Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Legislator: Perlu Lebih Jernih dan Seimbang Membaca Tekanan Ekonomi RI
Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Hambalang, Kabupaten Bogor, Sabtu malam, 2 Mei 2026. (Instagram/@presidenrepublikindonesia)
  • Azis Subekti menilai Indonesia perlu membaca kondisi ekonomi secara jernih karena situasi saat ini kompleks, tidak bisa disederhanakan hanya sebagai baik atau buruk.
  • Ia menjelaskan tekanan ekonomi dipengaruhi faktor global seperti ketegangan geopolitik dan suku bunga tinggi, meski fondasi ekonomi nasional masih kuat dan stabil.
  • Azis mengingatkan pentingnya memperkuat produktivitas serta institusi nasional agar Indonesia mampu mengubah tekanan ekonomi menjadi momentum menuju kemajuan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Anggota DPR RI, Azis Subekti menilai Indonesia perlu membangun cara pandang yang lebih jernih dalam membaca kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, situasi ekonomi saat ini tidak dapat disederhanakan menjadi sekadar baik atau buruk.

Ia mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik kerap terbelah dalam dua cara pandang ekstrem. Sebagian pihak menilai pelemahan rupiah dan koreksi pasar saham sebagai tanda Indonesia menuju krisis. Sebaliknya, sebagian pihak lain melihat pertumbuhan ekonomi dan indikator makro yang relatif baik sebagai tanda bahwa tidak ada masalah serius. Menurut Azis, kedua pandangan tersebut sama-sama tidak utuh.

“Indonesia tidak sedang baik-baik saja dalam arti tanpa tantangan. Tetapi Indonesia juga tidak sedang menuju kehancuran. Yang kita hadapi adalah situasi kompleks yang membutuhkan pembacaan jernih,” ujar Azis dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).

1. Tekanan ekonomi dipengaruhi perubahan besar dalam ekonomi global

Anggota Komisi II DPR Fraksi Gerindra sekaligus Anggota Pansus Penyelesaian Konflik Agraria DPR, Azis Subekti (dok. Istimewa)

Ia menjelaskan, Indonesia masih memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di sekitar lima persen, inflasi relatif terkendali, defisit fiskal masih dalam koridor aman, cadangan devisa kuat, neraca perdagangan mencatat surplus, dan status investment grade tetap terjaga.

Namun, Azis juga mengingatkan, tekanan ekonomi tetap nyata. Rupiah menghadapi tekanan, IHSG mengalami koreksi, sebagian sektor usaha melambat, konsumsi kelas menengah lebih hati-hati, biaya logistik masih tinggi, dan produktivitas nasional perlu diperkuat.

Azis menilai, tekanan tersebut juga dipengaruhi perubahan besar dalam ekonomi global. Ketegangan geopolitik, perlambatan perdagangan dunia, ketidakpastian harga energi, suku bunga global yang tinggi, serta pergerakan modal internasional turut memengaruhi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia juga menekankan pentingnya membaca pasar keuangan secara lebih utuh. Menurutnya, keluarnya dana asing dari sebagian saham Indonesia tidak otomatis berarti investor kehilangan kepercayaan. Pada saat yang sama, investor global masih membeli Surat Berharga Negara dan instrumen pendapatan tetap Indonesia.

“Jika investor benar-benar melihat Indonesia sedang menuju masalah besar, mereka tidak hanya menjual saham. Mereka juga akan meninggalkan obligasi. Tetapi yang terjadi tidak sesederhana itu,” kata Azis.

2. Memori krisis 1998 masih memengaruhi cara masyarakat membaca tekanan ekonomi

Ilustrasi uang rupiah dan dampak ekonomi. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Lebih jauh, Azis menilai memori krisis 1998 masih memengaruhi cara masyarakat membaca tekanan ekonomi. Namun, ia mengingatkan, Indonesia saat ini telah banyak berubah dibanding masa krisis tersebut. Menurutnya, struktur ekonomi, sistem perbankan, cadangan devisa, kapasitas fiskal, dan daya tahan institusi nasional saat ini jauh lebih kuat.

Azis mengajak Indonesia menjadikan tekanan ekonomi sebagai momentum memperbaiki produktivitas, memperkuat pendidikan, meningkatkan kualitas institusi, memperbaiki tata kelola, dan mempercepat transformasi ekonomi. Ia menilai, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi bangsa maju, mulai dari sumber daya alam, pasar domestik yang besar, bonus demografi, hingga posisi geopolitik yang strategis.

“Pertanyaan terpenting bukan apakah ekonomi Indonesia sedang baik atau buruk. Pertanyaannya adalah apa yang akan dilakukan Indonesia terhadap tekanan yang sedang dihadapinya,” ujar Azis.

3. Masa depan tak cuma ditentukan pergerakan rupiah, IHSG, angka pertumbuhan ekonomi jangka pendek

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Azis menegaskan, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pergerakan rupiah, IHSG, atau angka pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Masa depan bangsa, menurutnya, akan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan Indonesia membaca tantangan dan mengubahnya menjadi energi untuk melompat lebih tinggi.

Editorial Team

Related Article