Sebanyak 68,6 Persen Korban Tewas Gempa NTT adalah Anak dan Perempuan

- Sebanyak 48 dari 70 korban meninggal akibat gempa NTT adalah anak dan perempuan dewasa.
- Kemen PPPA meminta perlindungan perempuan dan anak diprioritaskan, termasuk melalui pendataan pengungsi terpilah.
- Laporan dugaan kekerasan seksual di pengungsian mandiri Kabupaten Sikka masih dalam proses koordinasi.
Jakarta, IDN Times - Sebanyak 48 dari 70 korban meninggal dunia akibat gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan anak dan perempuan dewasa. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) meminta perlindungan kelompok rentan diperkuat dalam setiap tahap penanganan bencana.
“Dalam situasi bencana, perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan dan harus menjadi prioritas dalam setiap tahapan penanganan. Karena itu, seluruh proses penanganan bencana perlu mengedepankan perlindungan perempuan dan anak, dengan memastikan kebutuhan spesifik mereka terpenuhi, termasuk melalui pendataan pengungsi yang terpilah agar bantuan dan perlindungan dapat diberikan secara tepat sasaran,” kata Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam siaran pers yang dikutip Sabtu (22/8/2026).
1. Ada 48 korban tewas anak dan perempuan

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, meninjau posko bencana tanah longsor di Dusun Pasirkuning, Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, pada Minggu (25/1/2026). (Dok. KemenPPPA) Data yang diterima Kemen PPPA dari Dinas Pengampu Urusan PPPA NTT per 18 Agustus 2026 mencatat 70 orang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, 14 merupakan anak dan 34 perempuan dewasa atau sekitar 68,6 persen dari total korban meninggal.
2. Ada dugaan kekerasan seksual di pengungsian

Menteri PPPA Arifah Fauzi di acara Dies Natalis ke-45 FISIP USU, Sabtu (8/11/2025) (IDN Times/Doni Hermawan) Kemen PPPA juga menyoroti laporan dugaan kekerasan seksual di lokasi pengungsian mandiri Kabupaten Sikka. Laporan tersebut masih dalam proses koordinasi. Arifah mengingatkan kondisi bencana dan pengungsian dapat meningkatkan risiko kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Setiap laporan harus ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku dan kepentingan korban harus tetap menjadi perhatian utama,” ujar Arifah.
3. Pos SAPA didorong diperkuat

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenteriPPPA) Arifah Fauzi bicara pencegahan kekerasan seksual di lokasi bencana banjir. (IDN Times/Amir Faisol) Arifah mendorong percepatan pendataan terpilah, pemenuhan kebutuhan khusus perempuan dan anak, penyediaan ruang aman, serta dukungan psikososial melalui Pos SAPA. Koordinasi juga diperkuat bersama BNPB, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, organisasi kemanusiaan, mitra pembangunan, dunia usaha, dan masyarakat.
“Perlindungan perempuan dan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Dalam situasi bencana sekalipun, hak-hak perempuan dan anak harus tetap dipenuhi dan mereka harus mendapatkan bantuan serta perlindungan sesuai kebutuhannya,” ungkap Arifah.
Gempa magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026) dan berdampak di sejumlah wilayah Flores. BNPB pada awal penanganan mencatat 47 orang meninggal dunia dan lebih dari 5.000 warga mengungsi. Data korban kemudian terus diperbarui. Pada 18 Agustus, Kementerian Kesehatan menyebut jumlah korban meninggal mencapai 70 orang dan 43.391 warga mengungsi di NTT. Sejumlah fasilitas kesehatan juga terdampak, termasuk dua rumah sakit di Nagekeo yang operasionalnya terganggu. Kondisi pengungsian membuat kebutuhan dasar, layanan kesehatan, serta perlindungan kelompok rentan menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana.



















