Jakarta, IDN Times - Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul peningkatan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence pada pemantauan terbaru. Selain operasi pemadaman dan pembasahan, perlindungan satwa liar serta habitatnya juga menjadi bagian penting dari penanganan dampak karhutla. Hingga 29 September 2026, 254 individu satwa tercatat dalam keseluruhan penanganan dampak bencana alam sepanjang tahun 2026.
Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Selasa (29/9) pukul 21.10 WIB, secara nasional terdeteksi 893 hotspot high confidence, meningkat dibandingkan pemantauan Senin (28/9) yang mencatat 365 titik. Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, pemantauan menunjukkan:
• Sumatera Selatan: 266 titik, dari sebelumnya 96 titik;
• Kalimantan Tengah: 132 titik, dari 37 titik;
• Jambi: 75 titik, dari 25 titik;
• Kalimantan Barat: 30 titik, dari nihil;
• Kalimantan Selatan: 28 titik, dari 4 titik; dan
• Riau: nihil hotspot high confidence, tetap nihil dibandingkan sehari sebelumnya.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian terutama di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah, yang mencatat jumlah hotspot terbesar di antara enam provinsi prioritas. Tim di lapangan terus melakukan groundcheck untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan respons yang diperlukan.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot bukan merupakan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.
