Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kritik Pedas Pemerintah soal Karhutla, Relawan: Tiap Bencana, Warga Lagi Patungan

3 min read
Kritik Pedas Pemerintah soal Karhutla, Relawan: Tiap Bencana, Warga Lagi Patungan
Ananda Zulkarnain, saling jaga warga, tugu tani
  • Relawan menghadapi api yang kembali menyala, asap pekat, serta kelelahan fisik dan mental selama menangani karhutla di Kalimantan.

  • Situasi darurat juga muncul saat relawan menangani kondisi medis, sementara langit berubah oranye dan hawa panas terasa.

  • Saling Jaga Warga membawa bantuan sekaligus mengkritik mitigasi pemerintah yang dinilai belum memadai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Di tengah aksi evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka di Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026), Ananda Zulkarnain membawa cerita dari Kalimantan. Selama tiga bulan terakhir, dia terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bersama Saling Jaga Warga.

Di tengah agenda tersebut, Ananda menceritakan perjuangan relawan menghadapi api yang terus menyala, asap yang menyesakkan, hingga kelelahan fisik dan mental. Menurut dia, penanganan karhutla tidak semudah yang terlihat di layar kaca.

“Padahal gak gampang untuk memadamkan api di gambut, enggak gampang, itu bawahnya bisa ada bara dan segala macam, belum tantangan kita membuka lahan, belum tantangan kita masuk ke dalam hutan," kata dia saat ditemui di tengah aksi di Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).

  1. 1. Api kembali menyala saat relawan sedang beristirahat

    Ananda Zulkarnain dari Saling Jaga Warga saat ikut aksi di Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)
    Ananda Zulkarnain dari Saling Jaga Warga saat ikut aksi di Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

    Ada satu malam yang masih membekas bagi Ananda. Setelah berjibaku memadamkan api, para relawan akhirnya beristirahat dan menyantap makanan di tengah hutan. Namun, waktu istirahat itu tak berlangsung lama. Api kembali menyala. Makanan yang baru mereka santap terpaksa ditinggalkan. Mereka bergegas kembali menuju titik api untuk melakukan pemadaman.

    “Itu kayak, "Ya Allah, kok gini banget?" Tuh, se-seberat itu pertama kali, bahkan belum selesai, kita tinggal semua itu makanan, kita lari ke api lagi," kata Ananda.

    Pengalaman tersebut menggambarkan tantangan pemadaman karhutla di lapangan. Api yang terlihat padam belum tentu benar-benar selesai, terutama ketika bara masih tersimpan di bawah permukaan gambut.

    Bagi relawan, waktu istirahat menjadi tidak menentu. Tubuh yang lelah harus kembali bergerak ketika api muncul lagi.

  2. 2. Langit mendadak oranye saat relawan menangani kondisi medis

    Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang
    Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Selain menghadapi kebakaran, tim juga berhadapan dengan kondisi kesehatan relawan. Ananda menceritakan momen ketika mereka memberikan penanganan medis kepada seorang relawan pemadam kebakaran.

    Saat itu, langit tiba-tiba berubah warna menjadi oranye dan hawa panas terasa. Situasi tersebut membuat orang-orang di lokasi panik.

    “Ada satu momen di mana kita lagi penanganan medis ke relawan Damkar, kita infusinin vitamin dan segala macam, langitnya itu tiba-tiba berubah jadi oren (oranye). Kayak misalnya langit kayak gini nih, terus tiba-tiba jadi oren gitu, wah, hawa panas keluar. Panik semua. Itu yang terjadi di sana," ujarnya.

    Dampak karhutla juga dirasakan warga melalui asap yang mengganggu pernapasan. Ananda mengaku kesulitan menahan asap ketika berada di Kalimantan, meski sebelumnya merasa kondisi fisiknya baik-baik saja.

    Pengalaman itu memperlihatkan bahwa penanganan karhutla bukan hanya soal memadamkan api, melainkan juga menghadapi risiko kesehatan dan tekanan psikologis.

  3. 3. Saling Jaga Warga kritik pemerintah soal mitigasi bencana

    0e3e9ef3-b230-4d23-8264-d529f4e3bae0.jpeg
    Kementerian Kehutanan segel lahan terbakar karhutla. (IDN Times/istimewa).

    Saling Jaga Warga merupakan inisiatif warga untuk warga yang menjadi wadah solidaritas dan gerakan bersama. Dalam penanganan karhutla, Ananda menyebut mereka datang membawa bantuan atas nama warga yang merasakan langsung dampak kebakaran.

    Saat ditemui di Tugu Tani, Ananda mengatakan tim mereka membawa satu ambulans yang disiagakan dan satu mobil logistik untuk membagikan bantuan kepada mahasiswa yang berada di lokasi aksi.

    Di tengah keterlibatan warga, Ananda juga melontarkan kritik terhadap pemerintah yang dinilainya belum menunjukkan mitigasi memadai. Dia mempertanyakan respons negara ketika masyarakat kembali harus menggalang bantuan secara mandiri setiap kali bencana terjadi.

    “Warga lu nih, balik lagi tiap ada bencana warga lagi, warga lagi yang patungan. Kita saling jaga, bukan bikin mereka leha-leha. Kita saling jaga, ya biar sampai negara benar-benar menjaga. Itu sih," katanya.

    Bagi Ananda, solidaritas warga bukan berarti pemerintah bisa melepaskan tanggung jawabnya. Justru, gerakan warga menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap masyarakat seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More