Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hotspot Karhutla di Kalbar Capai 198 Titik, BNPB Pantau Potensi Hujan
Tenaga Ahli Kepala BNPB Brigjen TNI (Purn.) Asrianus Bulo. (Dok/Screenshot Youtube Sekretariat Kabinet).
  • BNPB mendeteksi 198 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat dalam 24 jam terakhir, yang mengindikasikan potensi titik api dan asap.
  • Sekitar 3.100 hotspot berkepercayaan menengah dan 406 lainnya turut terpantau, dengan sebaran dominan di Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, Sanggau, Sintang, dan Sambas.
  • BNPB memantau potensi hujan ringan pada 21-27 Agustus 2026, terutama di Kalbar timur, sambil berkoordinasi dengan BMKG setelah OMC dihentikan sementara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 198 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Kalimantan Barat dalam 24 jam terakhir berdasarkan pemantauan satelit.

Tenaga Ahli Kepala BNPB Brigjen TNI (Purn.) Asrianus Bulo mengatakan menyebut titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tersebut mengindikasikan adanya potensi titik api dan asap. Selain itu, terdeteksi sekitar 3.100 hotspot dengan tingkat kepercayaan menengah dan 406 hotspot dengan tingkat kepercayaan lainnya.

"3.100 (titik ini) berupa kepulan asap. Sebaran hotspot didominasi wilayah Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara di wilayah sektor selatan, sedangkan di wilayah timur ada kabupaten Sanggau, Sintang dan Sambas," ujar Asrianus Bulo saat memaparkan kondisi terkini di Karhutla di Kalaimantan, Sabtu (22/8/2026).

BNPB juga memantau adanya potensi hujan dengan intensitas ringan di wilayah Kalimantan Barat pada periode 21-27 Agustus 2026. Potensi hujan tersebut terutama berada di wilayah timur Kalimantan Barat.

Di sisi lain, BNPB bersama instansi terkait telah melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada 11-18 Agustus 2026. Namun, operasi tersebut dihentikan sementara karena belum terdapat potensi pertumbuhan awan.

BNPB menyatakan telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi pertumbuhan awan dalam beberapa hari ke depan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article