- Pantau pengukuran udara, bukan hanya warna langit
Saat Asap Karhutla Bertemu Polusi Kota, Apa Dampaknya?

BMKG mencatat asap karhutla sempat memasuki Jawa Barat dan Jabodetabek pada 16 Oktober 2026, lalu menjauh; satelit tidak menunjukkan dampak kualitas udara di permukaan.
Jika mencapai permukaan, asap karhutla dapat menambah PM2.5 dan gas pencemar kota, serta berpotensi membentuk ozon tergantung cuaca, kimia udara, dan kondisi polutan setempat.
Paparan asap dapat mengganggu mata hingga paru, terutama kelompok rentan; warga dianjurkan memantau PM2.5 dan ISPU, membatasi aktivitas luar, serta menjaga udara dalam rumah.
Kota sudah memiliki polusi dari berbagai sumber sebelum kabut asap karhutla datang. Kendaraan, industri, dan aktivitas lain menghasilkan partikel serta gas pencemar. Ketika asap karhutla terbawa angin ke kawasan perkotaan, polutan dari berbagai sumber itu dapat hadir bersamaan di udara yang dihirup warga.
Dalam laporan pada 17 Oktober 2026, BMKG menyebut asap karhutla sempat terpantau memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, sehari sebelumnya. Asap itu kemudian bergerak menjauh. BMKG juga menegaskan bahwa deteksi satelit saat itu tidak menunjukkan dampak pada kualitas udara di permukaan.
Pada laporan yang sama, pengukuran PM2.5 di Kemayoran berkisar 46,7–109,7 mikrogram per meter kubik. Kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah stasiun Jakarta bervariasi dari baik hingga tidak sehat, dengan PM2.5 sebagai parameter kritis. Data tersebut menunjukkan kondisi udara yang terukur di beberapa titik.
Table of Content
Partikel dan gas apa saja yang bercampur?
Asap kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel sangat halus dan berbagai jenis gas. Salah satu yang paling diperhatikan adalah PM2.5, yaitu partikel mikroskopis yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru. Selain itu, asap juga dapat mengandung karbon monoksida, nitrogen oksida, senyawa organik volatil (VOC), dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Kandungan asap dapat berbeda-beda, tergantung pada apa yang terbakar dan bagaimana kondisi kebakarannya.
Di sisi lain, polusi udara di perkotaan berasal dari berbagai sumber, terutama kendaraan bermotor. Inventarisasi emisi Jakarta berbasis data tahun 2015 memperkirakan transportasi jalan menjadi salah satu sumber utama nitrogen oksida, karbon monoksida, VOC, dan karbon hitam. Perlu diingat, angka tersebut merupakan hasil pemodelan, bukan pengukuran langsung di lapangan.
Jika asap karhutla mencapai permukaan dan terbawa ke wilayah perkotaan, partikel serta gas di dalamnya dapat menambah polusi udara yang sudah ada. Sebagian zat pencemar juga dapat bereaksi di atmosfer. Misalnya, VOC dari asap dan nitrogen oksida dari kendaraan dapat ikut berperan dalam pembentukan ozon di permukaan tanah ketika kondisi udara mendukung. Namun, besarnya dampak ini berbeda-beda tergantung kondisi setempat.
Campuran asap karhutla dan polusi perkotaan tidak selalu menimbulkan efek yang sama. Cuaca, arah angin, intensitas sinar matahari, ketinggian lapisan asap, dan tingkat polusi yang sudah ada sebelumnya turut memengaruhi kualitas udara. Sejauh ini, penelitian menunjukkan dampak asap karhutla terhadap kesehatan pernapasan cukup konsisten. Sementara itu, apakah risiko kesehatan berbeda menurut sumber PM2.5 masih menjadi topik yang terus diteliti.
Dampaknya bisa terasa di mata, tenggorokan, hingga paru

Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal) Paparan asap dapat menyebabkan mata perih, tenggorokan terasa gatal, batuk, hidung berair, mengi, sesak, atau sakit kepala.
Pada orang dengan asma dan penyakit paru lain, asap bisa memperburuk gejala. Paparan juga dapat memicu atau memperburuk masalah kardiovaskular, meski bukti khusus tentang dampak jantung akibat asap kebakaran masih berkembang.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru perlu lebih waspada. Anak-anak dapat lebih rentan karena paru-parunya masih berkembang dan mereka menghirup lebih banyak udara dibanding orang dewasa jika dihitung berdasarkan berat badan.
Paparan singkat tidak berarti setiap orang pasti sakit. Namun, tingkat risiko dipengaruhi oleh kadar polutan, lamanya paparan, dan kondisi kesehatan masing-masing. Jika mengalami sesak napas yang memburuk, nyeri dada, atau gejala yang terasa berat atau memburuk, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Cara mengurangi paparan saat udara memburuk
Periksa informasi PM2.5 dan ISPU dari BMKG atau instansi lingkungan setempat. Data sebaran asap dari satelit dan pengukuran udara di permukaan menjelaskan hal yang berbeda; keduanya berguna.
BMKG menyediakan pemantauan PM2.5 dan prediksi sebaran partikulat asap karhutla.
- Kurangi waktu di luar dan tunda olahraga berat
Ketika kualitas udara memburuk, batasi aktivitas luar ruang, terutama bagi anak-anak dan orang dengan penyakit jantung atau paru.
Jika harus beraktivitas outdoor, gunakan respirator N95 yang pas menutup hidung dan mulut. Masker yang longgar mengurangi manfaat perlindungannya.
- Jaga udara dalam rumah
Tutup pintu dan jendela saat udara di luar berasap. Jika AC atau sistem ventilasi memiliki saluran pemasukan udara dari luar, tutup saluran itu atau gunakan mode sirkulasi ulang.
Penyaring udara portabel berfilter HEPA dapat membantu menangkap partikel asap. Pastikan kapasitasnya sesuai ukuran ruangan dan alatnya tidak menghasilkan ozon.
- Kurangi polusi yang dibuat di dalam rumah
Hindari merokok, membakar dupa atau lilin, dan memasak dengan panas tinggi atau dalam waktu lama saat asap sedang pekat. Jika rumah terasa terlalu panas, listrik padam, atau asap sulit dikurangi, cari tempat yang lebih sejuk dan memiliki penyaringan udara.
Referensi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, “BMKG: Asap Sempat Terpantau Sesaat di Jabodetabek, Kini Sudah Menjauh,” diakses 20 Oktober 2026.
Luciana V. Rizzo and Maria Cândida F. V. Rizzo, “Wildfire Smoke and Health Impacts: A Narrative Review,” Jornal de Pediatria 101, suppl. 1 (2025): S56–S64, https://doi.org/10.1016/j.jped.2024.11.006.
Puji Lestari, Maulana Khafid Arrohman, Seny Damayanti, and Zbigniew Klimont, “Emissions and Spatial Distribution of Air Pollutants from Anthropogenic Sources in Jakarta,” Atmospheric Pollution Research 13, no. 9 (2022): 101521, https://doi.org/10.1016/j.apr.2022.101521.
Pamela S. Rickly et al., “Influence of Wildfire on Urban Ozone: An Observationally Constrained Box Modeling Study at a Site in the Colorado Front Range,” Environmental Science & Technology 57, no. 3 (2023): 1257–67, https://doi.org/10.1021/acs.est.2c06157.
Colleen E. Reid and Sheryl Magzamen, “Assessing the Evidence for Differential Health Effects of Wildfire Smoke across Fires and Populations: A Critical Review of Recent Studies,” Current Environmental Health Reports 13 (2026): article 28, https://doi.org/10.1007/s40572-026-00548-4.
U.S. Environmental Protection Agency, “Wildland Fires and Public Health Effects,” diakses 20 Oktober 2026.
U.S. Environmental Protection Agency, “Who Is at Increased Risk of Health Effects from Wildfire Smoke Exposure?” diakses 20 Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Safety Guidelines: Wildfires and Wildfire Smoke,” diakses 20 Oktober 2026.
U.S. Environmental Protection Agency, “Reduce Your Smoke Exposure,” diakses 20 Oktober 2026.









![[QUIZ] Dari Playlist Harian, Kami Bisa Tebak Cara Kamu Menghadapi Stres](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)









![[QUIZ] Dari Playlist Lari Kamu, Kami Tebak Tipe Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)

