ilustrasi amalan membaca al quran (pexels.com/Michael Burrows)
Tak lama kemudian, kemarahan kaum Quraisy memuncak. Mereka bangkit dan mendatangi Abdullah bin Mas’ud. Ia pun dipukul hingga wajahnya terluka. Namun, di tengah serangan itu, Abdullah bin Mas’ud tetap melanjutkan bacaannya sampai ayat tertentu dari surah tersebut.
Setelah merasa cukup, barulah Abdullah bin Mas’ud kembali menemui para sahabat dengan kondisi wajah penuh luka. Melihat kondisi itu, para sahabat berkata, “Inilah yang kami khawatirkan atas dirimu.”
Namun, jawaban Abdullah bin Mas’ud justru menunjukkan keteguhan hatinya. Ia menyebut musuh-musuh Allah itu tidak lebih hina dalam pandangannya dari sebelumnya. Bahkan, ia menawarkan diri untuk mengulanginya keesokan hari.
Para sahabat akhirnya melarangnya. Mereka menilai apa yang telah dilakukan Abdullah bin Mas’ud sudah cukup: Al-Qur’an telah diperdengarkan kepada mereka, meski dengan risiko besar.
Kisah Abdullah bin Mas’ud menjadi bukti dakwah Islam pada masa awal tidaklah mudah. Keberanian Abdullah bin Mas’ud bukan hanya soal menghadapi ancaman fisik, tetapi juga tentang menyampaikan kebenaran di tengah tekanan sosial dan kekuasaan.
Dari peristiwa tersebut, umat Islam belajar menjaga dan menyampaikan Al-Qur’an adalah amanah besar, yang pada masa awalnya diperjuangkan dengan pengorbanan luar biasa. Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya.