Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Groundsill Krueng Baru Dibangun untuk Pulihkan Irigasi Aceh Selatan

3 min read
Groundsill Krueng Baru Dibangun untuk Pulihkan Irigasi Aceh Selatan
Ketua Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pusat (Satgas PRRP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Imran. (dok. Istimewa)
  • Bencana hidrometeorologi November 2025 merusak bangunan pengambilan air Sungai Krueng Baru, mengganggu irigasi pertanian di Aceh Selatan dan berpotensi berdampak hingga Aceh Barat Daya.

  • Pemerintah membangun kembali groundsill untuk mendukung pengairan sekitar 350 hektare sawah di Labuhanhaji, menjaga budidaya petani, dan mengejar target lima kali panen dalam dua tahun.

  • Proyek senilai Rp1,6 miliar ditargetkan selesai November 2026; per 4 Oktober, konstruksi mencapai 38 persen dan ditujukan mendukung irigasi 15 desa di Labuhanhaji Barat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Selatan pada November 2025, merusak bangunan pengambilan air di Sungai Krueng Baru, Kecamatan Labuhanhaji Barat. Kerusakan tersebut mengganggu fungsi jaringan irigasi yang memasok air untuk lahan pertanian di Aceh Selatan.

Untuk memulihkan fungsi pengairan pascabencana, pemerintah membangun kembali groundsill atau bangunan pengendali dasar sungai di Krueng Baru. Infrastruktur ini diharapkan dapat menjaga pasokan air bagi lahan pertanian, sekaligus mendukung target peningkatan frekuensi panen.

"Kalau ini tidak kita perbaiki, pengairan atau aliran sawah yang ada di Aceh Barat Daya juga akan terdampak,” kata Ketua Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pusat (Satgas PRRP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Imran, dalam keterangan, Senin (19/10/2026).

  1. 1. Pemulihan irigasi pascabencana

    Groundsill Krueng Baru Dibangun untuk Pulihkan Irigasi Aceh Selatan
    Potret Korban Banjir Aceh Berjalan Kaki Menyusuri Sisi-sisi Tenge Besi (IDN Times/M Saifullah)

    Imran mengatakan pembangunan kembali groundsill atau bangunan pengendali dasar sungai menjadi bagian penting dari pemulihan jaringan irigasi pascabencana.

    Menurut Imran, keberadaan bangunan tersebut berkaitan dengan pasokan air untuk lahan pertanian, baik di Aceh Selatan maupun Aceh Barat Daya.

    "Salah satu kawasan penerima manfaat utamanya adalah Kecamatan Labuhanhaji, Aceh Selatan, dengan sekitar 350 hektare sawah yang ditargetkan mendapat dukungan pengairan dari infrastruktur tersebut," ucapnya.

  2. 2. Ketersediaan air jadi faktor penting pascabencana

    Groundsill Krueng Baru Dibangun untuk Pulihkan Irigasi Aceh Selatan
    Wamen Komdigi Nezar Patria mengunjungi sejumlah Kabupaten di Wilayah Bencana Aceh pada Kamis (4/12/25). (Dok. Kementerian Komdigi)

    Bagi petani, lanjutnya, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlangsungan budidaya dan meningkatkan frekuensi panen. Pemulihan aliran irigasi diharapkan membantu pemerintah daerah mencapai target indeks pertanaman lima kali panen dalam dua tahun.

    “Ini tentunya sangat krusial untuk ketahanan pangan yang ada di wilayah Kabupaten Aceh Selatan,” ujar Imran.

  3. 3. Pembangunan groundsill memakan anggaranRp1,6 miliar

    Groundsill Krueng Baru Dibangun untuk Pulihkan Irigasi Aceh Selatan
    Potret korban banjir Aceh berjalan kaki menyusuri sisi-sisi Tenge Besi. (IDN Times/M Saifullah)

    Sementara, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Aceh Selatan, Skar Fharaby, menjelaskan bangunan pengambilan air tersebut terakhir direhabilitasi pada 2018. Namun, bencana hidrometeorologi pada November 2025 merusak bangunan itu dan mengganggu fungsi sistem irigasi.

    “Tangkapan air tersebut sudah ditangani di tahun 2018. Namun, setelah bencana hidrometeorologi, tangkapan air tersebut menjadi hancur. Nah, ini sekarang akan kami bangun kembali,” kata Skar.

    Pembangunan kembali groundsill menggunakan anggaran Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp1,6 miliar. Struktur tersebut memiliki panjang tapak 15 meter dan tinggi 4 meter, dengan panjang penanganan mencapai 100 meter. Pekerjaan ini membutuhkan sekitar 3.000 meter kubik batu gajah.

    Selain membantu menjaga elevasi muka air, bangunan tersebut berfungsi mengendalikan erosi atau gerusan dasar sungai dan menstabilkan alur air agar aliran dapat masuk ke bangunan pengambilan (intake) sebelum diteruskan ke jaringan irigasi.

    Pekerjaan dimulai pada Mei silam dan ditargetkan selesai pada November 2026. Hingga 4 Oktober 2026, progres konstruksi mencapai sekitar 38 persen, sedangkan realisasi keuangan tercatat sekitar 30 persen. Skar mengatakan pihaknya terus mendorong percepatan agar infrastruktur dapat segera difungsikan untuk mendukung pengairan di 15 desa di Kecamatan Labuhanhaji Barat.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More