Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hasil Ekshumasi Sutrimo: Ditemukan Kafein dan Tanda Risiko Penyakit Jantung
Ketua Tim Ekshumasi Ahmad Yudianto (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Tim Ekshumasi Polda Metro Jaya menemukan kafein di berbagai organ tubuh Sutrimo serta tanda risiko penyakit jantung.

  • Pemeriksaan tidak menemukan luka akibat kekerasan, patah tulang terkait kekerasan, maupun pestisida, alkohol, arsen, dan sianida.

  • Penyakit jantung iskemik tidak dapat disingkirkan sebagai penyebab kematian, sementara temuan kafein dinilai dapat memperberat kondisi tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rabu (30/9/2026)

Ahmad Yudianto menyampaikan hasil ekshumasi dan autopsi dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tim Ekshumasi menemukan kafein di berbagai organ tubuh Sutrimo dan tanda risiko penyakit jantung. Tidak ditemukan luka akibat kekerasan maupun patah tulang terkait kekerasan.
  • Who?
    Tim Ekshumasi Polda Metro Jaya, dipimpin Ketua Tim Ekshumasi dan Autopsi Ahmad Yudianto, memeriksa jenazah Sutrimo.
  • Where?
    Jumpa pers mengenai hasil pemeriksaan disampaikan di Polda Metro Jaya.
  • When?
    Hasil pemeriksaan disampaikan pada Rabu (30/9/2026).
  • Why?
    Penyakit jantung iskemik tidak dapat disingkirkan sebagai penyebab kematian. Kafein dinilai dapat memperberat kondisi penyakit tersebut.
  • How?
    Tim melakukan pemeriksaan luar, dalam, toksikologi, histopatologi, serta pemeriksaan penunjang dengan mempertimbangkan informasi medis dan investigasi lainnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tim memeriksa tubuh Sutrimo dan menemukan kafein serta tanda risiko penyakit jantung. Tim tidak menemukan luka karena kekerasan atau patah tulang. Ahmad Yudianto menjelaskan hasil pemeriksaan itu. Penyakit jantung iskemik belum bisa disingkirkan sebagai penyebab kematian. Semua hasil pemeriksaan perlu dilihat bersama, bukan satu-satu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh melalui pemeriksaan luar, dalam, toksikologi, histopatologi, dan pemeriksaan penunjang. Penjelasan tim juga menekankan pentingnya melihat seluruh temuan secara terintegrasi, sehingga hasil individual tidak digunakan secara terpisah untuk menentukan penyebab maupun cara kematian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Tim Ekshumasi Polda Metro Jaya menemukan adanya kafein di berbagai organ tubuh Sutrimo. Selain itu, ditemukan pula tanda risiko penyakit jantung melalui Frank’s sign, yaitu lipatan atau garis kerutan diagonal pada cuping telinga.

Tim tidak menemukan adanya luka akibat kekerasan, baik senjata tajam maupun tumpul, dan tidak ditemukan adanya patah tulang yang berkaitan dengan kekerasan. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Ekhumasi dan Autopsi, Ahmad Yudianto, dalam jumpa persnya di Polda Metro Jaya, Rabu (30/9/2026).

"Pemeriksaan toksikologi dari organ beserta tanah yang ada di sekitar pemakaman tidak menemukan adanya kandungan pestisida, alkohol, arsen, maupun sianida. Di sisi lain, pemeriksaan menemukan adanya kafein pada berbagai organ dan jaringan tubuh," kata Yudianto.

Selain itu, ditemukan adanya faktor risiko dan perubahan patologis pada sistem kardiovaskular, antara lain adanya tanda Frank's sign, yaitu lekukan pada cuping telinga kanan dan kiri, lemak abdomen yang tebal, dinding arteri koroner yang keras dan menebal.

"Serta ditunjang dengan pemeriksaan histopatologi yang menunjukkan adanya penyempitan lumen arteri, pembuluh arteri itu sampai mencapai sekitar 75 persen," ujar dia.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut secara keseluruhan, baik pemeriksaan luar, dalam, maupun pemeriksaan penunjang, Tim menyimpulkan bahwa penyakit jantung iskemik tidak dapat disingkirkan sebagai penyebab kematian. 

"Kafein yang ditemukan dalam tubuh dinilai dapat berperan sebagai faktor pencetus yang memperberat kondisi penyakit tersebut. Dengan demikian, hasil pemeriksaan forensik perlu dipahami secara terintegrasi dengan mempertimbangkan temuan pemeriksaan jenazah, pemeriksaan toksikologi, kondisi patologis, serta informasi medis dan investigasi lainnya. Temuan individual tidak dapat digunakan secara terpisah untuk menentukan penyebab kematian maupun cara kematian," ujar Yudianto.

Curated For You

Editorial Team

Related Article