Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hujan Diprediksi Pertengahan November, Menhut Minta Tetap Waspada Karhutla

3 min read
Hujan Diprediksi Pertengahan November, Menhut Minta Tetap Waspada Karhutla
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menjatuhkan sanksi administratif kepada enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) setelah hasil pengawasan menemukan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada areal yang mereka kelola dengan total luas mencapai 1.511,55 hektare di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. (Dok. Kemenhut)
  • BMKG memprediksi hujan alami di Kalimantan Selatan baru hadir pada pertengahan November.

  • Raja Antoni meminta pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, dan relawan memperkuat koordinasi penanganan karhutla.

  • Hotspot Kalsel turun menjadi 15 titik, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan karena sebagian wilayahnya merupakan kawasan gambut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, mengingatkan seluruh pihak untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel). Hal ini menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa hujan alami di Kalsel akan terjadi pada pertengahan November.

Menhut Raja Antoni menyampaikan hal tersebut saat meninjau penanganan karhutla di Hutan Lindung Liang Anggang, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Senin (12/10/2026).

“Karena seperti yang disampaikan oleh BMKG, hujan alami itu baru akan hadir di Kalimantan Selatan ini pada pertengahan November atau dasarian kedua November,” ujar dia dalam keterangan tertulis.

  1. 1. Menhut minta seluruh pihak memperkuat koordinasi lapangan

    Hujan Diprediksi Pertengahan November, Menhut Minta Tetap Waspada Karhutla
    Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat melakukan peninjauan karhutla di Berau, Rabu (26/8/2026). (dok. Kemenhut)

    Menurut dia, kondisi tersebut membuat seluruh pihak masih memiliki waktu sekitar satu bulan untuk terus menjaga kewaspadaan dan memastikan penanganan karhutla berjalan maksimal. Dia meminta jajaran pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, hingga para relawan terus memperkuat koordinasi di lapangan.

    “Oleh karena itu, masih ada sekitar satu bulan lagi, ya, di mana saya berharap di bawah pimpinan Pak Gubernur, Kapolda, Pak Pangdam, dengan Manggala Agni, dengan relawan, semuanya untuk tetap waspada,” kata dia.

  2. 2. Kewaspadaan perlu ditingkatkan di kawasan gambut

    Hujan Diprediksi Pertengahan November, Menhut Minta Tetap Waspada Karhutla
    Menhut Raja Juli Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Guntung Damar, Kalimantan Selatan, Minggu (23/8/2026). (dok. Kemenhut)

    Dia mengatakan, kewaspadaan penting dijaga mengingat sebagian wilayah Kalsel merupakan kawasan gambut. Dia mengingatkan, kebakaran dapat kembali membesar apabila seluruh pihak lengah.

    “Karena apabila kita lengah, Anda tahu di basisnya gambut, maka kebakaran ini satu waktu akan bisa meledak kembali,” ujar dia.

    Menhut pun optimistis koordinasi seluruh unsur dapat menjaga kondisi hingga hujan alami tiba.

    “Insyaallah saya percaya ya dengan koordinasi yang sangat baik,” kata Raja.

  3. 3. Menhut sebut karhutla di Kalsel terendah di Kalimantan

    IMG_0100.jpeg
    Menhut Raja Antoni saat meninjau lokasi karhutla di Kabupaten Banjar, Kalsel, Minggu (23/8/2026). (dok.Kemenhut)

    Menhut mengatakan, hotspot atau titik panas kebakaran karhutla di Kalimantan Selatan (Kalsel) kini terendah di Kalimantan.

    Meski demikian, dia mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak membuat pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla menjadi terlena.

    “Kita masih punya tantangan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, namun hal itu tidak membuat kita terlena,” kata dia.

    Berdasarkan data Sipongi Kemenhut dengan cut off 11 Oktober 2026 pukul 23.59 WIB, jumlah hotspot di enam provinsi prioritas tercatat 519 titik. Di Kalimantan, Kalimantan Tengah masih menjadi provinsi dengan hotspot tertinggi, yakni 199 titik, meski turun dari 288 titik pada 10 Oktober.

    Kalimantan Selatan juga mengalami penurunan dari 28 menjadi 15 titik, selanjutnya Kalimantan Barat meningkat dari 44 menjadi 68 titik.

    Sementara itu, Sumatra Selatan tercatat 223 hotspot, Riau 14 titik, dan Jambi nol titik. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah untuk terus menjaga kewaspadaan dan memperkuat koordinasi penanganan karhutla, khususnya di wilayah yang masih menghadapi tantangan kebakaran.

    “Saya minta seluruh pihak terus menjaga kerja sama dan kekompakan di lapangan. Kita bekerja maksimal untuk memastikan karhutla dapat ditangani dengan baik,” ujar dia.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More