Jakarta, IDN Times - Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. Pergantian nama itu diselenggarakan melalui upacara pergantian bendera di atas geladak kapal yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).
Upacara rangkaian reflagging dari bendera Italia yang berganti dengan bendera Indonesia dipimpin langsung Chief Of Staff Italian Navy Admiral Giuseppe Berutti Bergotto dan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali.
Setelah resmi berganti bendera merah putih, rangkaian dilanjutkan dengan shipnaming dan pengukuhan Komandan KRI Sriwijaya-100 yang dipimpin langsung oleh Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.
Prosesi tersebut menjadi momentum penting yang menandai perubahan status kapal, sekaligus transformasi identitasnya sebagai bagian dari armada TNI AL.
Selain itu hadir pula, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono. Panglima bersama ketiga Kepala Staf TNI tampak menyalami satu per satu perwakilan tentara dan anak buah kapal dari pihak Italia.
Kapal yang sebelumnya memperkuat Angkatan Laut Italia tersebut kini mengemban nama KRI Sriwijaya-100, dengan bendera merah putih sebagai simbol kedaulatan dan pengabdian kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebelumnya, kapal tersebut telah menempuh pelayaran selama 25 hari dengan jarak sekitar 6.870 mil laut, melintasi Terusan Suez, Laut Merah dan Samudra Hindia.
Dalam perjalanan menuju Indonesia, kapal juga bersinggah di Mesir, Arab Saudi dan Sri Lanka untuk kebutuhan logistik, pengisian bahan bakar maupun dukungan teknis.
Kehadiran KRI Sriwijaya-100 tidak sekadar menambah jumlah unsur dalam jajaran TNI AL, tetapi juga menjadi bagian dari langkah penguatan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) dalam menghadapi dinamika lingkungan strategis yang terus berkembang.
Kehadiran KRI Sriwijaya-100 berfungsi untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP) khususnya dalam penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Kapal ini juga mempertegas langkah TNI dalam memperkuat dan memodernisasi Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL, sekaligus menunjukkan komitmen pertahanan dan pengamanan wilayah laut Indonesia.
