Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
KPAI: Quality Control MBG 3B Harus Ketat, 1.000 HPK Tak Bisa Diulang
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra (Dok/Istimewa)

  • KPAI mendesak pengawasan kualitas MBG bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita diperketat karena periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan sangat krusial dan tidak dapat diulang.
  • Kontrol kualitas diminta mencakup seluruh rantai pasok, dari perencanaan menu, bahan, pengolahan, higiene, distribusi, hingga makanan dikonsumsi aman dalam kondisi tepat.
  • KPAI menekankan nutrisi MBG harus disesuaikan kebutuhan biologis tiap kelompok, sementara keberhasilan program diukur dari keamanan, ketepatan gizi, dan dampaknya pada tumbuh kembang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
24 September 2026

KPAI menggelar FGD Penguatan Pengawasan KPAI terhadap MBG 3B. Forum tersebut dihadiri kementerian/lembaga, pemerintah daerah, mitra KPAI, serta Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN Mariman Darto.

29/9/2026

Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menyampaikan bahwa pengelolaan MBG 3B tidak cukup hanya mengukur jumlah makanan yang diproduksi dan disalurkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    KPAI meminta quality control Program Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita diperketat.
  • Who?
    Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menyampaikan permintaan tersebut.
  • Where?
    Penguatan pengawasan dibahas dalam FGD Penguatan Pengawasan KPAI terhadap MBG 3B.
  • When?
    FGD digelar pada 24 September 2026, sementara keterangan Jasra disampaikan pada Senin (29/9/2026).
  • Why?
    Kelompok 3B berada dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan yang tidak bisa diulang dan memiliki kebutuhan gizi berbeda.
  • How?
    Quality control diterapkan dari perencanaan menu, pemilihan bahan, pengolahan, higiene sanitasi, distribusi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

KPAI meminta makanan gratis untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita diperiksa dengan lebih teliti. Jasra Putra bilang makanan harus aman dan gizinya sesuai kebutuhan setiap kelompok. Pemeriksaan dilakukan dari memilih bahan sampai makanan dimakan. Sekarang, KPAI ingin keberhasilan MBG dilihat dari manfaatnya, bukan hanya jumlah porsi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penguatan quality control MBG 3B menunjukkan perhatian terhadap keamanan dan kesesuaian gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Pemeriksaan yang mencakup seluruh rantai penyelenggaraan juga membuka ruang agar makanan tidak hanya tersedia, tetapi sesuai kebutuhan penerima manfaat dan mendukung kesehatan serta tumbuh kembang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pemerintah memperketat kontrol kualitas (quality control) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B). Pengawasan ketat dinilai krusial karena kelompok sasaran ini berada dalam masa emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang tak dapat terulang.

Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menegaskan, pengelolaan program MBG 3B tidak boleh berpatokan sekadar pada jumlah makanan yang diproduksi dan disalurkan.

"Untuk kelompok 3B, kita bicara tentang periode 1.000 hari pertama kehidupan. Ini adalah masa yang sangat krusial dan tidak bisa diulang. Waktu terus berjalan. Karena itu setiap pemberian makanan harus dikelola dengan baik, karena kesempatan untuk memperbaiki kesalahan pada periode ini tidak sama dengan memperbaiki persoalan di kemudian hari,” ujar Jasra Putra dalam keterangan resminya, Senin (29/9/2026).

1. Quality control ketat dari hulu ke hilir

Ilustrasi MBG. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Pernyataan tegas KPAI disampaikan pasca-FGD Penguatan Pengawasan KPAI terhadap MBG 3B pada 24 September 2026. Forum tersebut dihadiri perwakilan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, mitra KPAI, serta Deputi Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN) Mariman Darto.

KPAI mendorong quality control diterapkan menyeluruh di sepanjang rantai pasok. Mulai dari perencanaan menu, pemilihan bahan pangan, pengolahan, higiene sanitasi, proses distribusi, hingga makanan benar-benar dikonsumsi penerima manfaat.

“Quality control tidak boleh hanya berarti makanan sudah dimasak dan kemudian dibagikan. Kita harus memastikan makanan itu aman, kualitasnya terjaga, sesuai kebutuhan penerima manfaat dan dikonsumsi dalam kondisi yang tepat,” kata Jasra.

2. Kebutuhan gizi kelompok 3B berbeda-beda

Ilustrasi pembagian MBG di sekolah. (Dok. IDN Times)

KPAI mengingatkan bahwa pemenuhan nutrisi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tidak bisa disarataratakan. Ibu hamil memerlukan asupan ekstra energi, protein, dan zat gizi mikro. Sementara itu, ibu menyusui butuh lonjakan energi dan cairan untuk menunjang produksi ASI.

“Bumil dan busui mempunyai kebutuhan gizi tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan perempuan pada umumnya. Karena itu pemberian MBG harus memperhatikan kebutuhan biologis masing-masing kelompok,” ungkap tim Pokja KPAI.

3. Keberhasilan bukan diukur dari jumlah porsi

Relawan Posyandu di Magetan tengah mengukur lingkar kepala balita. (IDN Times/Riyanto)

Jasra meminta tolok ukur keberhasilan MBG 3B diubah total. Keberhasilan tidak boleh dihitung sekadar dari tumpukan porsi makanan yang dibagikan, melainkan dari keamanan pangan, ketepatan nutrisi, serta dampak nyata bagi tumbuh kembang anak.

“Jangan hanya bertanya berapa porsi yang dibagikan. Kita harus bertanya apakah ibu hamil mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan, apakah ibu menyusui mendapatkan dukungan gizi yang tepat, apakah balita mendapatkan makanan sesuai usia dan tahap tumbuh kembangnya, serta apakah semua itu aman,” beber Jasra.

Curated For You

Editorial Team

Related Article