Pelaksanaan salat Istisqa atau salat meminta hujan yang dilakukan di Griya Agung Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)
Berikut tata cara dan panduan melaksanakan salat istisqa menurut Kemenag RI.
Pertama, imam dan makmum berkumpul di tanah lapang untuk melaksanakan salat secara berjamaah.
Kedua, imam dan makmum tanpa didahului azdan dan iqamat berniat membaca niat salat istisqa.
أصلي سنة الاستسقاء ركعتين مستقبل القبلة اماما/ماموما لله تعالى
Ketiga, sesudah takbiratul ihram, imam dan makmum melakukan takbir 7x pada rakaat pertama, dan 5x takbir pada rakaat kedua.
Keempat, pada tiap-tiap rakaatnya imam membaca surat al-fatihah dan satu surat pendek secara jelas yang dapat didengarkan oleh para makmum. Dilanjutkan dengan dua sujud dan duduk di antara dua sujud.
Kelima, pada rakaat kedua setelah sujud, imam dan makmum melakukan duduk tahiyyat akhir dan membaca bacaan tahiyyat, tasyahhud, dan selawat seperti yang dibaca dalam salat wajib. Diakhiri dengan bacaan salam dengan menolehkan wajah serta kepala ke kanan dan ke kiri.
Keenam, imam menyampaikan khotbah dan didengarkan oleh jemaah yang hadir. Khotbah salat istisqa terdiri dari dua khotbah yang disampaikan khatib dengan cara berdiri dan sekali duduk di antara kedua khotbah. Rukun khotbah dan tata caranya dalam salat istisqa' sama dengan yang dilakukan khatib sesudah salat Idul Fitro. Di antaranya membaca takbir 9x pada khotbah pertama dan takbir 7x pada khotbah kedua.
Dalam materi khotbah dianjurkan khatib mengajak umat Islam untuk bertaubat, meminta ampunan atas segala dosa. Selain itu, jemaah diimbau memperbanyak istighfar dengan harapan Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan makhluk hidup lainnya di tengah berlangsungnya kemarau panjang.
Lebih lanjut, Khatib disunnahkan membaca doa ketika mengakhiri khotbah pertama dan khotbah kedua. Khatib membalikkan badan dan membelakangi jemaah untuk menghadap kiblat, menukar posisi selendang sorban di pundaknya, seraya mengangkat kedua tangannya untuk berdoa.