Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Indonesia Bakal Unjuk Gigi Pasar Karbon hingga Swasembada Pangan di COP31 Turki

3 min read
Indonesia Bakal Unjuk Gigi Pasar Karbon hingga Swasembada Pangan di COP31 Turki
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Indonesia akan membawa capaian pasar karbon dan swasembada pangan dalam kehadirannya di COP31.

  • Cadangan beras pemerintah mencapai 5,3 juta ton dan Indonesia mulai mengekspor beras ke Malaysia.

  • Delegasi Indonesia juga menyiapkan rancangan undang-undang perubahan iklim berkeadilan dan energi baru terbarukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Indonesia siap menghadiri Conference of the Parties (COP31) atau konferensi iklim tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Antalya, Turki pada 9-20 November 2026.

Konferensi ini diselenggarakan di bawah naungan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah perjanjian internasional yang dibentuk tahun 1992.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo yang akan memimpin Delegasi menyatakan, Indonesia akan menyampaikan pemenuhan janji pada COP30 di Beleum, Brasil terkait Pasar Karbon hingga swasembada pangan.

“Pasar karbon sudah terwujud suatu sistem registrasi unit karbon. Itu tanggal 9 Juli dan ini menunjukkan kerja sama yang luar biasa, koordinasi yang erat antara 20 kementerian dan lembaga,” kata Hashim setelah pertemuan koordinasi tingkat menteri dalam rangka persiapan delegasi Republik Indonesia pada COP31 di Jakarta, Senin (12/10/2026).

  1. 1. Indonesia akan menyatakan pencapaian swasembada pangan

    Dalam rangka mewujudkan misi swasembada pangan Perum Bulog Kanwil Jawa Barat  terus melakukan penyerahan Gabah Beras petani. (Dok. Bulog)
    Dalam rangka mewujudkan misi swasembada pangan Perum Bulog Kanwil Jawa Barat terus melakukan penyerahan Gabah Beras petani. (Dok. Bulog)

    Selain itu, Hashim juga bakal menyatakan bahwa Indonesia tidak akan memperluas atau membuka lahan sawah baru di kawasan hutan. Keputusan itu didasari oleh realisasi cadangan beras nasional yang melonjak tajam.

    “Program yang dulu ditetapkan pemerintah, yaitu pembukaan hutan bisa sampai 2 juta hektare dan lebih atau kurang, itu tidak perlu lagi. Perluasan hutan, perluasan sawah tidak diperlukan lagi. Karena lahan sawah yang sedang dipakai sudah cukup mencukupi kebutuhan swasembada pangan kita,” kata Hashim.

  2. 2. Indonesia sudah ekspor beras

    Menteri Pertanian (Mentan), Kapolri, dan Panglima TNI bersinergi dalam mengakselerasi pencapaian swasembada pangan dengan meluncurkan program ‘Gugus Tugas Polri Mendukung Ketahanan Pangan’ pada Rabu (20/11/2024). (Dok. Kementan)
    Menteri Pertanian (Mentan), Kapolri, dan Panglima TNI bersinergi dalam mengakselerasi pencapaian swasembada pangan dengan meluncurkan program ‘Gugus Tugas Polri Mendukung Ketahanan Pangan’ pada Rabu (20/11/2024). (Dok. Kementan)

    Hashim mengatakan, target swasembada beras yang awalnya dipatok Presiden Prabowo Subianto untuk dicapai pada 2029, sudah berhasil direalisasikan tiga tahun lebih awal.

    Saat ini, cadangan beras pemerintah di gudang-gudang penampungan telah menembus angka 5,3 juta ton dan terus bertambah.

    “Bahkan karena begitu penuh, kita sudah mencapai bahkan pemerintah memutuskan untuk ekspor beras. Yang pertama adalah Malaysia. Kami dapat laporan 500 ribu ton akan dijual ke Malaysia, akan diekspor,” kata dia.

    Selain Malaysia, Hashim juga menyebut Mesir, negara yang selanjutnya bakal membeli beras Indonesia. Hal itu menjadi perbincangan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Mesir dalam pertemuan pekan kemarin.

    “Dan ada negara-negara lainnya juga. Ini karena sukses dalam bidang produksi pangan, maka tidak perlu lagi seolah-olah merusak atau menebang hutan primer. Tidak perlu lagi,” kata dia.

    “Jadi ini satu hal, satu pesan yang penting yang saya akan bawa sebagai utusan khusus di Turki bahwa Indonesia tidak perlu lagi membuka lahan atau membuka hutan untuk produksi dan untuk swasembada pangan. Karena sudah tercapai,” lanjutnya.

  3. 3. Indonesia juga bakal memaparkan RUU Perubahan Iklim dan EBT

    IMG_0482.jpeg
    Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (IDN Times/Irfan Fathurohman)

    Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup (LH), Jumhur Hidayat, menjelaskan, persiapan COP31 telah mencakup berbagai inisiatif yang akan dibawa Indonesia ke forum internasional, termasuk rancangan undang-undang terkait perubahan iklim berkeadilan dan energi baru terbarukan.

    “Jadi intinya kita sudah siap semua dan beberapa inisiatif juga sudah dipaparkan begitu, nanti akan kita sampaikan di COP31, termasuk rancangan undang-undang tentang perubahan iklim yang berkeadilan, kemudian tentang energi baru terbaharukan (EBT). Ya, itu satu inisiatif yang ditunggu-tunggu juga oleh dunia internasional terkait dengan perubahan iklim,” kata Jumhur.

    Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menekankan pentingnya landasan hukum yang komprehensif untuk menangani krisis iklim, dengan memperhatikan aspek mitigasi, adaptasi, kerugian dan kerusakan (loss and damage), serta perlindungan pembela iklim.

    “Untuk penanganan krisis iklim, pengendalian krisis iklim, kita mengeluarkan undang- undang yang saat ini sedang dibahas, Undang-Undang Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan. Jadi, aspek pengendalian dan aspek keadilannya itu yang kita tekankan. Kita masukkan isu penanganan terkait mitigasi, adaptasi, loss and damage, bahkan perlindungan pembela iklim pun akan kita masukkan di sana. Jadi, ini adalah sebuah rancangan undang-undang yang sangat komprehensif agar kita bisa menangani permasalahan iklim yang kita hadapi,” kata Eddy Soeparno.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More