Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
KSAD Maruli Bantah Isu 3 ASN yang Ditembak KKB Merupakan Intel TNI
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak ketika membuka akses Jembatan Gantung Garuda di Genting Kalianak, Surabaya. (Dok. TNI AD)
  • KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak membantah klaim TPNPB-OPM bahwa tiga ASN Jayawijaya yang ditembak merupakan intel TNI, menegaskan mereka adalah pekerja sipil, termasuk dari NTT.
  • Maruli menyampaikan duka atas kematian Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Mehan, dan Wili Mbuik, serta berjanji mengevaluasi pola pengamanan dan penempatan pasukan demi keselamatan warga sipil Papua.
  • TPNPB-OPM mengakui penembakan di Jalan Trans Wamena-Tiom, menyatakan korban ditembak setelah melarikan diri karena dikhawatirkan melaporkan keberadaan pasukan mereka di Distrik Muliama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tiga pegawai pemerintah di Jayawijaya ditembak mati oleh OPM. Mereka bernama Aprida, Alfonsius, dan Wili. OPM bilang mereka takut ketiganya memberi tahu tempat pasukan OPM. Jenderal Maruli berkata mereka bukan mata-mata tentara, tetapi pekerja biasa. TNI sekarang mau memperbaiki penjagaan supaya warga sipil di Papua lebih aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak membantah isu yang diembuskan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) bahwa tiga ASN yang ditembak pada Rabu lalu, 9 September 2026, merupakan intel militer. Menurut Maruli, isu warga sipil direkrut menjadi intel tentara merupakan narasi yang dibuat-buat.

"Ya, itu alasan-alasan yang dibuat-buat mereka aja bahwa mereka direkrut jadi intel tentara. Mereka itu kan memang pekerja, ada yang sebagian berasal dari NTT," ungkap Maruli ketika menjawab pertanyaan IDN Times, Jumat (11/9/2026) di Balai Kartini, Jakarta Pusat.

Identitas ketiga ASN yang ditembak OPM pada Rabu lalu yakni Aprida Rapi (Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya), Alfonsius Albinus Mehan (dokter hewan di lingkungan Pemkab Jayawijaya) dan Wili Mbuik (ASN di Dinas Pertanian Jayawijaya). Kisah Wili yang baru lolos CPNS kini menjadi sorotan publik di media sosial.

Di akun media sosialnya, Wili membagikan kisahnya pada 24 Juli 2026 saat menghubungi ayahnya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Wili mengaku sudah dua bulan menjadi PNS dan ditempatkan di Papua.

Maruli mengatakan perempuan yang baru berusia 24 tahun itu ditugaskan di Papua untuk membantu perekonomian keluarganya. Sehingga, isu direkrut jadi intel tentara merupakan hal yang dibuat-buat.

1. Isu warga sipil dijadikan intel tentara sudah lama diembuskan OPM

Nona Wili Mbuik salah satu korban penembakan KKB yang bertugas di Pemkab Jayawijaya Papua Pegunungan. (Dok Istimewa)

Lebih lanjut, mantan Pangkostrad itu mengatakan, isu perekrutan warga sipil menjadi intel tentara merupakan isu lama dan terus diulang OPM.

"Memang manusia-manusia itu ya begitu. Dia selalu mencari alasan dan isu untuk disebarluaskan ke publik. Dulu disebut pelanggaran HAM sekarang orang sipil di situ dianggap intel. Itu berulang-ulang seperti itu bicaranya," tutur Maruli.

Maruli juga menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya tiga ASN di Kabupaten Jayawijaya. Dalam pandangannya, OPM mulai terlihat resah lantaran posisinya semakin terpojok.

"Kami ikut berduka cita ada serangan berulang kepada warga sipil. Kalau dalam penglihatan saya, mereka memang sudah kelihatan resah karena mereka betul-betul kami kejar," katanya.

Sebagai bukti, kata Maruli, anggota OPM mulai sembarangan mencari korban. Mereka kini tak selalu menyasar aparat keamanan. Jenderal bintang empat itu pun menjanjikan akan ada evaluasi agar warga sipil di Bumi Cendrawasih bisa tetap aman.

2. KSAD akan evaluasi penempatan prajurit TNI di Papua

Ilustrasi peta Papua. (IDN Times/Sukma Shakti)

Maruli juga mengatakan akan melakukan evaluasi soal pola pengamanan di Papua. Sebab, warga sipil sudah kerap kali menjadi korban kekejaman OPM.

"Dengan segala macam yang terjadi, kami akan terus mengamankan agar warga sipil di sana bisa tetap aman, karena peristiwa ini sudah berulang. Pasukan juga sudah mulai ditempatkan di tempat-tempat yang sudah kami antisipasi," tutur dia.

Sebelumnya, warga sipil lainnya yang juga dibunuh OPM adalah pilot pesawat perintis dan berkewarganegaraan Amerika Serikat (AS), Nicholas F. Gosselin. Padahal, Gosselin sudah bekerja menjadi pilot selama tiga tahun di PT AMA. Sehari-hari ia hanya mengantarkan penumpang sipil dan logistik bagi warga Papua.

3. OPM sengaja menembak mati karena bila selamat dikhawatirkan melapor

Juru bicara TPNPB OPM Sebby Sambom. (Dok TPNPB OPM)

Sementara, lewat keterangan tertulis, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, membenarkan pembunuhan tiga ASN di dinas pertanian merupakan ulah mereka. Sebby menyebut penembakan tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Batalyon Albu, Mayor Ebaroak Gwijangge. Selain itu, ada pula keterlibatan kompi 1 Kasie dan Albu Apldo Nirigi sebagai komandan operasinya.

Menurut keterangan Sebby, ketika operasi berlangsung, anggota OPM sudah menahan mobil yang dikemudikan para korban di Jalan Trans Wamena-Tiom. Bahkan, anggota OPM melakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan dan meminta seluruh penumpang untuk tetap di mobil dan tenang.

"Tetapi, karena panik dan kaget, ketiga korban akhirnya melarikan diri. Maka, kami tembak mati. Sebab, jika selamat maka mereka akan membocorkan informasi itu kepada aparat militer Indonesia soal keberadaan pasukan TPNPB di Distrik Muliama, pusat Kota Wamena," kata Sebby pada hari ini.

Ia pun tidak merasa bersalah lantaran sudah mengimbau kepada semua pihak agar tidak melanggar ultimatum yang disampaikan OPM. Salah satu ultimatumnya yaitu seluruh orang Papua, dan non Papua yang menjabat sebagai kepala desa, ASN, dan pejabat-pejabat Papua, akan ditembak mati.

"Sebab, itu berarti menjadi bagian dari agen Pemerintah Indonesia yang memperpanjangkan penjajahan di atas Tanah Papua," tutur dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article