap perairan internasional; status pembukaannya masih diperselisihkan Iran dan Trump, yang mengancam serangan lanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran dikabarkan berencana melarang kapal dari Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk berlayar atau sekadar transit di Selat Hormuz. Menurut laporan media Iran pada Kamis (6/8/2026), rencana itu akan diterapkan di bawah kesepakatan bersama antara Iran dan Oman soal pembukaan jalur kritis untuk pelayaran komersial yang ada di Selat Hormuz.  

Dalam kesepakatan tersebut, kapal dari AS dan Israel akan dilarang untuk berlayar atau melintas di jalur kritis di Selat Hormuz. Hal ini merupakan balasan karena Washington dan Tel Aviv sudah menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Padahal, Presiden AS, Donald Trump, sudah berharap kesepakatan Iran dan Oman soal Selat Hormuz akan menguntungkan Negeri Paman Sam.

1. Iran juga berencana memungut tarif di Selat Hormuz

Kapal-kapal sedang berlayar di Selat Hormuz.
Kapal-kapal sedang berlayar di Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/MC2 Indra Beaufort)

Dalam kesepakatan dengan Oman, Iran juga berencana memungut tarif sebesar 7 persen untuk semua kapal kargo yang berlayar atau transit di Selat Hormuz. Selain itu, Iran juga berencana memberikan denda sebesar 20 persen terhadap kapal kargo yang melanggar aturan Teheran dan Muscat di selat tersebut.  

Seorang anggota parlemen Iran yang tidak disebut namanya mengatakan, tarif yang dipungut negaranya di Selat Hormuz bukan untuk kepentingan pribadi. Sebab, tarif itu nantinya akan digunakan untuk biaya asuransi, biaya pengisian bahan bakar, dan biaya perawatan lingkungan di sekitar Selat Hormuz.

2. Pungutan tarif di Selat Hormuz dikecam banyak pihak

Tarif di Selat Hormuz.
ilustrasi tarif di Selat Hormuz (unsplash.com/Markus Winkler)

Sebetulnya, rencana Iran untuk memungut tarif di Selat Hormuz ini sudah dikecam oleh banyak pihak, termasuk AS. Trump sudah berulang kali mengatakan Teheran tidak boleh memungut tarif di Selat Hormuz. Sebab, selat tersebut merupakan perairan internasional di mana setiap kapal punya hak bebas berlayar di dalamnya. Hal ini tentu berbeda dengan terusan, seperti Terusan Suez dan Terusan Panama. 

Terusan Suez dan Terusan Panama merupakan jalur perdagangan khusus yang dibangun oleh sejumlah negara, bukan fenomena alam yang terbentuk sendiri seperti Selat Hormuz. Terusan dibuat dengan tujuan untuk memotong jalur perdagangan yang terlalu panjang. Oleh karena itu, negara-negara yang membangun terusan diperbolehkan untuk memungut tarif bagi kapal yang ingin berlayar di sana. Langkah ini merupakan timbal balik dari pembangunan terusan karena kapal jadi bisa mengirim barang ke negara lain dengan cepat.

3. Trump mengancam akan menyerang Iran jika Selat Hormuz tidak kunjung dibuka

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang diwawancara oleh jurnalis Fox News, Rachel Campos Duffy, pada 14 April 2025.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang diwawancara oleh jurnalis Fox News, Rachel Campos Duffy, pada 14 April 2025. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Hingga saat ini, Selat Hormuz masih ditutup dan dikuasai oleh Iran. Padahal, Trump sudah berulang kali mengancam akan melanjutkan serangan ke Iran jika selat yang menjadi salah satu jalur andalan ekspor dan impor minyak dunia itu tidak segera dibuka. 

Namun, dalam pernyataan terbarunya, Trump mengklaim bahwa Selat Hormuz kini sudah dibuka, tetapi hanya terbatas. Di sisi lain, Iran mengklaim selat tersebut kini masih ditutup dan masih ada di bawah kendalinya sampai kesepakatan bersama dengan Oman diresmikan. 

“Sekarang, ini (Selat Hormuz) sudah agak terbuka. Anda tahu, kita punya sesuatu yang disebut blokade yang dipimpin oleh angkatan laut AS dan kita mengendalikannya. Namun, mereka (Iran) selalu bisa menembak sesuatu. Mereka selalu punya sesuatu atau memasang ranjau. Jika ada satu ranjau yang tergeletak di sana, itu akan mengacaukan segalanya karena orang-orang tidak ingin membawa kapal mereka yang bernilai miliaran dolar dan secara tidak sengaja terkena ranjau,” ucap Trump.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More