Griya batik Yogyakarta. (IDN Times/Aryodamar)
Lokasi pertama berjarak sekitar 1,3 Kilometer dari Keraton Yogyakarta berdiri sebuah rumah yang dulunya tampak tidak terurus dengan luas tanah sekitar 2.057 meter persegi. Posisinya berada di tepi jalan Patehan Lor yang berukuran kecil.
Pintu kayu di tengahnya penuh coretan vandalisme, di dalamnya rumput dan pohon tumbuh menjulang tinggi tak terawat. Gambaran itu terekam dalam citra satelit Google maps selama bertahun-tahun.
Akhirnya, tanah dan bangunan tak terurus itu punya kehidupan kedua setelah dihibahkan KPK kepada Pemprov DIY.
Setelah mendapatkan hibah, Pemprov DIY merehabilitasi aset senilai Rp15 miliar itu secara perlahan. Pemda mengubahnya menjadi Griya Batik Yogyakarta dan diresmikan pada 24 Mei 2025.
Coretan yang semula mengotori aset itu sudah bersih. Begitu pula rumput yang tinggi, sudah tak ada lagi.
Di dalamnya kini tersimpan sejumlah kain batik dengan berbagai motif dan arti. Tak hanya itu, di bagian belakang rumah tersedia tempat belajar membatik menggunakan malam.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Anton Raharja, mengatakan Griya Batik tersebut memang belum masuk kriteria sebagai museum. Namun, tempat itu diharapkan bisa menjadi wadah masyarakat belajar batik di kota batik.
"Kalau misalnya ada anak-anak sekolah, mengetahui proses batik yang benar itu seperti apa. Jadi, kalau keluar dari sini bisa membedakan mana batik yang benar, mana yang cuma kain motif batik, termasuk untuk praktiknya biar enggak salah pakai," ujarnya saat ditemui di lokasi pada Selasa (13/10/2026).